Perang Iran vs AS-Israel Memanas, Harga BBM di Indonesia Bakal Naik?

bisnis.com
8 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA -- Pecahnya perang Iran-Israel di Timur Tengah diprediksi bakal membuat harga minyak dunia memanas sehingga bisa menekan Indonesia. Sebagai net importer energi, kondisi ini berpotensi mendorong penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) domestik.

Prasasti Center for Policy Studies menilai situasi geopolitik di Timur Tengah menjadi faktor krusial yang harus diantisipasi pemerintah. Kenaikan harga energi global dinilai tidak bisa dilepaskan dari risiko inflasi dan tekanan terhadap fiskal dalam negeri.

Policy and Program Director Prasasti Piter Abdullah menyebutkan bahwa tekanan terhadap harga BBM domestik hampir tidak terhindari ketika harga minyak dunia meningkat.

“Dalam situasi harga minyak naik, tekanan terhadap harga BBM domestik tentu meningkat,” ujarnya dalam taklimat resmi, Kamis (3/3/2026). 

Menurut dia, persoalannya bukan sekadar apakah harga BBM akan naik atau tidak sebagai imbas dari konflik di Timur Tengah. 

“Pertanyaannya adalah seberapa jauh pemerintah bisa menahan kenaikan itu dengan kemampuan fiskal yang terbatas,” imbuhnya.

Baca Juga

  • Siap-Siap! Harga BBM Pertalite-Pertamax Naik Imbas Perang Iran vs AS-Israel
  • Kompak Naik! Cek Daftar Harga BBM Pertamina, Shell, BP, Vivo Hari Ini 2 Maret
  • Daftar Harga BBM Terbaru Pertamina, Shell, BP AKR, Hingga Vivo per 1 Maret 2026, Mana Termurah?

Piter memaparkan bahwa Indonesia saat ini mengonsumsi hampir 1,5 juta barel minyak per hari. Sementara produksi dalam negeri tidak sampai setengah dari kebutuhan tersebut, tingkat ketergantungan impor masih sangat tinggi.

Kondisi itu membuat Indonesia sensitif terhadap fluktuasi harga minyak global dan pergerakan nilai tukar dolar AS. Kombinasi kenaikan harga energi dan pelemahan rupiah berpotensi memperbesar tekanan harga barang impor serta inflasi domestik.

Dari sisi fiskal, setiap kenaikan harga minyak dunia sebesar US$10 per barel berpotensi menambah beban subsidi energi sekitar Rp50 triliun. Angka tersebut menunjukkan konsekuensi besar apabila pemerintah memilih menahan kenaikan harga BBM melalui subsidi.

Menurut Piter, jika harga ditahan, beban APBN akan meningkat secara signifikan. Sebaliknya, jika harga dilepas mengikuti mekanisme pasar, tekanan inflasi dapat menguat dan memengaruhi daya beli masyarakat.

“Kenaikan harga energi akan memicu efek rambatan ke biaya produksi dan distribusi, sehingga tekanan inflasi bisa terjadi bertahap,” ujarnya.

Meski demikian, dari sisi pasar keuangan, dia menilai volatilitas global tidak otomatis memicu arus keluar modal besar-besaran. Struktur ekonomi Indonesia yang bertumpu pada pasar domestik dinilai memberi bantalan relatif terhadap guncangan eksternal.

Lebih lanjut, dia menekankan pentingnya koordinasi kebijakan fiskal dan moneter dalam menghadapi situasi ini. “Dampak perang ini besar, mulai dari harga BBM hingga tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Ini yang harus diantisipasi oleh otoritas,” kata Piter.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
5 Kelebihan Lenovo Legion Go Fold, Handheld Gaming Lipat Serba Bisa
• 22 jam lalumedcom.id
thumb
OTT KPK di Pekalongan, Bupati Fadia Arafiq Ditangkap
• 9 jam lalukompas.tv
thumb
Momen Hakim Peringatkan Kubu Gus Yaqut: Tidak Ada Suap dan Gratifikasi di Sidang Ini
• 6 jam laluliputan6.com
thumb
Perang Iran vs Israel dan AS Meletus, Densus 88 Awasi Ancaman Terorisme
• 3 jam lalukompas.com
thumb
Bank SMBC (BTPN) Kantongi Laba Bersih Rp506 Miliar di 2025
• 3 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.