Bisnis.com, JAKARTA – Pasar obligasi Indonesia berpotensi mendapatkan sebagian aliran masuk asing, imbas investor global yang mulai meningkatkan eksposur ke aset fixed income seiring meningkatnya tensi ketegangan Iran-Amerika Serikat.
Kepala Departemen Riset dan Informasi Pasar PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) Salvian Fernando mengatakan dalam situasi geopolitik yang memanas, biasanya terjadi fenomena flight to quality, yakni perpindahan dana dari aset berisiko seperti saham ke instrumen pendapatan tetap.
Pasar obligasi Indonesia, lanjutnya, dinilai memiliki daya tahan yang cukup baik terhadap berbagai sentimen global. Selain itu, tingkat imbal hasil (yield) yang masih kompetitif membuatnya tetap menarik dibandingkan sejumlah instrumen investasi lainnya.
“Pasar obligasi Indonesia yang terkenal cukup resilience dari berbagai sentimen global berpotensi mendapat sebagian aliran tersebut karena yield obligasinya juga terbilang masih cukup menarik terutama jika dibandingkan dengan instrumen investasi lainnya,” ujarnya, Senin (2/3/2026).
Peningkatan tensi geopolitik berpotensi mendorong volatilitas global dan membuat yield obligasi tetap tinggi atau naik sementara, seiring meningkatnya premi risiko yang diminta investor.
Namun demikian, sambungnya, struktur kepemilikan obligasi pemerintah Indonesia yang didominasi investor domestik menjadi bantalan penting. Porsi kepemilikan lokal yang besar membuat pengaruh sentimen global terhadap pasar obligasi relatif lebih terbatas.
Di sisi lain, minat penerbitan obligasi justru menunjukkan tren yang cukup tinggi sejak awal tahun.
Sepanjang 2026, PHEI mencatat pemerintah telah menerbitkan sekitar Rp206 triliun obligasi melalui mekanisme lelang. Sementara itu, penerbitan obligasi korporasi baru tercatat mencapai Rp37,5 triliun.
Tingginya permintaan investor terhadap obligasi, ditambah kondisi yield yang dinilai masih relatif menarik, mendorong banyak penerbit memanfaatkan momentum awal tahun untuk masuk ke pasar.
Adapun data yang dihimpun dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) per 25 Februari 2026 menunjukkan investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp3,25 triliun secara year to date .
Meski nilainya masih relatif kecil dibandingkan outflow di pasar saham, Salvian juga mencermati minimnya aliran dana masuk sejak awal tahun mencerminkan sikap hati-hati investor global terhadap emerging markets, termasuk Indonesia.
Dia pun menilai kecenderungan net sell ini menjadi sinyal bahwa investor asing masih berada dalam mode risk off.
Sementara itu, Head of Research Korea Investment and Sekuritas Indonesia Muhammad Wafi mencermati pangsa pasar kepemilikan asing di obligasi yang pada akhir 2025 berada di kisaran 13%, mulai naik mendekati 14% pada Januari 2026. Fenomena ini menunjukkan adanya aksi switching dari ekuitas ke fixed income.
Artinya, dana asing tidak sepenuhnya keluar dari Indonesia, melainkan berpindah instrumen investasi. Kondisi ini pula yang dinilai ikut menjaga stabilitas nilai tukar rupiah meskipun terjadi outflow di pasar saham.
“Untuk obligasi kemungkinan akan ada peningkatan permintaan dalam waktu dekat akibat sentiment Iran-AS,sedangkan dari sisi global bond kemungkinan masih akan stabil,” katanya.
Adapun, dalam pipeline Kisi Sekuritas terdapat rencana penerbitan sekitar tujuh obligasi sepanjang tahun ini.
Wafi menyebut selain pasar domestik, sejumlah perusahaan juga mulai melirik pasar global melalui skema global bond seperti kimchi bond dan arirang bond yang merujuk pada penerbitan obligasi oleh perusahaan Indonesia yang ditawarkan langsung ke investor Korea Selatan dan menggunakan mata uang won.
Skema ini dinilai menarik karena bisa menjadi alternatif diversifikasi sumber pendanaan sekaligus strategi lindung nilai terhadap dolar AS.
Beberapa seri disebut telah diterbitkan dan mendapatkan respons cukup baik, tetapi jumlah korporasi Indonesia yang berani masuk ke pasar global masih terbatas. Mayoritas masih didominasi perusahaan besar dan mapan. Perusahaan skala menengah dinilai masih berhati-hati, mengingat pasar global menuntut transparansi, tata kelola, dan kesiapan struktur pendanaan yang lebih kompleks.
Saat ini, investor disebut masih memburu kupon di atas 7%. Namun dengan semakin terbatasnya, ketersediaan, kupon di kisaran 6% sudah dianggap cukup menarik dalam kondisi pasar saat ini.
“Minat investor akan penerbitan masih ada, tetapi faktor timing menjadi krusial. Jika perusahaan menerbitkan obligasi saat sentimen pasar sedang kurang kondusif, maka kupon yang ditawarkan harus lebih tinggi untuk menarik minat investor,” terangnya.





