Melihat Anak Berkebutuhan Khusus Mengisi Ramadan di Ponpes Kudus

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita

Satu per satu anak-anak mengenakan sarungnya. Ada yang masih perlu dibantu, ada pula yang sudah sigap merapikan pecinya. Di pesantren anak berkebutuhan khusus (ABK) di Kudus ini, Ramadan dijalani dengan cara sederhana, tetapi penuh makna.

Pesantren ini bernama Al-Achsaniyyah, lokasinya di RT 4, RW 3, Desa Pedawang, Kudus. Di ponpes itu terdapat 120 ABK. Mereka berasal dari berbagai daerah di Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan daerah lainnya.

Mereka yang berada di ponpes merupakan ABK autis dan down syndrome berusia 6 hingga 36 tahun. ABK autis paling banyak di ponpes ini. Jumlah siswa putra sebanyak 100 anak, sedangkan siswi putri 20 anak. Mereka ada yang masih memiliki orang tua, ada juga yang yatim piatu.

Sementara itu, jumlah pengasuh yang ada di Pondok Pesantren Al-Achsaniyyah berjumlah 133 orang.

Siang itu, Selasa (3/3) 21 santri sedang bersiap melaksanakan salat zuhur didampingi lima pengasuhnya. Mereka mampu melakukan salat dengan baik meski belum seluruhnya serempak pada tiap gerakan salat.

Seusai melaksanakan salat zuhur, mereka membaca Al-Quran. Ada berbagai surat pendek yang dibaca bersama-sama. Ada juga yang melanjutkan kegiatan berlatih rebana.

Mereka yang berlatih rebana tampak lihai seperti grup rebana lainnya. Mereka mencari posisinya masing-masing di grup tersebut.

Pimpinan Ponpes Al-Achsaniyyah, Moh Faiq Afthoni, mengatakan ratusan ABK mengikuti berbagai kegiatan Ramadan. Mulai dari salat lima waktu, puasa, tarawih, buka puasa bersama, dan lainnya.

"Mereka bisa mengikuti berbagai kegiatan Ramadan di sini layaknya orang pada umumnya. Ada yang bisa hafal surat pendek," katanya saat ditemui di lokasi, Selasa (3/3).

Membaca Asmaul Husna juga rutin dilakukan. Selain itu, setiap waktu salat tiba, masing-masing ABK bergantian menjadi imam.

"Secara tidak langsung mereka bisa menghafal surat-surat pendek Al-Quran. Walaupun mungkin tajwidnya belum bagus, itu tidak masalah," sambungnya.

Ia menyampaikan, selain kegiatan Ramadan, ratusan ABK juga masih bersekolah di beberapa sekolah yang ada di Kota Kretek ini. Pihak pondok pesantren juga membekali mereka dengan kemampuan seperti desain grafis, melukis, ceramah, dan lainnya.

Mereka yang berada di pondok pesantren memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Setiap ABK juga memiliki tingkat keaktifan yang berbeda.

"Setiap ada yang mau masuk ke sini, kami skrining dahulu kelemahan dan kelebihan mereka. Selain itu, kami pelajari karakter mereka, termasuk saat tantrum," terangnya.

Hal terpenting yang menjadi pedoman yakni menjaga pola makan. Ada beberapa makanan yang harus dihindari oleh ABK seperti mi instan dan keju.

"Makanya kalau ada kunjungan orang tua, kami selalu ingatkan agar jangan memberi makanan yang membuat anak menjadi tantrum," ujarnya.

Para ABK yang berada di Pondok Pesantren Al-Achsaniyyah diperbolehkan dijenguk orang tua, biasanya setelah sebulan pertama masuk. Penjengukan diperbolehkan sepekan sekali atau sebulan sekali.

Moh Faiq Afthoni dahulunya merupakan alumni Pondok Modern Ar-Risalah. Ia juga pernah menempuh pendidikan di Al-Azhar. Sepulangnya ke Tanah Air, ia berkeinginan membangun pondok pesantren.

Awalnya ia berkiblat ke pondok pesantren di Gontor, Jawa Timur. Namun, ketika melihat seorang anak autis di perempatan jalan, ia berubah pikiran.

"Ketika melihat anak autis mengamen di bangjo, dari situlah saya ingin mendirikan pondok untuk anak berkebutuhan khusus," ujarnya.

Membawa para anak autis di jalanan terkadang membuatnya bertabrakan dengan para preman. Namun, ia tak pernah menyerah karena ingin memberikan tempat yang lebih layak bagi ABK.

Kini, sudah 19 tahun dirinya mengurus para ABK di pondok pesantren. Dari awalnya tiga ABK, kini sudah 120 ABK didampinginya. Sumber dana operasional berasal dari orang tua ABK yang mampu serta dana pribadi miliknya.

"Kami juga bekerja sama dengan rumah sakit di Kudus apabila ada anak-anak yang mengalami sakit," ujarnya.

Di sisi lain, pihaknya berharap adanya bantuan dari pemerintah untuk operasional pondok pesantren. Selain itu, kapasitas pondok pesantren saat ini sudah penuh sehingga dirinya tak dapat menerima ABK lagi.

"Keinginan kami, pemerintah bisa ikut membantu. Karena operasional kami juga berat. Sebenarnya banyak yang mau masuk ke sini. Tetapi tempat kami sudah penuh," ucapnya.

Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Achsaniyyah, Indri Setiarini, mengatakan anak-anak menjalankan kegiatan Ramadan dengan baik. Mereka mampu mandiri untuk menunaikan ibadah, meskipun beberapa di antaranya masih perlu dipandu.

"Respons mereka selama mengikuti kegiatan Ramadan ini bagus. Ada yang sudah tahu kapan harus salat, tadarus, dan berbuka puasa," ujarnya.

Sesekali memang ada ABK yang tantrum. Namun, hal itu dapat disikapi dengan sabar. Pada akhirnya mereka mau untuk dibimbing.

"Menghadapi ABK ini memang harus sabar karena mereka anak-anak khusus. Tetapi mereka sebenarnya bisa mandiri," ucapnya.

Sementara itu, salah seorang ABK, Dino Pratama Putra, mengaku bisa mengikuti kegiatan di pondok pesantren. Ia bahkan sudah lima tahun berada di pondok pesantren.

"Saya biasanya membaca surat-surat pendek. Di sini saya kerasan karena banyak teman-temannya," imbuhnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Waspada! Potensi Hujan Lebat di Jawa-Bali saat Mudik Lebaran 2026
• 7 jam laludetik.com
thumb
Ledakan Guncang Kawasan Diplomatik Riyadh, Markas Penyiaran Iran Luluh Lantak
• 13 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Langkah Mudah Menjahit Pakaian Robek di Rumah
• 19 menit lalubeautynesia.id
thumb
Konflik Timur Tengah, KSPSI Dorong Pemerintah Lindungi Daya Beli
• 3 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Prakiraan Cuaca Jakarta Selasa, 3 Maret 2026: BMKG Prediksi Hujan Ringan Sepanjang Hari
• 16 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.