Donald Trump Presiden Amerika Serikat bersedia membuka kembali jalur diplomasi nuklir dengan Iran di tengah eskalasi militer yang memanas.
Pernyataan itu disampaikan Trump dalam wawancara via telepon dengan The Atlantic pada Minggu (1/3/2026) waktu setempat.
“Mereka ingin melakukan pembicaraan, dan saya sepakat untuk berbicara, jadi saya akan berbicara dengan mereka,” kata Trump.
Pernyataan ini muncul setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke sejumlah target di Iran pada Sabtu (28/2/2026). Situasi geopolitik yang berkembang cepat membuat peluang negosiasi kembali menjadi sorotan global, terutama terkait masa depan program nuklir Teheran dan stabilitas kawasan Timur Tengah.
Trump menilai Iran seharusnya lebih cepat mengambil langkah diplomatik. “Mereka seharusnya melakukan hal itu lebih cepat. Mereka menunggu terlalu lama,” ujarnya.
Namun, Trump tidak memerinci dengan siapa ia akan berbicara dari pihak Iran. Ketika ditanya apakah pembicaraan itu akan berlangsung dalam waktu dekat, ia menjawab, “Saya tidak dapat memberi tahu Anda mengenai hal itu.”
Ia juga mengungkapkan bahwa sejumlah negosiator Iran yang sebelumnya terlibat dalam perundingan telah meninggal dunia.
“Sebagian besar orang-orang tersebut telah meninggal dunia. Beberapa orang yang dulu kami ajak bernegosiasi sudah tiada. Itu merupakan pukulan besar,” kata Trump dilansir dari Antara.
Di sisi lain, Trump enggan menjawab secara gamblang saat ditanya mengenai potensi ancaman baru dari Iran terhadap wilayah Amerika Serikat. “Saya tidak ingin memberi tahu Anda mengenai hal tersebut,” ucapnya. (ant/ily/saf/ipg)




