Bisnis.com, JAKARTA – Haka Auto, salah satu rekanan dealer BYD, mengharapkan pemerintah memberi kepastian terkait kebijakan insentif kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Indonesia pada 2026.
CEO Haka Auto, Hariyadi Kaimuddin mengatakan, dengan menggantungnya keputusan terkait insentif mobil listrik berpotensi menghambat penjualan, lantaran konsumen memilih untuk menunda pembelian.
“Kami berharap ada kepastian kebijakan. Kalau insentif digantung seperti ini justru menghambat dan membuat konsumen menunda pembelian. Jika ada insentif, sebaiknya jelas dan konsisten,” ujar Hariyadi di Jakarta, dikutip Selasa (3/3/2026).
Perlu diketahui, pemerintah telah menegaskan bahwa skema impor utuh (completely built-up/CBU) untuk kendaraan listrik murni hanya berlaku hingga akhir 2025. Mulai 1 Januari 2026 hingga 31 Desember 2027, produsen diwajibkan memenuhi komitmen produksi lokal dengan rasio 1:1 sesuai peta jalan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
Kendati demikian, hingga saat ini belum terdapat kejelasan terkait kelanjutan insentif bagi industri otomotif, terutama untuk segmen kendaraan listrik pada 2026.
Menurutnya, seiring dengan kian terjangkaunya harga mobil listrik, insentif mungkin sudah tidak lagi diperlukan. Haka Auto berharap pemerintah justru memberikan dukungan dari sisi perluasan infrastruktur pengisian daya (charging station) mobil listrik.
Baca Juga
- BYD Lebarkan Sayap ke Timur Indonesia, Haka Auto Operasikan 3 Dealer Baru di Sulawesi
- Haka Auto Fest 2025 Ramaikan FX Sudirman dan AEON Mall Sentul
“Namun, secara jangka panjang, ketika harga baterai makin murah dan harga kendaraan semakin kompetitif, subsidi mungkin tidak lagi diperlukan. Dukungan yang lebih penting adalah percepatan pembangunan infrastruktur pengisian daya,” jelasnya.
Diberitakan sebelumnya, Haka Auto menargetkan ekspansi jaringan penjualan cukup agresif dengan target hingga 60 cabang sepanjang 2026. Sejauh ini, Haka Auto telah mengoperasikan 15 outlet BYD dan dua cabang untuk merek premium Denza yang tersebar di sejumlah kota strategis.
Hariyadi mengatakan, Haka Auto lebih fokus untuk memperluas jaringan ke kota-kota tier 2 dan tier 3 yang meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan, hingga Sulawesi.
Dia meyakini pasar kendaraan listrik di Indonesia memiliki prospek cerah ke depannya, seiring dengan meningkatnya adopsi mobil listrik serta perluasan infrastruktur pengisian daya.
Menilik kinerja penjualan, BYD mencatatkan distribusi wholesales sebanyak 46.711 unit sepanjang 2025. Adapun penjualan ritel tercatat sebesar 44.342 unit pada periode yang sama.
Dari total capaian tersebut, Haka Auto menyumbang kurang dari 20% dari total penjualan BYD tahun lalu. Namun, perseroan optimistis kontribusi Haka Auto dapat meningkat seiring dengan perluasan jaringan dealer dan target ambisius BYD.





