Harta Harus Beredar di Tangan Orang Baik

kumparan.com
16 jam lalu
Cover Berita

Pernahkah kita membayangkan, di tangan siapa uang itu "betah" membawa berkah, dan di tangan siapa ia justru jadi laknat?

Pertanyaan ini mungkin jarang muncul di benak kita ketika sibuk menghitung omzet, memperluas pasar, atau mengejar target penjualan. Tapi di bulan Ramadan ini, saat kita menahan diri dari yang halal demi perintah Allah, ada baiknya kita merenung sejenak: untuk apa sebenarnya kita berbisnis?

Ketika Harta Jadi Malapetaka

Lihatlah Jeffrey Epstein. Miliarder, pengusaha, kekayaan luar biasa. Namanya harum di kalangan elite, punya pesawat pribadi, pulau pribadi. Tapi apa yang terjadi? Ketika harta berada di tangan orang yang tidak takut Allah, ia bukan berkah—ia alat kehancuran. Epstein menggunakan kekayaannya untuk hal-hal keji. Akhir hayatnya mati dalam aib di penjara, namanya dikutuk sepanjang masa.

Atau bayangkan senjata thermal yang digunakan di Gaza. Al-Jazeera mengungkapkan bagaimana senjata bersuhu 3.500 derajat Celsius—yang dipasok oleh kekuatan ekonomi tertentu—menyebabkan ribuan jasad warga Palestina menguap tak bersisa. Kalau uang dikuasai orang serakah, ia bisa membiayai penindasan. Kalau uang ada di tangan orang beriman, ia menjadi sedekah, pendidikan, pemberdayaan, dan kemaslahatan umat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Sesungguhnya Allah memberikan dunia kepada orang yang Dia cintai dan yang tidak Dia cintai. Tapi Dia tidak memberikan iman kecuali kepada orang yang Dia cintai." (HR. Ahmad)

Harta bisa diberikan kepada siapa saja—kepada orang baik seperti Abdurrahman bin Auf, dan orang tidak baik seperti Qarun atau Epstein. Yang membedakan bukan besar kecil harta, tapi ada tidaknya iman di hati pemilik, dan ada tidaknya sistem syariah dalam pengelolaannya.

Abdurrahman bin Auf: Konglomerat yang Dirindukan Surga

Berbicara tentang pengusaha sukses yang hartanya penuh berkah, nama Abdurrahman bin Auf layak jadi bintang terang. Sahabat Nabi ini hijrah ke Madinah tanpa harta, tapi dengan doa dan kerja keras, dalam waktu singkat kekayaannya membuncah.

Dalam satu riwayat, ia menyumbang 500 kuda perang lengkap, 1.500 unta, 400 dinar emas untuk veteran perang Badar. Tapi yang paling menggetarkan hati adalah pernyataan Utsman bin Affan saat menerima wasiat Abdurrahman:

"Harta Abdurrahman bin Auf halal lagi bersih, dan memakan harta itu membawa selamat dan berkah."

Utsman—yang juga konglomerat—bersedia menerima harta itu karena yakin: seluruh proses bisnis Abdurrahman bersih. Tak ada riba, tipuan, kezaliman. Ia memilih barang halal, menjauhi syubhat, menjalankan bisnis dengan ilmu. Harta Abdurrahman tidak hanya besar, tapi bersih. Karena bersih, ia terus mengalirkan kebaikan.

Jangan Cuma Jujur, Harus Paham Fiqih!

Tapi saudaraku, menjadi "orang baik" dalam bisnis tidak cukup dengan mengaku jujur. Tidak cukup dengan merasa tidak menipu. Sebab, banyak praktik yang oleh pelakunya dianggap biasa, tapi ternyata haram di mata syariah.

Amirul Mukminin Umar bin Khattab ra. pernah berpesan dengan tegas:

"Tidak boleh berjualan di pasar kami, kecuali orang yang memiliki pemahaman (fiqih) dalam urusan agama." (HR. Tirmidzi)

Bayangkan, Umar melarang orang berdagang sebelum paham fiqih! Bukan karena beliau tidak percaya pada kejujuran mereka. Tapi karena beliau tahu, kejujuran saja tidak cukup. Bisa jadi seseorang jujur, tapi ia tidak tahu bahwa akad yang ia lakukan adalah akad yang batil. Ia tidak tahu bahwa transaksinya mengandung riba. Ia tidak tahu bahwa jual belinya mengandung gharar (ketidakpastian) yang dilarang.

Ali bin Abi Thalib ra. bahkan berkata lebih tegas lagi:

"Barangsiapa berdagang sebelum melakukan tafaquh fiddin (mempelajari hukum Islam terkait jual beli), maka dia akan terjerumus ke dalam riba, kemudian akan terjerumus, kemudian akan terjerumus."

Tiga kali Ali mengulang kata "terjerumus". Ini menunjukkan betapa dalamnya jurang riba, dan betapa mudahnya seseorang jatuh ke dalamnya jika ia tidak punya ilmu.

Fiqih Muamalah: Fardhu 'Ain bagi Pengusaha

Maka, Fiqh Muamalah menjadi kewajiban individu bagi setiap pengusaha. Wajib dipelajari. Fardhu 'ain bagi pengusaha kuliner: mempelajari fiqh makanan dan minuman. Fardhu 'ain bagi pengusaha properti: mempelajari fiqh jual beli dan sewa. Fardhu 'ain bagi pengusaha transportasi: mempelajari fiqh ijarah. Fardhu 'ain bagi pengusaha kosmetik: mempelajari fiqh make up dan produk kecantikan. Fardhu 'ain bagi siapa pun yang berinteraksi dengan uang: mempelajari fiqh riba.

Jika kita tidak mempelajarinya, kita berjalan di tepi jurang keharaman. Ingat hadits terkenal:

"Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya ada perkara syubhat (samar) yang tidak diketahui oleh banyak orang. Barangsiapa yang menjaga diri dari perkara syubhat, maka ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Bisnis yang Hidup Setelah Mati

Saudaraku, ada konsep luar biasa dalam Islam: amal jariyah. Rasulullah ﷺ bersabda:

"Apabila manusia meninggal, terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya." (HR. Muslim)

Bayangkan, jika kita membangun bisnis dengan niat benar, sistem kuat, manfaat seluas-luasnya, maka bisnis kita bisa menjadi sedekah jariyah yang terus mengalir.

Apa saja bentuknya?

Menciptakan sistem bisnis yang terus bermanfaat. Sistem manajemen adil, sistem produksi halal, sistem distribusi thayyib—jika sistem itu terus berjalan setelah kita tiada, kita terus menuai pahala dari setiap transaksi di dalamnya.

Saudaraku, bayangkan! Bisnis kita bisa "hidup" lebih lama dari usia kita. Ia terus bernafaskan kebaikan, terus mengalirkan pahala, terus menjadi saksi bahwa kita pernah ada dan berbuat baik.

Yang Membawa Berkah, Bukan Sekadar Besar

Allah berfirman dalam QS. Al-Hasyr: 7:

"Supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu."

Ayat ini mengajarkan distribusi harta harus merata. Ia harus sampai ke tangan yang membutuhkan. Tugas kita, para pengusaha, menjadi jembatan antara surplus dan defisit. Kita yang diberi kelebihan harta harus jadi saluran keberkahan bagi yang kekurangan.

Maka, mari kita niatkan ulang bisnis kita. Mari perbaiki sistemnya. Mari pastikan setiap aliran rupiah yang keluar-masuk dalam perusahaan kita adalah rupiah bersih, yang diizinkan Allah, yang mengalirkan kebaikan.

Jika hanya beredar di tangan orang-orang yang tak peduli halal-haram, yang hanya mengejar profit tanpa keberkahan, ia akan seperti harta Qarun—megah di dunia, azab di akhirat. Atau seperti harta Epstein—mewah semasa hidup, aib sepanjang masa.

Tapi jika harta beredar di tangan orang-orang beriman, yang takut kepada Allah, yang paham fiqh muamalah, yang menjalankan bisnis jujur dan adil—maka harta itu jadi rahmat. Ia jadi sungai yang mengairi ladang kebaikan, dana abadi untuk kemaslahatan umat.

Pada akhirnya, ketika kita kelak menghadap Allah, kita ingin mendengar firman-Nya:

"Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku." (QS. Al-Fajr: 27-30)

Semoga kita termasuk di dalamnya. Aamiin.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Terjebak di Dubai Gara-gara Perang AS-Iran, Dilraba Gagal Tampil di Dior Fall/Winter 2026
• 2 jam lalutabloidbintang.com
thumb
KPK Bongkar Alasan Gus Yaqut Jadi Tersangka Korupsi Haji, Ternyata Ada Bukti Ini!
• 34 menit lalusuara.com
thumb
Bukti Potong Tak Muncul di Coretax? Ini yang Bisa Dilakukan Wajib Pajak
• 5 jam lalumedcom.id
thumb
Wanita Asal Jakarta Utara Diamankan Usai Buang Bayi di Tempat Sampah, Polisi: Dimasukkan ke dalam Tas Ransel
• 17 jam lalutvonenews.com
thumb
Kemenekraf: Ekonomi Digital Kurangi Pengangguran
• 2 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.