Pidie Jaya: Tiga bulan setelah banjir bandang menerjang Desa Meunasah Raya, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, deretan tenda darurat masih berdiri di antara rumah-rumah yang tertimbun lumpur. Jejak genangan masih membekas di dinding rumah warga.
Di tengah situasi itu, Erna, penyintas bencana di Pidie Jaya, memilih bertahan, menjaga sisa-sisa harapan yang tersisa dari rumah yang dibangun dengan susah payah.
“Sudah tiga bulan pasca-bencana, kami sampai sekarang masih tinggal di tenda. Ke rumah belum bisa pulang, karena rumah kami belum bisa dibersihkan,” ujar Erna saat ditemui Metrotvnews.com, Senin, 2 Maret 2026.
Baca Juga :
Mendagri Dorong Percepatan Hunian Tetap di Pidie JayaRumahnya masih dipenuhi lumpur tebal yang mengeras, membuatnya tak mungkin dihuni. Setiap hari, ia hanya bisa memandangi bangunan itu dari kejauhan, menunggu proses pembersihan selesai.
Erna mengaku tak mampu membersihkan rumahnya karena lumpur yang mengendap terlalu berat untuk diangkat sendiri. Beruntung, aparat TNI datang membantu warga membersihkan rumah-rumah terdampak.
“Alhamdulillah, rumah saya dibantu oleh bapak-bapak TNI. Kalau kami bersihkan sendiri, tidak sanggup. Terima kasih banyak buat bapak tentara,” ucapnya.
Erna, penyintas bencana di Pidie Jaya. Foto: Metrotvnews.com/Fajri Fatmawati
Meski kondisi rumahnya rusak dan kawasan tersebut disebut sebagai zona merah rawan banjir, Erna tetap bersikeras tak ingin meninggalkan tanah kelahirannya. Baginya, rumah itu bukan sekadar bangunan, melainkan simbol perjuangan hidup dari titik nol hingga bisa berdiri seperti sekarang.
“Karena ini sayang. Perjuangan kami sangat menyedihkan, kami mulainya dari hasil nol sampai sekarang. Kami sedih kalau dipindahkan ke tempat lain,” katanya.
Kabar mengenai rencana pembangunan hunian tetap dari pemerintah sempat memberi secercah harapan. Namun, Erna memiliki satu keinginan yaitu rumah itu harus dibangun di atas tanah miliknya sendiri.
“Iya, dibangun di tempat milik sendiri di sini, di tanah sendiri. Kami tidak mau dipindah ke tempat lain. Saat ini kami masih tinggal di tenda sambil menunggu hunian sementara, karena sudah di data,” tegasnya.
Kondisi rumah Erna pasca-bencana banjir bandang di Desa Meunasah Raya, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Foto: Metrotvnews.com/Fajri Fatmawati
Rasa waswas tetap menghantui, terutama ketika awan gelap mulai menggantung dan hujan turun deras. Ia sadar betul risiko tinggal di kawasan yang rawan banjir. Anak-anaknya masih trauma setiap kali mendengar suara hujan di atap tenda.
“Kalau waswas, iyalah, tetap was-was. Apalagi kalau musim hujan. Anak-anak kan masih trauma. Tapi bagaimana juga ya, kami masih mau tinggal di tempat sendiri,” ungkap Erna.
Di balik lumpur dan reruntuhan, ada kenangan yang tak mudah dihapus. Setiap sudut rumah menyimpan cerita tentang tawa, air mata, dan perjalanan panjang keluarganya.
Bagi Erna, bertahan di Meunasah Raya bukan sekadar soal tempat tinggal, melainkan menjaga akar kehidupan yang telah lama ia tanam di tanah itu. “Banyak sekali kenangan yang tidak bisa kami lupakan. Makanya kami tidak mau dipindah ke tempat lain,” tuturnya.




