Jakarta (ANTARA) -
Sikap seseorang terhadap perang dapat dipengaruhi oleh faktor psikologis, termasuk ciri kepribadian dan pengalaman masa kecil, menurut hasil studi terbaru.
Laman Psychology Today pada Minggu (1/3) waktu setempat melaporkan adanya penelitian yang melibatkan lebih dari 1.000 responden di Inggris itu menemukan adanya keterkaitan antara karakter individu dan tingkat dukungan terhadap konflik militer.
Studi berjudul "Authoritarianism and the Psychology of War: Exploring Personality Traits in the Legitimation of Military Conflict" tersebut mengkaji berbagai aspek kepribadian serta latar belakang pengalaman hidup responden.
Baca juga: Kemenkes: Jumlah anak alami gejala depresi lebih tinggi dari dewasa
Baca juga: Psikiater beri kiat menjaga kesehatan mental selama Ramadhan
Hasil penelitian menunjukkan laki-laki cenderung lebih mendukung perang dibanding perempuan. Responden berusia lebih tua dan mereka yang memiliki pandangan politik lebih condong ke kanan juga tercatat lebih mungkin menyetujui penggunaan kekuatan militer.
Selain faktor demografis, peneliti menemukan bahwa kecenderungan yang disebut authoritarian submission memiliki hubungan kuat dengan dukungan terhadap perang. Istilah ini merujuk pada sikap patuh dan tunduk pada otoritas serta keyakinan bahwa stabilitas sosial harus dijaga melalui kepatuhan terhadap pemimpin dan aturan.
Individu dengan tingkat authoritarian submission tinggi cenderung menunjukkan sikap lebih keras terhadap kelompok yang dianggap menyimpang dari norma.
Faktor lain yang berperan adalah social dominance orientation atau orientasi dominasi sosial, yaitu preferensi terhadap struktur masyarakat yang hierarkis dan adanya ketimpangan antarkelompok.
Responden dengan orientasi dominasi sosial tinggi lebih mungkin mendukung gagasan bahwa konflik militer dapat digunakan untuk mempertahankan posisi atau kekuasaan suatu negara.
Baca juga: Hindari kalimat yang meremehkan saat anak menghadapi masalah
Studi tersebut juga menyoroti pengalaman masa kecil sebagai prediktor sikap terhadap perang. Pengalaman perlakuan buruk semasa kanak-kanak, baik dalam bentuk kekerasan fisik maupun emosional, tercatat berkaitan dengan kecenderungan mendukung tindakan militer ketika dewasa.
Peneliti menilai pengalaman negatif pada tahap awal kehidupan dapat memengaruhi cara individu memandang agresi, ancaman, dan legitimasi penggunaan kekuatan.
Temuan ini menunjukkan bahwa perbedaan sikap pro dan anti perang tidak hanya dipengaruhi oleh pertimbangan strategis atau kepentingan politik, tetapi juga oleh karakter psikologis yang terbentuk sejak dini.
Studi tersebut menilai pemahaman terhadap faktor kepribadian dan pengalaman hidup dapat membantu menjelaskan dinamika opini publik dalam menyikapi konflik bersenjata.
Baca juga: Berhubungan dengan orang "toxic" bisa membuat lebih cepat tua
Baca juga: Mengenali tanda "burnout" yang bisa muncul selama Ramadhan
Baca juga: Kiat mengatasi tekanan emosional saat menstruasi
Sikap seseorang terhadap perang dapat dipengaruhi oleh faktor psikologis, termasuk ciri kepribadian dan pengalaman masa kecil, menurut hasil studi terbaru.
Laman Psychology Today pada Minggu (1/3) waktu setempat melaporkan adanya penelitian yang melibatkan lebih dari 1.000 responden di Inggris itu menemukan adanya keterkaitan antara karakter individu dan tingkat dukungan terhadap konflik militer.
Studi berjudul "Authoritarianism and the Psychology of War: Exploring Personality Traits in the Legitimation of Military Conflict" tersebut mengkaji berbagai aspek kepribadian serta latar belakang pengalaman hidup responden.
Baca juga: Kemenkes: Jumlah anak alami gejala depresi lebih tinggi dari dewasa
Baca juga: Psikiater beri kiat menjaga kesehatan mental selama Ramadhan
Hasil penelitian menunjukkan laki-laki cenderung lebih mendukung perang dibanding perempuan. Responden berusia lebih tua dan mereka yang memiliki pandangan politik lebih condong ke kanan juga tercatat lebih mungkin menyetujui penggunaan kekuatan militer.
Selain faktor demografis, peneliti menemukan bahwa kecenderungan yang disebut authoritarian submission memiliki hubungan kuat dengan dukungan terhadap perang. Istilah ini merujuk pada sikap patuh dan tunduk pada otoritas serta keyakinan bahwa stabilitas sosial harus dijaga melalui kepatuhan terhadap pemimpin dan aturan.
Individu dengan tingkat authoritarian submission tinggi cenderung menunjukkan sikap lebih keras terhadap kelompok yang dianggap menyimpang dari norma.
Faktor lain yang berperan adalah social dominance orientation atau orientasi dominasi sosial, yaitu preferensi terhadap struktur masyarakat yang hierarkis dan adanya ketimpangan antarkelompok.
Responden dengan orientasi dominasi sosial tinggi lebih mungkin mendukung gagasan bahwa konflik militer dapat digunakan untuk mempertahankan posisi atau kekuasaan suatu negara.
Baca juga: Hindari kalimat yang meremehkan saat anak menghadapi masalah
Studi tersebut juga menyoroti pengalaman masa kecil sebagai prediktor sikap terhadap perang. Pengalaman perlakuan buruk semasa kanak-kanak, baik dalam bentuk kekerasan fisik maupun emosional, tercatat berkaitan dengan kecenderungan mendukung tindakan militer ketika dewasa.
Peneliti menilai pengalaman negatif pada tahap awal kehidupan dapat memengaruhi cara individu memandang agresi, ancaman, dan legitimasi penggunaan kekuatan.
Temuan ini menunjukkan bahwa perbedaan sikap pro dan anti perang tidak hanya dipengaruhi oleh pertimbangan strategis atau kepentingan politik, tetapi juga oleh karakter psikologis yang terbentuk sejak dini.
Studi tersebut menilai pemahaman terhadap faktor kepribadian dan pengalaman hidup dapat membantu menjelaskan dinamika opini publik dalam menyikapi konflik bersenjata.
Baca juga: Berhubungan dengan orang "toxic" bisa membuat lebih cepat tua
Baca juga: Mengenali tanda "burnout" yang bisa muncul selama Ramadhan
Baca juga: Kiat mengatasi tekanan emosional saat menstruasi





