Bisnis.com, MAKASSAR - PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) mengumumkan bahwa pembangunan pabrik pengolahan nikel atau smelter High-Pressure Acid Leaching (HPAL) di Pomalaa, Sulawesi Tenggara (Sultra) dan di Morowali, Sulawesi Tengah (Sulteng) bakal segera rampung.
Pabrik di Pomalaa rencananya selesai pada akhir tahun ini, begitu pun dengan pabrik di Morowali. Namun jika pabrik HPAL Morowali belum bisa rampung di 2026, maka paling lambat targetnya adalah 2027.
Head of External Relations Regional and Growth PT Vale Indonesia Tbk. Endra Kusuma mengatakan dua pabrik pengolahan tersebut masuk dalam proyek Indonesia Growth Project (IGP) perseroan yang telah dimulai sejak 2022 lalu.
IGP Pomalaa adalah proyek tambang dan pabrik HPAL dengan nilai investasi mencapai US$4,43 miliar. Dalam pembangunannya, Vale bermitra dengan produsen baterai EV asal China, Huayou dan produsen mobil asal Amerika Serikat, Ford.
Saat ini progres konstruksi IGP Pomalaa telah mencapai 65,76%. Kendati demikian penjualan bijih mineral telah mulai dilakukan dengan first ore sell dilaksanakan pada 28 Februari 2026 lalu.
Vale mematok target produksi sebesar 300.000 ton limonit per bulan atau sekitar 9.677 ton per hari.
Baca Juga
- Prospek Saham INCO Tersengat Smelter Nikel Vale Indonesia
- RKAB 2026 Disetujui 30%, Vale Indonesia Waswas Kekurangan Pasokan Nikel
- Harga Nikel Terangkat, INCO Cs Bakal Terbang?
"Jika pabrik HPAL kami rampung, maka akan diproduksi nikel dalam bentuk mixed hydroxide precipitate (MHP) yang dapat digunakan untuk menjadi bahan utama pada baterai kendaraan listrik," ujar Endra Kusuma di Makassar, Senin (2/3/2026).
Sementara itu IGP Morowali adalah proyek penambangan dan pengolahan nikel terintegrasi dengan investasi mencapai US$2 miliar.
Proyek ini bertujuan untuk mendukung pengembangan industri nikel Indonesia dengan fokus pada pengolahan nikel menjadi produk setengah jadi yang penting untuk sektor energi terbarukan dan kendaraan listrik.
Saat ini progres IGP Morowali telah mencapai 98,85% dan telah mencatatkan penjualan sebanyak 2,2 juta ton ore di awal 2026.
"Di Morowali, hingga akhir Januari 2026, kami juga telah melaksanakan hydroseeding seluas 26 hektar, serta telah meresmikan lokasi pembibitan berkapasitas 400.000 bibit per tahun untuk reklamasi bekas tambang nantinya," tutur Endra Kusuma.





