BANDUNG, KOMPAS- Jenazah pasangan suami istri asal Pakistan, Mohammad Afzal (56) dan Firza Afzal (47) yang bermukim di Kabupaten Bogor ditemukan di Padalarang, Bandung Barat, Jawa Barat, Selasa (3/3/2026). Keduanya diduga dibunuh dalam sebuah peristiwa pencurian dengan kekerasan.
Mohammad Afzal dan istrinya Firza Afzal ditemukan tewas dalam sebuah minibus berwarna silver, di pinggir jalan Kampung Pamucatan, Sesar Ciburuy, Kecamatan Padalarang, pukul 09.00 WIB.
Diketahui Afzal telah berkewarganegaraan Indonesia, sedangkan istrinya Firza masih berkewarganegaraan Pakistan. Sehari-hari keduanya bermukim di Kampung Citeko, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor. Jarak antara Bogor dan Bandung Barat sekitar 100 kilometer.
Jenazah mereka ditemukan aparat dari Polres Bogor dan Polres Cimahi. Saat itu,tubuh kedua korban hanya ditutupi karung dan terpal. Pasutri ini disebut tewas dibunuh dua pekerja di tempat usaha mereka.
"Pada tubuh kedua korban ditemukan luka sabetan senjata tajam," kata Kepala Seksi Hubungan Masyarakat Polres Cimahi Inspektur Satu Gofur Supangkat.
Gofur menuturkan, kasus ini bermula dari laporan kerabat korban yang menemukan rumah dalam kondisi berantakan. Mobil korban pun hilang.
Kerabat korban pun melaporkan peristiwa ini ke Polres Bogor, Senin kemarin. Dalam waktu 24 jam, polisi menangkap kedua pelaku. Diduga, keduanya sakit hati atas perbuatan dan perkataan korban.
"Dari keterangan pelaku, Polres Bogor bersama kami menyisir dan menemukan jenazah kedua korban di Padalarang, " tuturnya.
Sementara itu, Kepala Satuan Reskrim Polres Bogor Ajun Komisaris Anggi Eko Prasetyo menambahkan, proses otopsi jenazah kedua korban tengah berlangsung di salah satu rumah sakit di Bogor. Upaya ini dilakukan untuk melancarkan proses penyidikan.
"Hingga saat ini kami masih mendalami motif kedua pelaku yang tega menghabisi korban, " ucap Eko.
Kriminolog dari Universitas Indonesia, Arthur Josias Simon Runturambi, dalam publikasi Kompas.id (18 Mei 2024) menambahkan, motif pembunuhan tidak semata atau melulu karena ingin menguasai harta korban. Motif sakit hati kerap membuat pelaku gelap mata menghabisi nyawa korban.
Menurutnya, motif sakit hati itu biasanya terjadi oleh orang-orang terdekat atau kenalan. Berkaca pada kasus-kasus sebelumnya, membunuh menjadi jalan terakhir menyelesaikan masalah.
Dalam keadaan normal, kasus pembunuhan tidak serta-merta terjadi begitu saja meski seseorang tersebut dibalut emosi dan sakit hati.
Dalam alam bawah sadar, lanjut Arthur, seseorang itu telah mendapatkan pengetahuan terkait pembunuhan dari informasi di media dan gim serta pengalaman masa lalu.
"Meski tidak ada catatan kriminal, dari dorongan emosi tinggi karena sakit hati dan berbagai tekanan yang tidak bisa diselesaikan, seseorang bisa sangat gelap mata mengakhiri hidup orang lainnya, " papar Arthur.





