Kematian Khamenei dan Dampaknya terhadap Zhongnanhai

erabaru.net
4 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara gabungan terhadap Iran, dan dalam serangan tersebut Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan tewas. Dalam waktu satu hari, situasi Iran berubah drastis, memicu dampak besar terhadap dinamika Timur Tengah dan bahkan tatanan global.

Kementerian Luar Negeri Tiongkok mengeluarkan pernyataan resmi yang mengecam keras tindakan militer AS dan Israel. Para analis menilai, kematian Khamenei membuat Beijing berada dalam posisi “senasib sepenanggungan”, karena strategi ekspansi luar negerinya kini mengalami pukulan berat.

Pada 1 Maret waktu setempat, televisi pemerintah Iran IRIB mengonfirmasi bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, telah meninggal dunia pada usia 86 tahun.

Pada dini hari 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel secara mendadak melancarkan operasi militer dengan sandi “Amarah Epik”. Serangan tersebut menargetkan kediaman dan kantor Khamenei, lokasi pertemuan pejabat tinggi, serta fasilitas militer penting termasuk basis uji coba nuklir. Serangan dilakukan secara presisi melalui gelombang serangan udara.

Tak lama setelah itu, muncul laporan bahwa Khamenei kemungkinan besar telah tewas akibat pemboman tersebut. Namun pihak Iran sempat membantah kabar itu dan bahkan menyatakan dengan penuh keyakinan bahwa Khamenei akan menyampaikan pidato “dalam beberapa menit ke depan”.

Media resmi Tiongkok, Xinhua, yang dikenal sebagai corong partai komunis Tiongkok (PKT), mengutip sepenuhnya pernyataan Iran tersebut. Namun setelah beberapa jam berlalu, Khamenei tetap tidak muncul untuk memberikan pidato.

Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump secara terpisah menyatakan bahwa mereka yakin Khamenei telah meninggal dunia. Pada akhirnya, pemerintah Iran tidak dapat lagi menutupinya dan resmi mengumumkan kabar kematian tersebut.

Peneliti dari Institut Riset Pertahanan dan Keamanan Nasional Taiwan, Shen Mingshi, mengatakan bahwa wafatnya pemimpin tertinggi atau tewasnya banyak jenderal senior Garda Revolusi dapat mendorong rakyat Iran bangkit untuk menggulingkan rezim, atau setidaknya melemahkan semangat tempur aparat militer. Jika terjadi pergantian rezim di Iran, dampaknya terhadap Timur Tengah maupun dunia akan sangat besar.

Shen juga menilai, jika rezim Iran yang selama ini dicap sebagai pendukung terorisme runtuh, maka kelompok seperti Hamas dan milisi Houthi akan kehilangan penopang utama. Apabila kemudian muncul pemerintahan Iran yang lebih pro-Amerika, hal itu akan menjadi pukulan besar bagi Beijing.

Menurut Shen, perubahan di Timur Tengah juga akan memengaruhi tatanan global. Setelah menyelesaikan persoalan Iran, Amerika Serikat diperkirakan akan meningkatkan tekanan terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin agar menghentikan perang, dan selanjutnya memusatkan perhatian pada Partai Komunis Tiongkok.

Ia menyebut bahwa efek domino telah mulai terlihat: dimulai dari Venezuela, lalu Iran, kemungkinan berikutnya Rusia, dan akhirnya Tiongkok.

Diktator Venezuela Nicolás Maduro, yang juga dianggap sekutu dekat Beijing, sebelumnya dilaporkan ditangkap dalam operasi militer Amerika pada awal tahun ini. Kini, kematian Khamenei semakin membuat Tiongkok terisolasi dan merasakan tekanan strategis yang besar.

Analis politik Chen Pokong menyatakan bahwa meskipun sasaran Amerika belum langsung mengarah ke Beijing, Zhongnanhai, Xi Jinping, atau Partai Komunis Tiongkok, namun jaringan dan pijakan global mereka telah dipangkas. Venezuela dan Iran merupakan negara penghasil minyak utama yang selama ini menjadi penopang vital bagi kebutuhan energi dan ekonomi Tiongkok.

Chen menambahkan bahwa ekspor minyak Venezuela kini telah berada di bawah kendali Amerika Serikat. Jika Iran mengalami nasib serupa, maka jalur vital energi dan ekonomi Tiongkok akan semakin berada dalam pengaruh Washington.

Selain itu, langkah ini juga disebut berdampak terhadap proyek ambisius “Sabuk dan Jalan” Xi Jinping. Venezuela merupakan basis penting di Amerika Latin, sedangkan Iran menjadi pijakan utama di Timur Tengah. Jika kedua negara itu kehilangan pengaruh, maka inisiatif global tersebut dianggap terpotong secara signifikan.

Sesuai rencana, Presiden Trump dijadwalkan berkunjung ke Tiongkok pada akhir Maret. Serangan “pemenggalan kepemimpinan” terhadap elite Iran ini dinilai sebagai sinyal kuat sebelum pertemuan tersebut.

Chen berpendapat, langkah itu membuat Xi Jinping berada dalam posisi sulit. Jika terjadi perundingan ekonomi atau kesepakatan lain antara kedua negara, Xi kemungkinan besar akan berada pada posisi yang harus mengalah, sementara Trump akan tampil sebagai pihak yang lebih unggul.

Selain Khamenei, sejumlah pejabat tinggi Iran juga dilaporkan tewas, termasuk Komandan Garda Revolusi Pakpour dan Menteri Pertahanan Nasirzadeh. Seorang pejabat keamanan nasional Israel mengatakan kepada Fox News bahwa sekitar 40 pejabat tinggi Iran tewas dalam operasi tersebut, yang disebut sebagai salah satu operasi “pemenggalan kepemimpinan” terbesar dalam sejarah perang modern. (jhon)

Sumber : NTDTV.com

Zhongnanhai : Komplek dan kantor pusat partai komunis Tiongkok di Beijing


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Buruh Undang Prabowo Resmikan Museum Marsinah di Nganjuk
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Undang Presiden dan Wapres Terdahulu, Prabowo Ingin Dengar Masukan tentang Geopolitik Terkini
• 2 jam laluidxchannel.com
thumb
Siapa Eko Saputra, Wasit yang Anulir Gol Kakang Rudianto di Laga Persib Bandung Vs Persebaya Surabaya
• 22 jam lalutvonenews.com
thumb
Gunung Lewotobi Laki-Laki Erupsi Berulang Kali, Lontaran Kolom Abu Ribuan Meter
• 5 jam lalutvrinews.com
thumb
Praperadilan Paulus Tannos dalam Kasus E-KTP Ditolak Hakim, Ini Alasannya
• 3 jam lalusuara.com
Berhasil disimpan.