Menu makanan Ramadan yang disediakan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Cimahi Citeureup 3, Kota Cimahi, Jawa Barat, benar-benar menggiurkan. Salah satu yang membuat tercengang adalah ayam ungkepnya yang berukuran jumbo.
“Alhamdulillah, hari ini penuh energi dan keseruan. Sebanyak 1.662 paket keringan berisi ayam dan berbagai makanan lainnya. Sedang kami siapkan dengan penuh semangat,” demikian dikutip dari akun Instagram @sppgcimahicitereup, Senin (2/3).
Selama Ramadan, SPPG Cimahi Citeureup 3 menyediakan sejumlah menu kering. Salah satunya ayam ungkep jumbo ini. Ayam disajikan dalam kondisi siap dimasak agar bisa disantap oleh penerima manfaat saat berbuka puasa maupun santap sahur.
Dalam video tampak para koki bersemangat merebus ayam yang sudah dipotong masing-masing dalam porsi setengah ekor. Ayam ungkep itu tampak kuning keemasan saat sudah diangkat dari kuali besar.
Tak hanya ayam, dapur MBG ini juga menyertakan menu lainnya yakni biskuit, apel, kurma, dan susu. Paket itu ditata rapat dan rapi agar tak mudah terkontaminasi.
Semua petugas di SPPG bahu-membahu menyiapkan menu hari itu. “Ini bukan sekadar packing makanan. Ini tentang gotong-royong dan kepedulian.”
SPPG Cimahi Citeureup 3 berharap paket makanan itu bisa memenuhi kebutuhan gizi para penerima manfaat, terutama para murid sekolah.
“Semoga setiap paket yang sampai menjadi sebab kesehatan, kekuatan, dan keberkahan bagi para penerima manfaat. Amin Ya Rab,” pungkas akun SPPG tersebut.
Dapat Roti Tawar, Jus Jeruk, Buah Pir BesarPotret isi MGB selama Ramadan untuk siswa SD juga sempat diunggah akun TikTok @maulidaliza23 dan menuai perhatian warganet.
“Kamis 26 Februari, MBG ke-2 di bulan Ramadan. Bahagianya dapat MBG,” demikian keterangan video unggahannya.
Video tersebut merekam suasana sederhana di rumah, ketika satu per satu anak membuka paket MBG yang mereka terima dari sekolah. Sang ibu menyambut dengan wajah sumringah dan penuh rasa syukur.
“Ini dapat apa lagi, masyaallah,” ujar sang ibu saat anak-anaknya mulai mengeluarkan isi paket.
Seorang anak perempuan kemudian memperlihatkan isi kantong tersebut. “Roti..,” katanya sambil menunjukkan satu bungkus roti tawar.
Tak lama, ia kembali menyebutkan isi lainnya dengan nada riang, “Dapat jus, dapat Yakult, sama dapat pir”.
“Alhamdulillah,” ucap sang ibu, yang langsung disambut dua anak perempuannya dengan penuh suka cita.
Sang ibu kemudian mengarahkan kamera ke anak laki-lakinya yang juga tengah membuka paket MBG. Isi paket yang diterimanya sama: satu bungkus roti tawar, satu botol jus jeruk, lima botol susu fermentasi, serta satu buah pir berukuran besar.
“Dibuka aja ya ma, yakultnya dimasukin kulkas,” kata sang anak laki-laki.
“Janganlah biarkan saja dia begini,” ujar sang ibu sambil memperlihatkan satu per satu isi paket ke arah kamera. “Jus orange ini. Pir-nya, guys. Inilah hasil MBG kami, guys,” tuturnya.
Video yang telah ditonton oleh lebih dari 100 ribu orang tersebut menjadi potret sederhana bagaimana program MBG Ramadan disambut dengan rasa syukur oleh keluarga penerima manfaat. Menu yang terdiri dari roti, jus jeruk, susu fermentasi, dan buah segar dinilai membantu pemenuhan kebutuhan asupan anak selama bulan puasa.
Momen itu sekaligus menunjukkan bahwa bagi sebagian keluarga, paket makanan sederhana bisa menghadirkan kebahagiaan dan rasa cukup, terutama ketika diterima bersama, dalam suasana Ramadan yang penuh berkah.
“Alhamdulillah masih ada yang bahagia dapat MBG, meskipun banyak yang tidak bahagia bahkan menghujat,” komentar salah satu netizen.
“Pengelolanya MBG-nya waras kalo kayak gini,” netizen lain menimpali.
Sempat Ragu, Kini Berjalan TerusProgram Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak selalu langsung diterima dengan tangan terbuka. Cita Restuningrum, Kepala PAUD Anak Hebat, Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah berhasil meyakinkan orang tua murid bahwa program ini baik untuk anak-anak mereka.
Cita mengakui, pada awalnya mayoritas wali murid menolak program MBG.
Bagi Cita, proses tersebut bukan sekadar soal makanan, tetapi juga edukasi. Dengan pendekatan terbuka dan melibatkan orang tua, program MBG perlahan diterima dan menjadi bagian dari keseharian anak-anak di sekolahnya.
Cita lantas membagikan angket ke orang tua murid. Dalam angket tersebut, pihak sekolah menanyakan secara terbuka persetujuan orang tua. Hasilnya mayoritas orang tua siswa menolak MBG.
“Siapa yang setuju anaknya diberikan MBG? Adakah yang tidak setuju? Seperti itu. Nah, 70 persen itu orang tua tidak setuju diberikan MBG anaknya,” ujar dia.
Kekhawatiran itu, menurutnya, dipengaruhi berbagai informasi yang beredar di luar. “Karena, ya berita di luar kan ya Mas ya, banyak yang keracunan lah, kemudian basi lah, dan sebagainya,” katanya.
Alih-alih memaksa, Cita memilih pendekatan persuasif. Ia mengusulkan masa percobaan selama satu minggu.
“Nah, terus akhirnya saya bilang, bagaimana kalau kita mencoba dulu? Mencoba satu minggu. Anak diberikan MBG, tapi tidak dimakan oleh anak, MBG-nya saya suruh bawa pulang. Supaya orang tua melihat menunya itu apa,” jelasnya.
Selama masa uji coba tersebut, komite sekolah yang terdiri atas perwakilan wali murid turut mendampingi dan mengamati langsung menu yang disajikan setiap hari.
Jika ada anak yang ingin mencicipi, guru memperbolehkan. Namun, jika orang tua belum mengizinkan, makanan tetap dibawa pulang agar dapat diperiksa langsung di rumah.
Setelah satu minggu berlalu, pihak sekolah kembali meminta pendapat wali murid. Hasilnya, berubah signifikan.
“Terus di minggu kedua saya tanya, bagaimana Bunda, apakah mau menerima (MBG)? Akhirnya orang tua mau. Ini aman ya, nggak apa-apa tuh. Akhirnya sudah, anak-anak semuanya diberikan MBG,” ungkapnya.
Mengenalkan makanan baru kepada anak usia dini membutuhkan kesabaran. Guru harus membujuk perlahan agar anak mau mencoba, apalagi bertujuan untuk mengedukasi anak, etika, adat serta pengenalan komponen gizi yang terkandung dalam makanan.
“Nah, itu yang jadi tantangan untuk guru. Gimana caranya supaya anak akhirnya mau mencoba, mau makan, walaupun ya mungkin sesuap dua suap, yang penting dia sudah mengenal,” jelasnya.





