Mengajarkan penerimaan diri pada anak adalah fondasi penting dalam membangun kepercayaan diri dan kesehatan mental jangka panjang. Ya, Moms terlebih ketika anak memiliki kondisi fisik yang berbeda, maka peran orang tua menjadi sangat krusial.
Momen ketika anak mulai menyadari perbedaannya bukanlah situasi yang harus dihindari, melainkan kesempatan emas untuk menanamkan nilai penerimaan diri. Anak sebenarnya sedang mencari satu hal yaitu rasa aman dan penerimaan. Di sinilah sikap tenang, jujur, dan terbuka dari orang tua menjadi kunci utama untuk anak.
Pentingnya Validasi Emosi AnakValidasi berarti mengakui perasaan anak sebelum memberikan penguatan. Menurut Psikolog Klinis Anak dan Remaja, Vera Itabiliana, M.Psi, Psikolog, respons orang tua sangat menentukan cara anak memaknai dirinya.
“Penjelasan yang diberikan secara jujur, sederhana, sesuai usia, serta tidak dramatis atau defensif yang perlu dilakukan untuk anak. Serta hindari respons negatif seperti, 'sudah, jangan dipikirkan' karena hal itu bisa membuat anak merasa emosinya tidak penting,” jelas Vera pada kumparanMOM beberapa waktu lalu.
Orang tua bisa mulai dengan merefleksikan perasaan anak seperti “Kamu sedih ya karena merasa berbeda?”
Dengan diberi izin untuk merasa kecewa atau malu, anak akan merada didengar, dimengerti, dan aman. Setelah itu baru masuk ke tahap selanjutnya, yaitu dengan menunjukkan rasa empati.





