JAKARTA, KOMPAS.com — Keberadaan pengatur lalu lintas liar atau "Pak Ogah" di wilayah Grogol Petamburan, Jakarta Barat, menuai sorotan.
Mereka diduga melakukan pungutan liar (pungli) dengan cara menahan kendaraan dan memicu kemacetan, terutama di sekitar proyek flyover Jalan Prof. Dr. Latumeten.
Anggota DPRD Provinsi DKI Jakarta Fraksi PDI Perjuangan, Hardiyanto Kenneth, mengaku menerima laporan langsung dari masyarakat terkait praktik tersebut.
Menurut dia, para pak ogah kerap menahan kendaraan yang tidak memberikan uang sehingga arus lalu lintas tersendat.
Baca juga: Pak Ogah yang Kerap Tutup Paksa Jalan Jakbar Dirazia, Pedagang Liar Turut Ditertibkan
"Pak Ogah ini kalau enggak dikasih uang, dia nahan-nahan mobil. Jadi orang enggak boleh lewat, jadi panjang tuh (macetnya). Kalau yang dari lurus enggak ngasih uang, ditahan tuh sampai gang kosong baru boleh jalan, jadi enggak habis-habis macetnya," ungkap Kenneth di lokasi, Selasa (3/3/2026).
Ia menilai praktik tersebut memperparah kemacetan, terlebih di area proyek flyover yang memang sudah padat.
"Ini sangat mengganggu, karena hitungan detik saja kendaraan berhenti, ini bisa menimbulkan kemacetan yang luar biasa panjangnya," ucap Kenneth.
Kenneth yang turut hadir dalam operasi penertiban Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) juga menyinggung persoalan urbanisasi. Ia menyebutkan warga pendatang yang ingin mengadu nasib di Jakarta seharusnya memiliki keterampilan.
"Semua boleh datang untuk mengadu nasib di Jakarta, tapi tentunya harus mempunyai skill. Jangan cuma bawa badan, enggak punya kemampuan apa-apa, ujung-ujungnya kan di Jakarta malah nyusahin, meresahkan orang," ujarnya.
Baca juga: Pak Ogah yang Meresahkan di Jakbar Dibina di Panti Sosial 20 Hari
100 personel gabungan dikerahkanMenindaklanjuti keluhan warga yang sempat viral di media sosial, sebanyak 100 personel gabungan dari Satpol PP, Dinas Perhubungan, dan Dinas Sosial menggelar operasi penertiban PPKS di wilayah Grogol Petamburan.
Camat Grogol Petamburan, Raditian Ramajaya, mengatakan operasi dimulai pukul 16.30 WIB dan menyasar tujuh kelurahan.
"Kami tahu sempat minggu kemarin viral terkait dengan banyaknya Pak Ogah ataupun PPKS di wilayah kita yang melaksanakan pungli ataupun pemaksaan-pemaksaan kepada warga yang melintas," ujar Raditian saat memimpin apel pasukan.
"Titik-titik utamanya kami sudah petakan, ada di Latumenten, ada di Tubagus Angke, maupun di Daan Mogot. Itu menjadi titik fokus kita," sambungnya.
Dari hasil operasi, delapan orang yang masuk kategori PPKS terjaring dan akan dibina di panti sosial milik Dinas Sosial DKI Jakarta.
Kenneth menambahkan, penertiban selanjutnya juga akan menyasar tunawisma yang tinggal di kolong jembatan layang di kawasan tersebut. Ia mendorong agar warga yang memiliki KTP DKI Jakarta dapat direlokasi ke rumah susun.
Baca juga: 9 Pak Ogah di Latumeten Jakbar Ditangkap, Sering Pungli dan Bikin Macet
Sementara itu, area kolong jembatan direncanakan akan ditata menjadi fasilitas umum dan sarana olahraga.
"Nanti juga kan mungkin kolong jembatan Latumenten ini kalau sudah jadi mau dibikin lapangan skateboard, dibikin taman, mungkin sarana olahraga yang lain kayak mini soccer dan lain-lain," tutur Kenneth.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




