OJK Waspadai Potensi Capital Outflow Dampak Ketegangan Iran-AS-Israel, IHSG Melemah 0,96 Persen

pantau.com
2 jam lalu
Cover Berita

Pantau - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencermati potensi capital outflow atau arus dana modal ke luar negeri dalam jangka pendek akibat meningkatnya ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang memicu tekanan di pasar keuangan global.

Peningkatan kewaspadaan tersebut dilakukan menyusul tingginya eskalasi geopolitik yang berdampak pada sentimen pasar, baik di tingkat regional maupun global.

Pjs Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi mengatakan, "Kami di OJK tentu akan terus melakukan pemantauan intensif dan close monitoring terhadap likuiditas dan risiko pasar. Bersama lembaga lain dalam koridor dan forum KSSK, kita akan terus memastikan terjaganya stabilitas sektor jasa keuangan".

Ia menegaskan OJK akan terus berkoordinasi dengan lembaga lain dalam forum Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) guna menjaga stabilitas sektor jasa keuangan nasional.

Secara umum, fundamental perekonomian Indonesia dinilai masih relatif stabil dengan indikator makroekonomi yang terjaga.

Namun demikian, kewaspadaan tetap diperlukan terhadap potensi transmisi dampak melalui volatilitas dan sentimen global yang masih berlangsung.

Tekanan Global dan Respons Pasar Saham

OJK mencatat mayoritas indeks utama pasar saham dunia mengalami pelemahan awal sebagai respons atas meningkatnya ketidakpastian global.

Tekanan pasar akibat eskalasi geopolitik tidak hanya terjadi di pasar saham Indonesia, tetapi juga melanda pasar regional dan global.

Hasan menjelaskan, "Jadi bisa dipahami pasar saham itu memang selalu mem-price-in dan me-risk-off kejadian saat ini untuk masa-masa yang akan datang. Sehingga sebelum sektor-sektor yang lain, biasanya kita akan langsung melihat dampak awalnya di respon pasar di pasar saham kita".

Ia menilai volatilitas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merupakan bagian dari transmisi global yang dipandang "normal" sebagai respons awal penilaian risiko oleh investor terhadap eskalasi konflik dan geopolitik.

Pada perdagangan Selasa sore, IHSG ditutup melemah 77,06 poin atau 0,96 persen ke posisi 7.939,77.

Indeks LQ45 yang terdiri dari 45 saham unggulan turut turun 6,89 poin atau 0,85 persen ke posisi 805,59.

Instrumen Stabilitas dan Imbauan bagi Investor

Dalam merespons kondisi tersebut, OJK bersama Bursa Efek Indonesia memiliki sejumlah kebijakan dan instrumen yang masih berlaku untuk menjaga stabilitas pasar.

Salah satu kebijakan yang dapat dimanfaatkan adalah buyback saham tanpa persetujuan RUPS dalam kondisi tertentu.

Selain itu, terdapat mekanisme auto rejection bawah yang diharapkan dapat menahan pelemahan harga saham tertentu.

Apabila terjadi kepanikan dan kondisi one-sided market, maka trading halt dapat diterapkan jika terjadi tekanan signifikan di pasar.

OJK mengingatkan stabilitas pasar sangat bergantung pada perilaku dan respons investor.

Investor diimbau tetap rasional, mencermati perkembangan terkini, serta mempertimbangkan risiko dan fundamental saham sebelum mengambil keputusan investasi.

Berdasarkan pengalaman peningkatan tensi geopolitik sebelumnya, investor cenderung melakukan reposisi portofolio ke aset safe haven seperti emas, valuta asing yang lebih stabil, serta obligasi pemerintah domestik maupun negara maju.

Investor juga cenderung mengambil sikap wait and see untuk mencermati perkembangan situasi lebih lanjut.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Apple Resmi Luncurkan iPhone 17e, Harga Rp 10 Juta
• 17 jam lalukatadata.co.id
thumb
Fakta-Fakta OTT KPK yang Jaring Bupati Pekalongan Fadia Arafiq
• 21 menit lalukompas.tv
thumb
Adira Expo Berkah Ramadan Sapa Masyarakat Sulawesi, Tawarkan Kredit Mudah dan Cepat
• 9 jam laluterkini.id
thumb
Puasa Ketujuh Belas: Ketika Tanah, Diri, dan Takdir Menyatu
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
Warga Ngadu ke Pramono, Keluhkan Halte dan Bus Belum Ramah Disabilitas
• 23 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.