Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara bersama Indonesia Investment Authority (INA) dan Chandra Asri Group resmi menandatangani Conditional Share Subscription Agreement (CSSA) untuk memperkuat kapasitas produksi soda kaustik (Caustic Soda) dan Ethylene Dichloride (EDC) di dalam negeri. Penandatanganan ini merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman (MoU) yang sebelumnya telah disepakati para pihak.
Kesepakatan ini merupakan komitmen untuk modal pembangunan pabrik Chlor Alkali-Ethylene Dichloride (CA-EDC) di Cilegon, Banten. Fasilitas ini akan dikembangkan dan dioperasikan oleh Chandra Asri Group sebagai bagian dari upaya memperkuat struktur industri petrokimia nasional.
Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, mengatakan perjanjian tersebut menegaskan komitmen Danantara Indonesia dalam memperkuat industri-industri strategis nasional yang memiliki nilai tambah tinggi, mampu menciptakan lapangan kerja, serta mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi Indonesia.
“Kolaborasi ini tidak hanya sebagai respon terhadap tantangan ketergantungan impor, tetapi juga sebagai langkah nyata untuk mempercepat hilirisasi, kunci penggerak ekonomi Indonesia,” sebut Pandu dalam keterangannya, dikutip Selasa (3/2).
Proyek CA-EDC tersebut ditujukan untuk menekan ketergantungan impor bahan baku strategis yang selama ini dibutuhkan berbagai sektor industri. Dengan bertambahnya kapasitas produksi soda kaustik domestik, diharapkan substitusi impor dapat meningkat secara signifikan sekaligus memperkuat ketahanan pasokan nasional.
Di sisi lain, produksi EDC tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik, tetapi juga membuka peluang peningkatan ekspor dan kontribusi devisa, seiring peningkatan daya saing industri kimia Indonesia.
Pembangunan pabrik CA-EDC tersebut memiliki nilai investasi sekitar USD 800 juta atau Rp 13,49 triliun (kurs Rp 16.859) yang masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN). Pandu menambahkan, soda kaustik akan dimanfaatkan sebagai bahan baku dalam berbagai proses produksi, mulai dari sabun dan deterjen, pemurnian alumina, hingga industri kertas. Sementara itu, EDC menjadi komponen utama yang menopang sektor konstruksi dan pengemasan.
Dalam skema investasi yang telah disepakati, Danantara dan INA akan berpartisipasi melalui penyertaan modal bersama senilai total USD 200 juta atau sekitar Rp 3,37 triliun. Dana tersebut dialokasikan untuk pembangunan fasilitas industri strategis CA-EDC yang akan dikelola oleh PT Chandra Asri Alkali (CAA).
Pengganti Sementara Ketua Dewan Direktur Indonesia INS, Eddy Porwanto, menyatakan investasi tersebut mencerminkan mandat jangka panjang INA untuk menggerakkan modal pada sektor-sektor prioritas nasional. Katanya, kolaborasi ini bertujuan membangun fondasi permodalan yang kuat guna mendukung pengembangan kapasitas industri bahan baku strategis secara berkelanjutan.
“Upaya ini diharapkan dapat mendorong hilirisasi, meningkatkan nilai tambah di dalam negeri, serta memperkuat daya saing dan ketahanan industri nasional,” kata Eddy.
Sementara itu, Presiden Direktur dan CEO Chandra Asri Group, Erwin Ciputra, menyampaikan pihaknya menyambut partisipasi Danantara dan INA sebagai mitra investasi strategis dalam proyek CA-EDC. Ia menilai proyek CA-EDC diharapkan dapat secara signifikan menekan ketergantungan impor bahan kimia strategis, memperkuat ketahanan rantai pasok nasional, serta mendukung agenda hilirisasi.
“Selain itu, pembangunan dan operasional fasilitas ini juga akan membuka peluang kerja baru sebanyak 3000 pada masa konstruksi dan 250 pada saat operasional serta memberikan dampak berkelanjutan bagi masyarakat dan industri di Cilegon dan sekitarnya,” tutur Erwin.
Adapun pada tahap awal, pabrik CA-EDC akan memiliki kapasitas produksi 400.000 ton soda kaustik kering dan 500.000 ton Ethylene Dichloride per tahun, dengan pengembangan berbasis teknologi dan standar keselamatan tinggi guna menjamin efisiensi, keandalan pasokan, serta keberlanjutan.





