EtIndonesia. Pada Sabtu dini hari (28 Februari), Amerika Serikat dan Israel melancarkan operasi militer besar-besaran terhadap Iran. Pada pukul 15.00 sore hari yang sama, baik Israel maupun Amerika Serikat menyatakan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, telah tewas dalam gelombang serangan pertama.
Presiden AS Donald Trump pada Sabtu mengatakan kepada NBC, “Kami yakin” bahwa Pemimpin Tertinggi Iran Khamenei telah meninggal dunia. “Kami percaya itu adalah fakta.”
Tak lama kemudian, Trump menulis di platform Truth Social bahwa Khamenei — “salah satu orang paling jahat dalam sejarah” — telah tewas. Ia menyebut peristiwa tersebut sebagai bentuk keadilan, tidak hanya bagi rakyat Iran, tetapi juga bagi rakyat Amerika dan warga dari banyak negara lain yang menjadi korban tewas atau cacat akibat tindakan Khamenei dan kelompoknya yang ia sebut sebagai “gerombolan haus darah.”
Fox News juga mengutip seorang pejabat Amerika yang mengatakan bahwa pemerintah AS meyakini Khamenei serta lima hingga sepuluh pemimpin senior Iran lainnya tewas dalam gelombang pertama serangan Israel.
Serangan Balasan Iran
Setelah operasi militer bertajuk “Operation Epic Fury” dilancarkan oleh AS dan Israel, Iran melakukan serangan balasan dengan menembakkan rudal ke wilayah Israel. Di Tel Aviv, kota terbesar kedua Israel, ledakan terlihat menerangi langit malam.
Iran juga menembakkan rudal ke sejumlah kota di kawasan Teluk. Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Yordania menyatakan bahwa mereka berhasil mencegat rudal-rudal tersebut.
Di Palm Jumeirah, Dubai, kebakaran dilaporkan terjadi di dekat sebuah hotel, dengan asap tebal mengepul dan suara ledakan terdengar berulang kali.
Penasihat Panglima Tertinggi Garda Revolusi Iran, Ebrahim Jabbari, menyatakan bahwa Iran memiliki persenjataan paling canggih dan cukup kuat untuk menghadapi konflik dalam jangka panjang. Ia juga mengatakan bahwa sejumlah “rahasia yang selama ini tidak pernah diungkapkan” akan segera dipublikasikan.
Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menyerang “pusat keamanan dan militer penting” Israel serta 14 pangkalan militer Amerika, dan menyatakan bahwa ratusan tentara AS tewas dalam serangan tersebut.
Dukungan dari Pihak Oposisi Iran
Di sisi lain, Kepala Staf Putra Mahkota Iran di pengasingan, Reza Pahlavi, yakni Cameron Khansarinia, memuji tindakan militer AS–Israel terhadap rezim Iran.
“Pesan penting lain yang disampaikan Pahlavi kepada rakyatnya adalah bahwa bantuan yang telah lama dinantikan akhirnya tiba. Banyak pemimpin dunia pernah berjanji mendukung rakyat Iran, tetapi hampir semuanya gagal menepati janji. Presiden Trump berbeda. Ia menepati ucapannya. Ia mendukung rakyat Iran dalam perjuangan ini. Namun pada akhirnya, kemenangan harus diraih oleh rakyat Iran sendiri,” katanya. (jhon)





