Bisnis.com, JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatatkan bahwa kredit buy now pay later (BNPL) perbankan tumbuh dua digit pada awal 2026.
Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyampaikan bahwa baki debet kredit BNPL perbankan per Januari 2026 mencapai Rp27,1 triliun atau tumbuh 20,15% secara tahunan (year-on-year/YoY), meningkat dibandingkan pertumbuhan Desember 2025 yang sebesar 19,32% YoY.
"Jumlah rekening BNPL tercatat 31,23 juta, naik tipis dari 31,21 juta pada bulan sebelumnya," katanya dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Selasa (3/3/2026).
Adapun secara keseluruhan, kredit perbankan pada Januari 2026 tumbuh 9,96% YoY, lebih tinggi dibandingkan Desember 2025 yang sebesar 9,63% YoY.
Berdasarkan jenis penggunaan, kredit investasi masih menjadi motor pertumbuhan dengan kenaikan 22,38% YoY, diikuti Kredit Konsumsi sebesar 6,58%, dan Kredit Modal Kerja 4,13%. Dari sisi kategori debitur, kredit korporasi tumbuh 16,07% YoY, sementara kredit bank BUMN meningkat 13,43% YoY.
Di sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 13,48% YoY menjadi Rp10.076 triliun. Pertumbuhan ditopang giro yang naik 19,75%, deposito 12,61%, dan tabungan 8,27%.
Baca Juga
- Kondisi Ekonomi hingga Persaingan Ketat jadi Tantangan Paylater pada 2026
- Debitur Paylater Melonjak 49,23% per Desember 2025, Milenial dan Gen Z Dominan
- Bisnis Paylater Multifinance Hadapi Sederet Tantangan Ini meski Tetap Prospektif
Likuiditas industri tetap memadai dengan rasio Alat Likuid terhadap Non-Core Deposit (AL/NCD) sebesar 121,23% dan Alat Likuid terhadap DPK (AL/DPK) 27,54%, masih jauh di atas ambang batas masing-masing 50% dan 10%. Sementara, Liquidity Coverage Ratio (LCR) berada pada level 197,92%.
Dari sisi risiko, kualitas kredit relatif terjaga meski menunjukkan kenaikan tipis. Rasio kredit bermasalah (NPL) gross tercatat 2,14%, naik dari 2,05% pada Desember 2025. NPL net berada di level 0,82%, sedangkan Loan at Risk (LaR) sebesar 9,01%.
Sementara itu, profitabilitas industri perbankan sedikit tertekan dengan return on assets (ROA) sebesar 2,49% dari sebelumnya 2,53%. Permodalan tetap solid dengan capital adequacy ratio (CAR) sebesar 25,87%, memberikan ruang buffer yang kuat di tengah ketidakpastian global.





