Jalur Kapal Dagang Terdampak Konflik Timur Tengah, Potensi Kerugian Eksportir Capai 80%

bisnis.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Ekonom melihat adanya potensi kerugian 44% hingga 80% terhadap margin para eksportir sebagai dampak ditutupnya ruang udara dan laut di Timur Tengah akibat konflik AS—Israel vs Iran.

Strategic Research Manager Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet menjelaskan, keputusan kapal-kapal untuk memutar lewat Tanjung Harapan bukanlah sekadar perkara ganti rute, melainkan perubahan besar dalam struktur biaya perdagangan.

Secara persentase, dalam perhitungan kasar, margin eksportir berpotensi terpangkas hingga lebih dari 80% dari proyeksi laba awal.

“Tergantung struktur biaya dan kemampuan negosiasi masing-masing perusahaan. Namun, ini perhitungan kasar dan akan ditentukan oleh banyak faktor antarperusahaan,” ujarnya kepada Bisnis, Selasa (3/3/2026).

Hal itu bukan tanpa sebab. Rute yang lebih panjang berarti waktu tempuh bertambah, konsumsi bahan bakar naik, biaya sewa kapal meningkat, dan premi asuransi ikut terdorong. Pada akhirnya, tarif pengiriman melonjak.

Bagi eksportir Indonesia, terutama yang menjual komoditas seperti CPO, karet, atau tekstil ke Eropa, kenaikan ongkos ini langsung memangkas margin.

Baca Juga

  • Pengusaha Logistik Cari Rute Alternatif Ekspor Imbas Jalur Timur Tengah Lumpuh
  • Kinerja Ekspor-Impor Jabar Januari 2026 Moncer, Neraca Dagang Tetap Surplus US$2,12 Miliar
  • Mentan Lepas Ekspor Produk Unggas Senilai Rp18,2 Miliar ke 3 Negara

Yusuf memberikan contoh untuk Crude Palm Oil (CPO) dengan pengiriman ke Pelabuhan Rotterdam.

Jika dalam kondisi normal melalui Terusan Suez harga CPO CIF Eropa berada di kisaran US$900 per metrik ton, dengan biaya angkut sekitar US$60–US$80 per ton dan margin bersih eksportir rata-rata 10%–15% (atau sekitar US$90–US$135 per ton), maka struktur keuntungan masih relatif sehat.

Namun, ketika kapal harus memutar melalui Tanjung Harapan, waktu pelayaran bertambah 10–14 hari sehingga biaya freight berpotensi melonjak 80%–100% menjadi sekitar US$140–US$150 per ton.

“Artinya ada tambahan beban sekitar US$70 per ton, ditambah biaya dana tertahan akibat perpanjangan cash conversion cycle sekitar US$3–US$5 per ton, sehingga total ekstra beban bisa mendekati US$75 per ton,” jelasnya.

Karena pasar CPO sangat kompetitif dan bersaing dengan jenis minyak nabati lainnya, eksportir sering kali tidak bisa sepenuhnya meneruskan kenaikan biaya ini kepada pembeli. Akibatnya, tambahan beban tersebut langsung memangkas margin.

Yusuf menghitung, jika margin awal berada di kisaran US$90–US$135 per ton lalu dikurangi tambahan biaya sekitar US$75 per ton, maka sisa margin hanya tinggal sekitar US$15–US$60 per ton.

Di dalam negeri, pengusaha logistik tengah mencari rute alternatif ekspor ke Eropa. Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Mahendra Rianto menyampaikan, maskapai enggan mengangkut muatan ekspor ke Eropa, sementara jalur laut yang melewati Timur Tengah juga berisiko.

Pihaknya pun tengah menentukan jalur alternatif, baik udara maupun laut, agar barang tetap dapat dikirim meski biaya otomatis membengkak. Mengingat, saat ini tidak ada penerbangan langsung (direct flight) dari Indonesia ke Eropa.

Dari sisi laut, pengiriman ekspor rutin dari Sumatra dan Jakarta pun tertahan hingga waktu yang belum dapat ditentukan.

Sementara itu, barang yang harus segera dikirim, misalnya alat medis, terpaksa dikirim melalui jalur memutar lewat Tanjung Harapan atau Cape of Good Hope di Afrika Selatan.

“Itu akan menambah biaya angkutan lautnya [dengan jalur memutar]. Dengan harga BBM saat ini, tarifnya kemungkinan bisa naik 50%,” ujarnya kepada Bisnis, dikutip Selasa (3/3/2026).


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Usai Tuai Kritikan, Gubernur Kaltim Kembalikan Mobil Dinas Mewah Senilai RP8.5 Miliar| KOMPAS PAGI
• 13 jam lalukompas.tv
thumb
Perang AS-Iran Memanas! Pemerintah Pastikan Pelindungan untuk Pemulangan Jamaah Umrah
• 19 menit laluokezone.com
thumb
Bupati Pekalongan Fadia Arafiq Kena OTT KPK, Golkar: Kami Prihatin dan Menyesal
• 10 jam laluliputan6.com
thumb
Mobil Dinas Gubernur Kaltim Rp 8,49 M Belum Pernah Dipakai, Dana Kembali ke Kas
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
Tol Bawen-Yogyakarta Ditargetkan Fungsional H-10 Lebaran 2026 untuk Urai Kemacetan Simpang Bawen
• 18 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.