Kematian Khamenei dalam Serangan AS–Israel, Dampaknya Menggema dari Teheran ke Beijing

erabaru.net
1 jam lalu
Cover Berita

Saat Iran memasuki masa transisi kepemimpinan, respons terukur Tiongkok menegaskan besarnya kepentingan strategis dan energi yang terkait dengan Teheran

EtIndonesia. Ketika pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei tewas dalam serangan gabungan AS–Israel pada 28 Februari, perayaan pecah di sejumlah wilayah Iran. Namun di Beijing, reaksinya cenderung tertahan.

Media pemerintahan partai komunis Tiongkok Xinhua awalnya menyampaikan bantahan Iran mengenai kematian Khamenei. Namun setelah penyiar negara Iran Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB) mengonfirmasi pada 1 Maret bahwa pemimpin berusia 86 tahun itu tewas dalam serangan, media pemerintah Tiongkok mengubah nadanya, menyebut kematiannya sebagai sebuah “pembunuhan” dan menggunakan bahasa yang biasanya diperuntukkan bagi pejabat yang dihormati, termasuk merujuk pada masa berkabung.

Perbedaan reaksi ini menyoroti dampak geopolitik dari apa yang digambarkan para analis sebagai salah satu pembunuhan terarah paling berkonsekuensi di Timur Tengah—dan  berpotensi membawa implikasi signifikan bagi Tiongkok.

Konfirmasi dan Reaksi

Presiden AS Donald Trump pada 28 Februari menulis di Truth Social bahwa Khamenei, yang ia gambarkan sebagai “salah satu orang paling jahat dalam sejarah,” telah tewas. Ia menyebut serangan itu sebagai bentuk keadilan bagi rakyat Iran dan para korban kekerasan yang didukung Teheran di seluruh dunia, serta menyerukan rakyat Iran untuk memanfaatkan apa yang ia sebut sebagai kesempatan untuk “merebut kembali negara mereka.”

Penyiar negara Iran mengonfirmasi kematian tersebut pada hari berikutnya, menyatakan bahwa Khamenei tewas dalam serangan AS–Israel. Rekaman video dari Iran tampak menunjukkan perayaan di jalan-jalan.

Khamenei menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi Iran sejak 1989, menjadikannya salah satu pemimpin otoriter dengan masa jabatan terlama di dunia. Di bawah kepemimpinannya, Iran memperluas pengaruh regionalnya melalui jaringan milisi sekutu dan kelompok bersenjata.

Amerika Serikat dan banyak sekutunya telah lama menuduh Iran sebagai sponsor utama kelompok militan di seluruh Timur Tengah. Organisasi yang didukung Teheran mencakup Hamas di Jalur Gaza, Hezbollah di Lebanon, milisi Syiah di Irak dan Suriah, Houthis di Yaman, serta Korps Garda Revolusi Islam Iran, termasuk Pasukan Quds.

Iran membantah mendukung terorisme dan menggambarkan keterlibatan regionalnya sebagai bentuk perlawanan terhadap pengaruh Barat dan Israel. Meski demikian, Washington telah menjatuhkan sanksi luas terhadap aktivitas militer dan nuklir Teheran.

Kematian Khamenei memunculkan pertanyaan tentang suksesi dalam struktur ulama Iran serta stabilitas sistem teokrasi negara itu, yang menggabungkan otoritas agama dengan kendali politik.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada 1 Maret mengatakan bahwa sebuah dewan sementara baru telah mengambil alih kepemimpinan negara di tengah perang.

Taruhan Strategis

Reaksi Tiongkok menarik perhatian para analis yang menilai Beijing memiliki kepentingan ekonomi dan geopolitik yang signifikan terkait Teheran.

Xinhua menerbitkan profil biografis yang menyoroti kepemimpinan Khamenei di tengah sanksi Barat dan tekanan ekonomi, serta memujinya karena memajukan strategi yang disebut Iran sebagai “ekonomi perlawanan” yang bertujuan mencapai kemandirian. Media pemerintahan partai komunis Tiongkok lainnya menyebutnya sebagai tokoh yang menentang Amerika Serikat dan Israel.

Tiongkok dan Iran telah memperdalam hubungan dalam satu dekade terakhir. Pada 2021, kedua negara menandatangani perjanjian kerja sama komprehensif selama 25 tahun yang mencakup energi, infrastruktur, dan kerja sama keamanan. Iran juga menjadi bagian dari Inisiatif Sabuk dan Jalan (Belt and Road Initiative), sebuah kelompok yang terdiri dari sekitar 150 negara yang menandatangani kesepakatan dengan Beijing sebagai imbalan atas investasi asing Tiongkok.

Data dari firma analitik Kpler pada 2025 menunjukkan bahwa lebih dari 80 persen ekspor minyak Iran dalam beberapa tahun terakhir mengalir ke Tiongkok, sering kali dengan harga diskon di tengah sanksi.

Chen Pokong, seorang komentator politik Tiongkok yang berbasis di AS, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa kematian Khamenei dapat menimbulkan efek berantai jauh melampaui Iran. Ia mengatakan bahwa penghapusan pemimpin tertinggi Iran dapat melemahkan kohesi struktur kekuasaan negara tersebut dan mengganggu akses Beijing terhadap mitra energi kunci.

“Partai Komunis Tiongkok secara efektif menopang rezim Iran dengan mengimpor minyaknya, sementara Iran, melalui ekspor minyak tersebut, membantu mempertahankan jalur kehidupan penting bagi ekonomi Tiongkok,” kata Chen. “Kini, di bawah tekanan AS terhadap Iran, jika kendali atas jalur minyak itu pada akhirnya beralih ke Washington, maka salah satu arteri utama ekonomi Tiongkok pada praktiknya akan berada di bawah pengaruh AS.”

Dampak Regional dan Global yang Potensial

Shen Ming-shih, peneliti di Taiwan’s Institute for National Defense and Security Research, mengatakan bahwa konsekuensinya dapat meluas ke berbagai kawasan ketegangan geopolitik.

Ia mencatat bahwa Iran, Rusia, dan Tiongkok masing-masing, di kawasan berbeda, berupaya menyeimbangkan pengaruh AS—di Timur Tengah, Eropa Timur, dan Indo-Pasifik.

“Jika Iran menjadi pemerintahan yang lebih pro-AS, Beijing akan kehilangan pijakan strategis penting di Timur Tengah, yang berpotensi mempersulit ambisi lebih luasnya untuk memperluas pengaruh sebagai kekuatan global,” kata Shen kepada The Epoch Times.

Shen mengatakan perubahan kepemimpinan di Teheran dapat membentuk ulang arah kelompok-kelompok yang didukung Iran seperti Hamas, Hezbollah, dan Houthi, yang berpotensi memengaruhi stabilitas kawasan.

Ning Haizhong dan Luo Ya turut berkontribusi dalam laporan ini.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Perang Iran vs Israel-AS, Ketua MPR Minta Rakyat dan Pemerintah RI Bersatu
• 18 jam lalutvonenews.com
thumb
Kebahagian Kecil Warga Surabaya di Garage Day
• 3 jam lalukompas.id
thumb
Siswi Dijambret di Kemayoran, iPhone 16 Raib Seketika
• 8 jam lalukompas.com
thumb
Kisah Laurent Simons, Si Anak Ajaib Belgia Lulus PhD Fisika Kuantum di Usia 15 Tahun
• 16 jam lalumedcom.id
thumb
Masih Ingat Lee Da-hyeon? Ratu Joget Ting Tang yang Pernah Jadi Rival Sengit Megawati Hangestri
• 13 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.