FAJAR, TIMUR TENGAH – Harga minyak mentah dunia mengalami kenaikan signifikan dan pasar saham global merosot menyusul serangan udara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Ketegangan ini memicu kekhawatiran besar terhadap rantai pasokan energi global setelah Iran melakukan serangan balasan terhadap instalasi militer AS dan Israel di Timur Tengah.
Harga minyak mentah jenis Brent melonjak sebesar 9 persen menjadi $79,41 per barel, yang merupakan level tertinggi dalam tujuh bulan terakhir. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan pada level $72,79 per barel, naik 8,6 persen dibandingkan harga penutupan hari Jumat.
Dilansir dari Al Jazeera, para pelaku pasar mengkhawatirkan penghentian total pasokan minyak dari Timur Tengah. Fokus utama saat ini tertuju pada Selat Hormuz, jalur perdagangan minyak laut yang sangat vital. Laporan dari Rystad Energy menyebutkan bahwa lalu lintas di selat tersebut saat ini praktis terhenti, mencegah sekitar 15 juta barel minyak mentah per hari mencapai pasar global. Meskipun belum secara resmi diblokade, kapal-kapal tanker dilaporkan menumpuk di kedua sisi selat karena khawatir akan serangan atau kesulitan mendapatkan asuransi perjalanan.
Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa serangan terhadap Iran akan terus berlanjut hingga seluruh target AS tercapai. Di sisi lain, Iran merespons dengan berondongan rudal ke seluruh wilayah, yang berisiko menyeret negara-negara tetangga ke dalam konflik. Ledakan dilaporkan terjadi di Qatar, Uni Emirat Arab (UEA), dan Kuwait sebagai bagian dari serangan balasan Iran. Selain itu, dua kapal yang melintasi Selat Hormuz dilaporkan diserang pada hari Minggu.
Dampak ekonomi dari konflik ini mulai dirasakan di berbagai belahan dunia:
Pasar Saham: Indeks Nikkei Jepang turun 1,3 persen, sementara bursa saham di UEA dan Kuwait terpaksa ditutup sementara karena “keadaan luar biasa”. Di Wall Street, kontrak berjangka S&P 500 dan Nasdaq juga melemah.
Mata Uang: Dolar AS menjadi aset yang paling diuntungkan sebagai tempat pelarian aman (safe haven), menyebabkan nilai Euro turun menjadi $1,1787.
OPEC+: Delapan negara anggota OPEC+, termasuk Arab Saudi dan Rusia, mengumumkan akan meningkatkan produksi minyak sebesar 206.000 barel per hari pada bulan April sebagai upaya menstabilkan pasar.
Para analis memperingatkan bahwa kenaikan harga energi global ini akan berdampak langsung pada konsumen, yang harus membayar lebih mahal untuk bahan bakar minyak (BBM), bahan pangan, dan barang kebutuhan lainnya di tengah tekanan inflasi yang sudah ada. (*)





