Selly Andriany Gantina Anggota Komisi VIII DPR RI meminta Pemerintah mengambil keputusan strategis, merespons dinamika keamanan di kawasan Timur Tengah karena perang Amerika Serikat dan Israel dengan Iran.
Salah satu prioritas yang perlu dilakukan Pemerintah, kata Selly, adalah memulangkan Warga Negara Indonesia (WNI) yang sekarang berada di daerah konflik, khususnya jemaah umrah.
Dalam keterangannya, Senin (2/3/2026), di Jakarta, legislator dari Fraksi PDI Perjuangan itu bilang, ada sekitar 58 ribuan Umat Islam Indonesia yang sedang menjalankan Ibadah Umrah di Arab Saudi.
Dia menyebut, prinsip perlindungan Negara terhadap warga negara di luar negeri merupakan mandat konstitusi yang tidak boleh dikompromikan dalam situasi apa pun.
“Negara harus memastikan adanya skema pemulangan yang jelas, terukur, dan memiliki kepastian waktu. Jemaah tidak boleh dibiarkan berada dalam ketidakpastian akibat dinamika global yang berada di luar kendali mereka,” ujar Selly.
Menurutnya, kewajiban melindungi WNI di luar negeri bukan sebatas aspek administratif. Tapi, Pemerintah juga harus mencari cara yang aman dan efektif untuk menjamin keselamatan, pemenuhan layanan, serta kepastian kepulangan ke Tanah Air.
Lebih lanjut, Selly menyampaikan tiga aspek strategis yang harus diperkuat Pemerintah Indonesia.
Pertama, penguatan sistem perlindungan jemaah umrah sebagai bagian dari perlindungan warga negara.
Dia menegaskan, Negara harus memiliki protokol krisis yang terstruktur, termasuk skema pemulangan alternatif, perlindungan logistik, serta kepastian layanan selama jemaah mengalami situasi darurat.
Lalu yang kedua, penguatan akuntabilitas penyelenggara perjalanan ibadah umrah supaya memiliki kesiapan manajemen krisis, dan menjaga jangan sampai jemaah menanggung beban akibat risiko global.
Ketiga, penguatan koordinasi lintas kementerian dan perwakilan negara di luar negeri, guna menjamin respons cepat Negara, terkoordinasi, dan berorientasi pada keselamatan warga negara.
Kemudian, Selly juga mendorong Pemerintah menyampaikan perkembangan situasi secara transparan dan berkala kepada publik terutama keluarga jemaah.
Hal itu penting supaya ada kejelasan informasi, dan menghindari kecemasan berkepanjangan pihak keluarga.
Sekadar informasi, ada ribuan jemaah umrah asal Indonesia yang tertahan di berbagai wilayah Timur Tengah lantaran terjadi pembatalan penerbangan internasional.
Penyebabnya, maskapai penerbangan khawatir aksi saling serang AS-Israel dan Iran dengan pesawat tempur, drone, serta rudal berdampak pada penerbangan sipil.
Berdasarkan data Sistem Komputerisasi Pengelolaan Umrah dan Haji Khusus (Siskopatuh), per hari Minggu (1/3/2026) ada sebanyak 58.873 orang Jemaah Umrah Indonesia yang masih berada di Arab Saudi.(rid/ipg)




