Ramadan Bikin Boros? Begini Cara Bedakan Kebutuhan Primer dan Tersier agar Keuangan Tetap Aman

medcom.id
4 jam lalu
Cover Berita
Jakarta: Bulan Ramadan sangat identik dengan perilaku konsumtif. Mulai dari belanja bahan makanan untuk sahur dan berbuka, mempersiapkan pakaian untuk berbagai acara hingga menyusun rencana mudik dan Lebaran.
 
Hal itu diyakini membuat daftar pengeluaran bertambah panjang dalam waktu singkat. Karena itu, pengelolaan keuangan harus dilakukan dengan cermat.
 
"Keinginan memenuhi segala kebutuhan sering kali bercampur dengan dorongan emosional, sehingga belanja menjadi lebih impulsif dari biasanya," ujar konten kreator mindful consumption, Cempaka Asriani, dalam Group Media Interview TikTok bertajuk #SerunyadiTikTok di Jakarta Kamis, 26 Februari 2026.

Cempaka membagikan pendekatan sederhana namun efektif untuk menghindari pemborosan. Ia menekankan pentingnya membedakan kebutuhan primer dan tersier sebelum memutuskan belanja.
 
Menurutnya, langkah pertama agar tidak boros adalah disiplin mengelompokkan barang berdasarkan urgensinya. Barang habis pakai seperti bahan makanan pokok, produk perawatan kulit (skincare), dan produk perawatan tubuh (body care) termasuk kategori primer.
 
“Pertama, kalau yang sifatnya barang-barang habis pakai, itu masuk ke primer enggak apa-apa,” ujar Cempaka.
 
Namun, label primer bukan berarti bebas dibeli dalam jumlah berlebih. Ia mengingatkan agar konsumen tetap berpegang pada pola beli saat habis, bukan saat tergoda promo.
 
“Tapi jangan menyetok. Jangan langsung beli satu keranjang penuh, varian banyak, dan stok banyak. Jadi, beli kalau sudah habis. Selama polanya seperti itu, masuk ke kebutuhan primer aman,” tutur dia.
 

Baca Juga :

Jangan Asal Makan Buah Pas Buka Puasa! Ini Rekomendasi dari Ahli Gizi IPB

Ia mengingatkan agar masyarakat tidak tergiur oleh label promo karena tidak semua pembelian promo benar-benar efisien. Cempaka menyoroti risiko menimbun barang promo yang memiliki masa kedaluwarsa ketika produk tidak terpakai tepat waktu, justru berakhir mubazir.
 
“Kita beli karena merasa perlu, tapi ketika beneran perlu, sudah enggak bisa dipakai karena sudah kadaluwarsa, jadinya mubazir. Buat apa buang-buang uang,” ucap dia.
 
Menurutnya, keputusan finansial yang sehat bukan hanya soal harga murah. Tetapi soal kebutuhan nyata dan waktu penggunaan.
 
Selain kebutuhan konsumsi, pengeluaran saat Ramadan juga kerap membengkak di sektor sandang dan gaya hidup. Baju baru untuk buka bersama atau Lebaran sering kali dianggap wajib, meski sebenarnya bisa disiasati.
 
Cempaka menyebut pakaian memang termasuk kebutuhan primer. Namun, pembelian berulang untuk sekadar memenuhi dress code bisa dikelola lebih bijak, misalnya dengan meminjam atau menyewa.
 
Harga beli yang terlihat terjangkau belum tentu mencerminkan total biaya kepemilikan. Biaya perawatan dan penggunaan jangka panjang perlu dipertimbangkan sebelum memutuskan membeli.
 
Pada akhirnya, Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga mengendalikan keinginan. Dengan membedakan kebutuhan primer dan tersier secara disiplin, masyarakat dapat menjaga stabilitas keuangan hingga Lebaran tanpa harus merasa terbebani.
 
"Pengelolaan yang bijak bukan berarti menahan diri sepenuhnya, melainkan memastikan setiap rupiah yang dikeluarkan benar-benar sesuai prioritas," ujar Cempaka.

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
BEI Ubah Aturan Liquidity Provider Saham, Ini Ketentuannya
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Per 1 Maret 2026, Harga Pertamax Naik Jadi Rp12.300/Liter
• 8 jam lalumedcom.id
thumb
BSI Perkuat Transaksi Digital Syariah di Bulan Ramadan
• 3 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Taman Kota Cawang Diduga Lokasi Asusila, Gerindra Minta Pengawasan Diperketat
• 15 jam laludetik.com
thumb
Viral Video Penganiayaan ART di Sunter, Polisi Pastikan Kejadian Lama
• 2 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.