Jejak Setoran Anak Jalanan Penual Tisu di Jakpus...

kompas.com
1 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Tak semua uang hasil penjualan tisu yang diperoleh anak-anak di jalanan Jakarta Pusat benar-benar mereka pegang sendiri.

Sejumlah anak mengaku harus “mengumpulkan” atau “menyetorkan” sebagian hasil jualannya kepada pihak tertentu, meski mereka enggan menyebutkan secara jelas kepada siapa uang itu diberikan.

Pengakuan itu muncul dari percakapan Kompas.com dengan beberapa anak yang berjualan di sekitar Stasiun Gondangdia dan Stasiun Cikini, Senin (2/3/2026).

Bagas (13), bukan nama sebenarnya, sudah hampir dua tahun berjualan tisu di jalanan sekitar Stasiun Gondangdia.

Remaja asal Kampung Rawa, Johar Baru, Jakarta Pusat itu berhenti sekolah sejak kelas lima SD setelah orangtuanya berpisah. Kini, ia tinggal bersama neneknya di rumah petak sederhana.

“Awalnya (berjualan tisu) ikut teman. Dikasih tahu tempatnya di sini ramai,” ujar Bagas saat ditemui.

Dalam sehari, Bagas mengaku memperoleh Rp 20.000-40.000 dari berjuslan tisu saat kondisi ramai. Namun, uang itu tidak sepenuhnya menjadi miliknya.

“Enggak semuanya buat saya. Ada yang disetor,” kata Bagas pelan.

Saat ditanya kepada siapa uang itu diberikan, Bagas tak menyebut nama. Ia hanya mengatakan ada “abang” yang biasa mengambil setoran pada sore hari.

“Pokoknya nanti ada yang ngambil. Kalau enggak setor, enggak boleh jualan di sini,” ujar dia.

Baca juga: Dari Stasiun hingga Lampu Merah, Potret Anak-anak Penjual Tisu di Jakarta

Menurut Bagas, di titik-titik tertentu sudah ada pembagian wilayah. Anak-anak baru biasanya diarahkan oleh yang lebih tua.

“Kalau mau di sini ya ikut aturan,” ucap Bagas singkat.

Setiap hari, Bagas membawa sekitar 25 bungkus tisu. Dari jumlah itu, minimal 20 bungkus harus terjual.

“Satu hari harus setor Rp 40.000,” katanya.

Jika tak mencapai jumlah tersebut, kata Bagas, ia bakal mendapat teguran.

“Dimarahin. Dibilang malas,” ucap Bagas.

Dari total penjualan yang bisa mencapai Rp 50.000 saat ramai, Bagas hanya membawa pulang sekitar Rp 15.000-20.000. Pada hari sepi, jumlah itu bisa lebih kecil karena dagangan hanya terjual separuh.

“Kalau hujan, susah. Orang pada tutup kaca,” ujar dia.

Tak jauh dari situ, di perempatan dekat Stasiun Cikini, Rizky (11) tampak berlari kecil menghampiri mobil-mobil yang berhenti.

Warga Menteng Atas, Jakarta Selatan, itu mengaku sudah delapan bulan berjualan tisu.

“Biasanya dari jam dua siang sampai maghrib. Kalau lagi ramai bisa dapat Rp 30.000,” kata Rizky.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Ia adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Ayahnya buruh bangunan lepas, ibunya ibu rumah tangga. Rizky pernah bersekolah, tetapi tak lanjut.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dulu Melatih Timnas, Pelatih Kelahiran Brazil ini mulai Membangun Pemain Sepakbola Perempuan Indonesia
• 16 jam lalutvonenews.com
thumb
Gempa Terkini: Sinabang Aceh Diguncang Gempa Magnitudo 6,4
• 7 jam lalutvonenews.com
thumb
Garda Revolusi Iran Mengamuk: Pangkalan Militer AS di Bahrain Terbakar, Kedubes di Saudi Kena Dampak
• 5 jam laluharianfajar
thumb
Iran Tutup Selat Hormuz, Peringatkan Kapal yang Mencoba Lewat Akan Diserang
• 11 jam laluokezone.com
thumb
IHSG Ditutup Melemah 0,96 Persen ke 7.939
• 3 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.