REPUBLIKA.CO.ID, ISLAMABAD -- Menteri Pertahanan (Menhan) Pakistan, Khawaja Asif, menilai zionisme sebagai ideologi yang mengancam nilai-nilai kemanusiaan. Lebih lanjut, ia memandang paham yang mewujud "negara Yahudi" Israel itu sebagai faktor pendorong konflik-konflik yang melanda dunia Islam.
Terbaru, Asif mengatakan, zionisme menyeret Iran ke dalam pusaran perang. Kondisi ini seketika mengguncang kawasan Asia Barat dan situasi global pada umumnya.
Baca Juga
Kepanikan Rumah Sakit di Iran saat Diserang Israel
Laporan: 787 Warga Sipil Iran Syahid Akibat Serangan AS-Israel
PTPN I Laporkan 13 Kasus Dugaan Pengerusakan Kebun Teh di Jabar ke Polisi, 300 Ribu Pohon Teh Rusak
“Sejak berdirinya Israel di tanah Palestina hingga hari ini, setiap bencana yang menimpa dunia Islam, setiap perang yang dipaksakan kepada mereka, menunjukkan adanya campur tangan langsung maupun tidak langsung dari ideologi zionis,” ujar Asif dalam unggahan di akun media sosialnya, dilansir Aljazirah pada Selasa (3/3/2026).
Pakistan memiliki kekuatan nuklir yang menjadi "perisai" untuk menghadapi pelbagai ancaman dari luar. Menurut Asif, perang yang "dipaksakan" terjadinya pada Iran berpotensi menjadi ancaman keamanan bagi negaranya. Padahal, ia menilai, Teheran telah menunjukkan kesiapan untuk mencapai kesepakatan dalam perundingan dengan AS.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Terpisah, Pemerintah China mengecam serangan AS terhadap Iran. Beijing juga mendesak agar perundingan terkait program nuklir Teheran segera dilanjutkan. Bagaimanapun, pihaknya menghormati “hak sah Iran" untuk menggunakan energi nuklir secara damai.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) China, Mao Ning, menyatakan, serangan AS yang dilakukan di tengah berlangsungnya proses negosiasi merupakan pelanggaran hukum internasional. Aksi militer Washington, yang didukung Israel, juga telah mencederai prinsip-prinsip dasar hubungan internasional.
“Isu nuklir Iran pada akhirnya harus kembali ke jalur penyelesaian politik dan diplomatik,” ujar Mao, dilansir Aljazirah, Selasa (3/3/2026).
View this post on Instagram
A post shared by Republika Online (@republikaonline)