Tel Aviv: Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu membantah tudingan bahwa Israel sengaja mendorong Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk terlibat perang dengan Iran.
Ia menyebut tudingan tersebut sebagai sesuatu yang sangat tidak masuk akal.
“Donald Trump adalah pemimpin terkuat di dunia. Dia melakukan apa yang menurutnya benar untuk Amerika. Dia juga melakukan apa yang menurutnya benar untuk generasi mendatang,” kata Netanyahu dalam wawancara dengan Fox News dan dikutip Anadolu Agency, Selasa, 3 Maret 2026.
Pernyataan itu muncul setelah The New York Times melaporkan bahwa Netanyahu memainkan peran sentral dalam mengarahkan Presiden AS Donald Trump menuju perang dengan Iran.
Laporan tersebut menyebut Netanyahu terus melobi Trump secara pribadi selama berbulan-bulan dan berupaya memastikan jalur diplomatik tidak menghambat rencana ofensif militer.
Menanggapi laporan itu, Netanyahu menegaskan bahwa Trump “memahami” ancaman yang ditimbulkan Iran dan tidak perlu diyakinkan untuk mengambil tindakan.
Merujuk pada Iran, ia menyatakan bahwa Teheran “berkomitmen untuk menghancurkan Anda,” ditujukan kepada Amerika Serikat.
“Entah orang memahami atau tidak, seorang pemimpin harus memahaminya. Donald Trump memahaminya. Anda tidak perlu menyeretnya ke dalam apa pun. Dia melakukan apa yang menurutnya benar, dan ini benar,” ujarnya. Keputusan Menyerang Iran Laporan The New York Times, yang mengutip sumber-sumber dengan pengetahuan langsung mengenai pembahasan internal termasuk pejabat AS dan Israel, diplomat, anggota parlemen, serta figur intelijen menggambarkan keputusan AS menyerang Iran sebagai kemenangan signifikan bagi Netanyahu.
Menurut laporan tersebut, Netanyahu pertama kali mengangkat kemungkinan menyerang fasilitas rudal Iran saat berkunjung ke kediaman Trump di Mar-a-Lago pada Desember. Dua bulan kemudian, ia disebut berhasil memperoleh keterlibatan AS yang lebih luas dalam kampanye yang bertujuan menggulingkan kepemimpinan Iran.
Israel sebelumnya mengumumkan telah meluncurkan serangan yang disebut sebagai tindakan preemtif terhadap Iran pada Sabtu dini hari dengan nama “Operation Lion’s Roar,” serta menetapkan status darurat “khusus dan segera” di seluruh negeri.
Serangan itu terjadi ketika perundingan antara Washington dan Teheran terkait program nuklir Iran masih berlangsung di bawah mediasi Oman. Putaran terbaru pembicaraan di Jenewa berakhir pada Kamis lalu.
Sejak Sabtu, serangan gabungan AS-Israel dilaporkan menewaskan sejumlah pejabat tinggi Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei. Teheran membalas dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan lokasi-lokasi terkait AS di negara-negara Teluk. Enam personel militer AS dilaporkan tewas dan sejumlah lainnya mengalami luka serius.
Baca juga: Kirim Surat ke Kongres AS, Trump Sebut Ancaman Iran Tak Dapat Ditoleransi Lagi




