Apa yang Anda pelajari dari artikel ini?
- Apa dampaknya terhadap harga minyak dunia?
- Seberapa jauh tekanannya pada fiskal?
- Bagaimana dengan biaya logistik?
- Apa saja skenario dampaknya terhadap rupiah?
- Apakah penerbangan juga terdampak?
Penutupan Selat Hormuz berisiko mengguncang ekonomi global dan merambat ke Indonesia. Jalur yang mengangkut sekitar 26 persen perdagangan minyak mentah dunia itu menjadi krusial bagi pasokan energi dunia.
Harga minyak di pasar Asia pada pembukaan perdagangan Brent, London, Senin (2/3/2026), naik menjadi 80 dolar AS per barel dari harga penutupan 72,87 dolar AS per barel dalam perdagangan Jumat (27/2/2026). Terjadi kenaikan harga 13 persen.
Sejak serangan Israel yang didukung AS ke Iran pada Sabtu (28/2/2026), harga minyak terus merangkak naik. Pada awal pekan lalu, minyak mentah Brent masih dijual 71,24 dolar AS per barel.
Sementara West Texas Intermediate, minyak mentah ringan yang diproduksi di AS, dijual sekitar 72 dolar AS per barel pada Senin pagi. Harga ini, menurut data dari grup CME, naik sekitar 7,3 persen dari harga perdagangan pada Jumat, yakni 67 dolar AS per barel.
Direktur Bagian Timur Tengah dan OPEC pada lembaga analis Kpler, Amena Bakr, memperkirakan harga minyak bisa terus naik hingga 99 dolar AS per barel.
Perusahaan perkapalan besar dunia sudah mengeluarkan keterangan tentang menghentikan pelayaran melintasi Selat Hormuz. Selain itu, perairan Laut Merah kembali berbahaya setelah Houthi di Yaman menyatakan menyerang kapal-kapal terkait Amerika Serikat dan Israel.
Bagi Indonesia yang masih berstatus net importer minyak, lonjakan harga energi menjadi tantangan serius. Dalam APBN 2026, asumsi harga minyak ditetapkan 70 dolar AS per barel. Sementara itu, rata-rata harga Brent tahun berjalan telah mencapai 72 dolar AS per barel.
Berdasarkan analisis sensitivitas fiskal Bank Mandiri, setiap kenaikan 1 dolar AS harga minyak berpotensi menambah beban subsidi dan kompensasi energi di APBN sebesar Rp 10,3 triliun. Sebaliknya, tambahan penerimaan pajak dan royalti hanya sekitar Rp 3,5 triliun.
”Jika harga minyak bertahan di atas asumsi APBN, pemerintah berpotensi menaikkan harga BBM bersubsidi. Ini tentu akan berdampak pada inflasi domestik,” kata Andry.
Ia memperkirakan, setiap kenaikan harga Pertalite sebesar 10 persen dapat menambah inflasi 0,27 poin persentase (ppt). Sementara kenaikan harga solar sekitar 10 persen berpotensi menambah inflasi 0,05 ppt.
Founder dan CEO Supply Chain Indonesia (SCI), Setijadi, menjelaskan kenaikan harga minyak dunia akan mengerek harga solar domestik. Padahal, solar merupakan komponen utama biaya operasional transportasi jalan yang masih menjadi tulang punggung sistem logistik nasional.
”Dengan asumsi komponen BBM mencapai 35-40 persen dari total biaya operasi truk, kenaikan harga solar 10 persen dapat mendorong kenaikan ongkos angkut 3,5-4 persen,” ucap Setijadi dalam siaran persnya.
Jika harga solar meningkat 20 persen, ongkos truk berpotensi naik 7-8 persen. Dalam skenario lebih berat, kenaikan harga solar hingga 30 persen dapat memicu lonjakan ongkos angkut sebesar 10,5-12 persen.
Setijadi mengatakan, sensitivitas terhadap harga solar relatif tinggi karena struktur logistik Indonesia bertumpu pada transportasi jalan yang menggunakan solar.
Rata-rata biaya logistik Indonesia diperkirakan 14 persen dari harga produk. Sekitar separuhnya berasal dari transportasi jalan. Kenaikan ongkos truk 7-8 persen pun berpotensi menaikkan harga barang rata-rata 0,5 persen.
Akhirnya, risiko terbesar adalah tekanan inflasi biaya distribusi, khususnya pada komoditas pangan dan kebutuhan pokok. ”Dalam kondisi ekstrem, kenaikan ongkos angkut di atas 10 persen dapat mendorong harga barang naik mendekati 0,8 persen, terutama untuk komoditas pangan, bahan bangunan, serta produk konsumsi cepat saji yang bermargin tipis,” ujarnya.
Ekonom Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto membuat empat skenario penutupan Selat Hormuz berikut dampak tekanan rupiah dan ruang kebijakan moneter yang tersedia.
Skenario pertama, penutupan Selat Hormuz selama satu bulan, diperkirakan hanya menimbulkan tekanan terbatas. Rupiah relatif stabil di kisaran Rp 16.400–Rp 16.870 per dollar AS, bahkan berpotensi menguat tipis karena pasar melihat gangguan bersifat sementara. Dalam kondisi ini, Bank Indonesia masih memiliki ruang memangkas suku bunga acuan hingga 4,25 persen guna menopang pertumbuhan ekonomi.
Skenario kedua, jika penutupan berlangsung tiga bulan, tekanan eksternal meningkat dan memicu arus modal keluar ke aset aman. Rupiah berisiko melemah ke sekitar Rp 17.300 per dollar AS, seiring lonjakan harga minyak global dan kenaikan inflasi hingga 4 persen. Menghadapi tekanan tersebut, Bank Indonesia diperkirakan menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 5 persen untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Skenario ketiga, penutupan selama enam bulan, membawa tekanan lebih dalam dengan depresiasi rupiah ke kisaran Rp 17.800 per dollar AS dan lonjakan harga minyak mentah Indonesia sekitar 20 persen. Inflasi diperkirakan menembus 5 persen akibat penyesuaian harga BBM bersubsidi. Dalam situasi ini, Bank Indonesia diproyeksikan menaikkan suku bunga agresif hingga 100 basis poin ke level 5,75 persen demi meredam gejolak.
Skenario keempat atau terburuk, ketika Selat Hormuz ditutup hingga sembilan bulan, rupiah diperkirakan tertekan tajam hingga Rp 18.300 per dollar AS. Inflasi berpotensi melampaui 6 persen menyusul kenaikan harga BBM bersubsidi hingga 30 persen akibat lonjakan harga minyak global. Untuk menjaga stabilitas moneter dan kepercayaan pasar, Bank Indonesia kemungkinan menaikkan suku bunga hingga 150 basis poin menjadi sekitar 6,25 persen.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi dalam keterangan resmi di Jakarta, Minggu (1/3/2026), mengatakan, sejumlah penerbangan internasional yang melewati kawasan Timur Tengah telah terdampak oleh eskalasi konflik di Timur Tengah. Sebagian perjalanan dibatalkan dan dialihkan, meski ada juga yang belum terdampak.
Pembatalan penerbangan sejauh ini lebih banyak dilakukan oleh sejumlah maskapai penerbangan asing. Mereka tidak mengoperasikan penerbangan dari dan menuju semua kota di Timur Tengah sejak serangan AS dan Israel ke Iran pada Sabtu (28/2/2026).
Menurut catatan Kementerian Perhubungan, ada 10 maskapai yang telah membatalkan penerbangan atau tidak mengoperasikan penerbangan. Mereka antara lain adalah Etihad Airways, Qatar Airways, Emirates, Malaysia Airlines, Philippine Airlines, Indigo Airlines, Sri Lanka Airlines, China Southern Airlines, Singapore Airlines, dan Scoot Airlines.
Maskapai lain, seperti Saudia Airlines, masih melakukan pemantauan terhadap beberapa kota tujuan di Timur Tengah. Sementara Oman Air masih beroperasi seperti biasa. Ethiopian Airlines masih beroperasi seperti biasa, tetapi tidak mengoperasikan penerbangan ke Amman (Jordania) dan Tel Aviv (Israel).
”Kami imbau maskapai untuk tetap meningkatkan kewaspadaan dan penumpang agar secara aktif memantau perkembangan informasi,” ucap Dudy.
Ia menyatakan, Kementerian Perhubungan telah berkoordinasi dengan Airnav Indonesia, maskapai penerbangan, pengelola bandara dan otoritas asing untuk memperbarui informasi keamanan wilayah Timur Tengah serta memastikan penerbangan aman dan lancar.
Dengan adanya pembatalan dan penyesuaian penerbangan, maskapai dan pengelola bandara diminta menangani penumpang yang terdampak sesuai prosedur yang berlaku. Ini termasuk proses pembatalan dokumen perjalanan di area imigrasi, pengaturan akomodasi, dan penjadwalan ulang penerbangan.





