MEDAN, KOMPAS — Gempa bumi berkekuatan M 6,1 mengguncang Kabupaten Simeulue, Aceh, Selasa (3/3/2026). Tidak ada laporan kerusakan atau korban akibat gempa itu. Gempa bumi dangkal akibat aktivitas subduksi Lempeng Indo-Australia menunjam ke Lempeng Eurasia itu tidak berpotensi tsunami.
Pelaksana Tugas Direktur Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Rahmat Triyono menjelaskan, pusat gempa itu berlokasi di laut pada jarak 69 kilometer arah tenggara Sinabang, Aceh, pada kedalaman 26 km.
”Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan naik atau thrust fault,” kata Rahmat.
Rahmat menyebut, gempa utama terjadi pada pukul 11.56 WIB dengan laporan awal berkekuatan M 6,4. Hasil analisis BMKG menunjukkan gempa bumi ini memiliki parameter update dengan magnitudo M 6,1.
Gempa bumi ini berdampak dan dirasakan di daerah Aceh Singkil, Aceh Barat Daya, Nagan Raya, dan Simeulue dengan skala intensitas IV MMI. Gempa pada skala ini dirasakan orang banyak di dalam rumah jika terjadi pada siang hari.
Gempa juga dirasakan di daerah Nias dan Pinangsori dan daerah Sumut lainnya dengan skala intensitas lebih rendah. ”Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami,” kata Rahmat.
Hingga pukul 12.18 WIB, hasil monitoring BMKG menunjukkan adanya satu aktivitas gempa bumi susulan dengan kekuatan M3,2.
Ajmal Arif, warga Desa Samai, Kecamatan Teluk Dalam, Simeulue, mengatakan, warga panik saat gempa mengguncang Simeulue. ”Kami keluar rumah setelah merasakan guncangan gempa,” kata Arif.
Gempa membuat sejumlah perabotan rumah tangga seperti lemari dan rak piring berguncang. Akan tetapi, kata Ajmal, gempa tidak menyebabkan kerusakan. Setelah beberapa saat, warga kembali lagi beraktivitas seperti biasa.
Berdasarkan buku Sumber Gempa Nasional 2024, zona subduksi (megathrust) Sumatera dibagi menjadi enam segmen berdasarkan karakteristik geologi dan geofisika.
Segmen tersebut meliputi Aceh-Andaman sepanjang 1.300 km, segmen Nias-Simeulue sepanjang 390 km, segmen Batu sepanjang 70 km, Mentawai-Siberut 300 km, Mentawai-Pagai 270 km, dan Enggano-Selat Sunda 420 km (Kompas, 27/11/2026).
Menurut Guru Besar Seismologi Institut Teknologi Bandung Sri Widiyantoro, dalam peluncuran buku Sumber Gempa Nasional 2024, telah diidentifikasi 129 sumber gempa baru di Indonesia. Sejauh ini, terdapat 401 sumber gempa di daerah-daerah Indonesia yang sudah dipetakan, tetapi diperkirakan masih banyak sumber gempa lain yang belum diketahui.
Terkait sumber gempa bumi di zona megathrust Sumatera, salah satu yang dikhawatirkan karena dianggap sudah mendekati siklusnya adalah segmen Mentawai-Siberut. Segmen ini bisa memicu gempa hingga kekuatan M 8,9.





