Putra Shah Terakhir Iran Muncul, Dubes Iran: Masyarakat Tak Menganggapnya Ada

detik.com
13 jam lalu
Cover Berita
Jakarta -

Putra mahkota atau keturunan 'Shah' terakhir Iran, Reza Pahlavi, yang diasingkan, dan putrinya yang tinggal di Los Angeles, Amerika Serikat, buka suara usai kematian pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Dubes Iran untuk RI Mohammad Boroujerdi mengatakan masyarakat di Iran tak menganggapnya ada.

"Kami di Iran, masyarakat negara kami, tidak menganggap ada dan tidak menganggap serius orang yang tadi disebutkan oleh wartawan penanya (Reza Pahlavi)," kata Boroujerdi di Rumah Dinas Kedubes Iran, Senin (2/3/2026).

Boroujerdi mengingatkan kudeta terhadap Iran yang pernah dilakukan pada 1953. Dia menyebut kepemimpinan mereka membuat revolusi Iran terjadi pada 1979.

"Saya rasa mereka sudah pernah melakukan hal ini pada tahun 1953 melalui sebuah kudeta Amerika Serikat mencoba untuk menyerang demokrasi di negara kami dengan mengembalikan Shah Iran pada waktu itu," ujarnya.

"Dan apabila memang mereka adalah pihak yang mengharapkan demokrasi bagi Iran, mengapa masyarakat Iran harus turun ke jalanan pada tahun 1979 melalui sebuah revolusi menjatuhkan pemerintahan Shah di sana?" imbuh Boroujerdi.

Baca juga: Reza Pahlavi, Putra Shah Terakhir Iran Buka Suara Usai Khamenei Tewas

Meski demikian, Boroujerdi tidak menampik ada masyarakat Iran yang sempat protes terhadap kepemimpinan Khamenei. Dia menegaskan meski ada protes, mereka tidak ada yang menganggap Reza Pahlavi secara serius.

"Mungkin saja di Iran terdapat sebuah ketidakpuasan, sebuah protes dari masyarakat, tetapi pihak yang protes dan tidak puas pun di Iran tidak menganggap orang ini sebagai orang yang serius," katanya.

Sebelumnya, Reza Pahlavi merespons kematian pemimpin tertinggi Iran, Khamenei. Mereka menganggap meminta rakyat Iran bersiap.

Dilansir New York Post dan dilihat dari akun X resmi Reza Pahlavi, Minggu (1/3), Pahlavi yang telah tinggal di AS sejak revolusi 1979 bereaksi terhadap laporan Khamenei telah tewas setelah serangan udara AS dan Israel terhadap Iran.

"Zahhak yang haus darah (raja jahat dalam mitologi Iran) di zaman kita, pembunuh puluhan ribu putra dan putri Iran yang paling berani, telah dihapus dari halaman sejarah. Dengan kematiannya, Republik Islam secara efektif telah berakhir dan akan segera dibuang ke tong sampah sejarah," tulisnya di X.

Baca juga: 555 Orang di Iran Tewas Akibat Serangan AS-Israel, 200 di Antaranya Anak-anak




(idn/idn)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
iPhone 17e Rilis Global: Harga Mulai Rp 10 Jutaan, Tak Ada Varian 128 GB
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
Bos Telkom Ungkap Ciri-Ciri Orang yang Bakal Tergusur AI
• 10 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Pria di Tapteng Penemu Rp 17 Juta dan Memakainya Dijerat Pasal Penggelapan
• 18 jam lalukumparan.com
thumb
Qatar Cegat 2 Rudal yang Hendak Masuk Wilayahnya di Tengah Perang Iran-AS
• 1 jam laludetik.com
thumb
Istana Instruksikan Bendera Setengah Tiang 3 Hari, Hormati Wafatnya Wapres ke-6 Try Sutrisno
• 1 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.