Empat Skenario Tekanan Rupiah Akibat Perang AS-Israel vs Iran

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS – Eskalasi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat atau AS bersama Israel dengan Iran berisiko memicu ketidakpastian global. Selain mengganggu rantai pasok perdagangan, dampak dari konflik tersebut juga merambat lewat pasar keuangan. Dampak ini secara tidak langsung akan merambat ke perekonomian Indonesia.

Ekonom Global Markets Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, berpendapat, ketegangan geopolitik antara AS-Israel dengan Iran yang disusul dengan penutupan Selat Hormuz akan berdampak bagi perekonomian global dan berisiko merambat ke perekonomian Indonesia.

Selat Hormuz merupakan jalur atas 26 persen perdagangan minyak mentah dan 20 persen perdagangan LNG global. total nilai perdagangannya mencapai sekitar 600 miliar dolar AS per tahun. Artinya, penutupan jalur tersebut secara langsung akan memutus sebagian pasokan energi ke pasar global.

“Dalam situasi seperti itu, premi risiko geopolitik langsung tertanam dalam setiap barel minyak, dan Indonesia, sebagai negara pengimpor minyak dengan pengeluaran subsidi energi sebesar Rp 210,06 triliun pada 2026, menghadapi konsekuensi yang signifikan,” katanya saat dihubungi dari Jakarta, Senin (3/2/2026).

Ia memperkirakan, skenario penutupan Selat Hormuz, mulai dari jangka pendek hingga jangka panjang akan menimbulkan risiko beragam. Risiko ini antara lain terkait dengan fluktuasi nilai tukar rupiah akibat ketidakpastian global.

Skenario pertama, penutupan Selat Hormuz selama sebulan. Rupiah akan tetap relatif stabil di kisaran Rp 16.400-16.870 per dolar AS dan bahkan berpotensi sedikit menguat. Dengan demikian, Bank Indonesia (BI) masih memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga acuan ke level 4,25 persen untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.

Skenario kedua, penutupan Selat Hormuz berlangsung selama tiga bulan akan mengubah persepsi pasar. Kondisi ini akan memicu pergeseran modal asing ke kelas aset aman alias safe haven, sehingga rupiah berisiko melemah ke level Rp 17.300 per dolar AS.

Skenario terburuk, yakni Selat Hormuz ditutup selama 9 bulan hingga akhir 2026. Rupiah akan melemah secara signifikan mencapai Rp 18.300 per dolar AS. Inflasi akan melampaui 6 persen seiring dengan penyesuaian harga BBM bersubsidi sebesar 30 persen akibat lonjakan harga minyak global.

Di tengah upaya pemerintah menjaga defisit fiskal maksimal 3 persen terhadap produk domestik bruto nasional, kondisi tersebut juga akan mendorong kenaikan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi hingga 10 persen seiring lonjakan harga minyak global. Akibatnya, inflasi akan meningkat hingga 4 persen pada 2026.

Tekanan rupiah dan inflasi akan mendorong BI untuk menaikkan suku bunga acuannya 25 basis poin (bps) menjadi sebesar 5 persen. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi melambat menjadi 5 persen pada 2026 atau di bawah target pemerintah sebesar 5,4 persen.

Skenario ketiga, penutupan Selat Hormuz selama 6 bulan akan membawa depresiasi rupiah semakin dalam ke level Rp 17.800 per dolar AS. Di sisi lain, kondisi tersebut turut memicu lonjakan harga minyak mentah Indonesia (ICP) sebesar 20 persen menjadi 84 dolar AS per barel.

Dalam skenario ini, pemerintah akan kembali menyesuaikan harga BBM bersubsidi guna menjaga defisit fiskal. Inflasi akan ikut melonjak hingga 5 persen dan BI secara agresif akan menaikkan suku bunga acuannya sebesar 100 bps menjadi 5,75 persen. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi 2026 berisiko melambat menjadi 4,7 persen.

Baca JugaSelat Hormuz Ditutup, Harga Minyak Naik, Armada Tanker Hentikan Operasi

Skenario keempat atau terburuk, Selat Hormuz ditutup selama 9 bulan hingga akhir 2026. Rupiah akan melemah secara signifikan mencapai Rp 18.300 per dolar AS. Inflasi akan melampaui 6 persen seiring dengan penyesuaian harga BBM bersubsidi sebesar 30 persen akibat lonjakan harga minyak global.

Dalam skenario ini, BI terpaksa akan menaikkan suku bunga acuannya hingga 150 bps menjadi 6,25 persen untuk menjaga stabilitas moneter di tengah tekanan eksternal. Kondisi ini akan mengakibatkan perekonomian Indonesia pada 2026 hanya akan tumbuh 4,5 persen.

“Skenario terburuk penutupan Selat Hormuz selama 6-9 bulan akan menguji ketahanan sistem, tetapi dengan koordinasi yang erat dan pelaksanaan kebijakan yang cepat, Indonesia dapat meminimalkan dampak dan mempertahankan kepercayaan pasar,” ujar Myrdal.

Sebagai antisipasi, ia melanjutkan, BI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) harus menjaga stabilitas sistem moneter dan keuangan. Kedua lembaga juga perlu memastikan agar likuiditas terus mengalir ke sektor riil.

Di sisi lain, lembaga keuangan, seperti perbankan, harus mengelola risiko secara ketat dan adaptif dalam memanfaatkan likuiditas yang tersedia, seperti dari skema kredit pemilikan rumah (KPR) bersubsidi, Kredit Usaha Rakyat (KUR), serta kebijakan insentif likuiditas makroprudensial BI.

Bank Indonesia akan terus mencermati pergerakan pasar secara saksama dan merespons secara tepat, termasuk memastikan nilai tukar rupiah bergerak sesuai dengan fundamentalnya.

Sementara itu, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas (DPMA) BI, Erwin Gunawan Hutapea, menyampaikan, eskalasi konflik di Timur Tengah pasca serangan AS ke Iran mendorong sentimen risk off di pasar keuangan global. Artinya investor akan memindahkan modalnya ke instrumen investasi yang dianggap lebih aman.

“Bank Indonesia akan terus mencermati pergerakan pasar secara saksama dan merespons secara tepat, termasuk memastikan nilai tukar rupiah bergerak sesuai dengan fundamentalnya,” katanya dalam keterangan tertulis.

Mengutip data Bloomberg, pada Senin (2/3/2026) siang, nilai tukar rupiah dalam perdagangan spot bergerak di level Rp 16.851 per dolar AS. Rupiah telah terdepresiasi sebesar 0,38 persen dibanding perdagangan pada Jumat (27/2/2026) yang ditutup di level Rp 16.787 per dolar AS.

Erwin menambahkan, BI akan terus berada di pasar untuk melakukan intervensi, baik transaksi derivatif di pasar luar negeri (Non-Deliverable Forward/NDF), transaksi derivatif di pasar domestik (Domestic Non-Deliverable Forward/DNDF), maupun transaksi spot.

“BI juga akan terus mengoptimalkan kebijakan untuk meningkatkan efektivitas transmisi kebijakan suku bunga,” ujarnya.

Serial Artikel

Perang Timur Tengah Picu Lonjakan Emas dan Minyak, Rupiah Terancam Melemah

Perang mendorong investor global menghindari aset berisiko dan memburu instrumen aman, termasuk emas dan dolar AS.

Baca Artikel


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
BI Tekan Risiko terhadap Rupiah seiring Ekskalasi Konflik di Timur Tengah, Simak Strateginya
• 4 jam laluviva.co.id
thumb
Penghormatan Terakhir untuk Sang Penjaga Ideologi
• 1 jam lalutvrinews.com
thumb
Sederet Strategi Pemerintah untuk Redam Dampak Perang AS-Israel vs Iran ke Indonesia
• 21 jam lalubisnis.com
thumb
Muzani Ungkap Permintaan Try Sutrisno Sebelum Wafat: Amendemen UUD 1945
• 58 menit laludetik.com
thumb
GTSI Lakukan Penyesuaian Manajemen untuk Perkuat Sinergi Holding dan Keberlanjutan Usaha
• 38 menit lalupantau.com
Berhasil disimpan.