Khamenei Tewas Diserang AS, Menlu China Gelar Diplomasi Kilat dengan 3 Negara

suara.com
10 jam lalu
Cover Berita
Baca 10 detik
  • Serangan udara AS dan Israel menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran pada Sabtu (28/2), memicu eskalasi konflik di Timur Tengah.
  • Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, mendesak AS dan Israel menghentikan operasi militer demi menghindari perluasan ketegangan regional.
  • Iran menyatakan pembelaan diri penuh setelah perundingan terhambat, sementara Oman dan Prancis menyerukan gencatan senjata serta solusi diplomatik.

Suara.com - Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik kritis pasca-tewasnya pemimpin tertinggi Iran dalam serangan udara Amerika Serikat dan Israel.

Menanggapi situasi yang kian tak terkendali, Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, menggelar diplomasi kilat melalui sambungan telepon pada Senin (2/3) malam dengan tiga menteri luar negeri sekaligus: Abbas Araghchi (Iran), Badr Albusaidi (Oman), dan Jean-Noel Barrot (Prancis).

Dalam rangkaian pembicaraan tersebut, China secara tegas mengambil posisi membela kedaulatan negara-negara di kawasan dan mengkritik keras aksi militer yang melanggar hukum internasional.

China Desak AS-Israel Hentikan Operasi Militer

Melalui keterangan tertulis resmi Kementerian Luar Negeri China, Selasa (3/3), Wang Yi mengirimkan pesan kuat kepada Washington dan Tel Aviv untuk segera menahan diri.

"Wang Yi juga menyampaikan bahwa China telah mendesak Amerika Serikat dan Israel untuk segera menghentikan operasi militer, menghindari peningkatan ketegangan lebih lanjut, serta mencegah konflik meluas ke seluruh kawasan Timur Tengah," tulis keterangan resmi tersebut.

Kepada Menlu Iran Abbas Araghchi, Wang Yi menyatakan dukungan moral dan politik China bagi stabilitas Teheran di tengah guncangan hebat ini.

"Ia menyatakan keyakinan bahwa di tengah situasi yang berat dan kompleks saat ini, Iran mampu menjaga stabilitas nasional dan sosial, memahami dari negara-negara tetangga, serta menjamin keselamatan warga negara dan lembaga China di Iran," kata dia.

"Wang Yi juga menegaskan bahwa China menghargai persahabatan tradisional China-Iran, mendukung Iran dalam mempertahankan kedaulatan, keamanan, keutuhan wilayah, dan martabat nasionalnya, serta mendukung Iran dalam melindungi hak dan kepentingan sahnya," lanjutnya.

Baca Juga: Berapa Gaji Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei?

Iran Membela Diri

Menlu Iran Abbas Araghchi mengungkapkan kekecewaannya karena eskalasi ini terjadi justru saat perundingan diplomatik mulai menunjukkan titik terang. Ia menyebut AS telah "menikam dari belakang" proses perdamaian tersebut.

"Perundingan putaran ini telah mencapai kemajuan positif, namun tindakan AS melanggar seluruh hukum internasional dan telah melewati garis merah Iran. Iran tidak memiliki pilihan lain selain melakukan pembelaan diri secara penuh," ungkap Araghchi.

Senada dengan Iran, Menlu Oman Badr Albusaidi yang selama ini menjadi mediator juga menyayangkan langkah AS dan Israel.

"Apabila perang ini terus berlanjut, akan menimbulkan lebih banyak korban jiwa dan kerugian harta benda. Saat ini semua pihak harus bersama-sama mendorong gencatan senjata dan penghentian konflik secepat mungkin," tegas Badr.

Kritik Terhadap 'Hukum Rimba' dan Standar Ganda


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Longsor di Semarang Meluas hingga 5 Hektare, 22 Keluarga Terancam | KOMPAS PETANG
• 1 jam lalukompas.tv
thumb
Uniknya Oppo A6s yang Segera Hadir di Indonesia 6 Maret 2026
• 6 jam laluviva.co.id
thumb
Menjelajahi Bali Lebih Dalam lewat Program Eksplorasi Budaya
• 19 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Bos Haka Auto Dorong Pemerintah Beri Kepastian soal Insentif Mobil Listrik
• 3 jam lalubisnis.com
thumb
Iran Perluas Serangan di Seluruh Wilayah, Kedubes AS di Arab Saudi Diserang
• 8 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.