Surat Duka Cita Megawati untuk Ayatollah Ali Khamenei

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri mengirimkan surat ucapan duka cita atas meninggalnya Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan oleh AS-Israel, 28 Februari lalu. Sosok Ali Khamenei memiliki kedekatan batin dan pemikiran dengan perjuangan Presiden pertama RI Sukarno atau Bung Karno, proklamator RI yang juga ayah Megawati.

Megawati pun mengungkap kenangannya bertemu dengan Ali Khamenei pada 2004.

Surat yang dibuat Megawati pada 2 Maret 2026, itu ditujukan ke Pemimpin Tertinggi Sementara, Presiden, dan Segenap Rakyat Republik Islam Iran.

Surat tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal PDI-P Hasto Kristiyanto dan Ketua DPP PDI-P Bidang Luar Negeri Ahmad Basarah di Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Jakarta, Selasa (3/3/2026) sore. Surat diterima oleh Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi.

"Dengan hati terkejut dan sangat berduka, saya Prof Dr Megawati Soekarnoputri selaku Presiden ke-5 Republik Indonesia, dan mewakili keluarga besar Dr (HC) Ir. Soekarno (Bung Karno), sekaligus sebagai Ketua Umum PDI Perjuangan, menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas wafatnya Yang Mulia Ayatollah Ali Khamenei yang gugur dalam serangan militer mendadak yang dilancarkan oleh Israel dan Amerika Serikat terhadap wilayah Iran pada 28 Februari 2026," tulis Megawati membuka surat duka cita.

Baca JugaJusuf Kalla Bertemu Dubes Iran Bahas Peluang Perdamaian

Atas nama pribadi dan keluarga besar Bung Karno, serta mewakili bangsa dan rakyat Indonesia yang mencintai perdamaian, keadilan, dan kedaulatan negara merdeka, Megawati menyampaikan simpati dan solidaritas yang tulus bagi keluarga, pemerintah, dan seluruh rakyat Iran.

Megawati melanjutkan, selama lebih dari tiga dekade, Ayatollah Ali Khamenei memimpin bangsanya dalam situasi yang sangat sulit di tengah tekanan geopolitik, sanksi ekonomi, dan ancaman militer, seraya secara konsisten mempertahankan kedaulatan negaranya dan martabat dunia Islam.

"Dalam diri beliau, kami melihat seorang ulama dan negarawan yang berupaya memadukan iman keagamaan, keadilan sosial, dan sikap antiimperialisme dalam satu garis perjuangan yang konsisten," tambahnya.

Sosok Ayatollah Ali Khamenei memiliki kedekatan batin dan pemikiran dengan perjuangan Bung Karno.

Mengagumi Bung Karno

Bagi masyarakat Indonesia, lanjut Megawati, sosok Ayatollah Ali Khamenei memiliki kedekatan batin dan pemikiran dengan perjuangan Bung Karno.

Menurutnya, berbagai kesaksian menunjukkan bagaimana sejak usia muda, Ayatollah mengagumi Bung Karno, membaca pemikirannya, dan menjadikan pengalaman Indonesia, terutama Pancasila dan semangat Dasa Sila Bandung, sebagai salah satu referensi dalam merumuskan sintesis antara agama, kebangsaan, dan keadilan sosial di Iran.

Dalam kepemimpinan Ali Khamenei tercermin gema semangat antikolonialisme, solidaritas dunia ketiga, dan tekad untuk menolak segala bentuk dominasi dan ketidakadilan global.

Sebagai putri tertua Bung Karno yang juga penggagas Konferensi Asia-Afrika dan salah satu arsitek Gerakan Non-Blok, Megawati merasakan secara mendalam ikatan historis dan ideologis antara rakyat Indonesia dan Iran.

Persaudaraan ini terjalin bukan hanya melalui diplomasi formal, melainkan juga melalui kesamaan nasib sebagai sesama bangsa yang menentang berbagai bentuk penjajahan, memperjuangkan kemerdekaan, serta menginginkan tatanan dunia yang lebih adil dan bermartabat.

Pertemuan dengan Ali Khamenei

Megawati pun terkenang pertemuannya dengan Ali Khamenei saat kunjungan resminya ke Teheran pada 2004 dalam kapasitasnya sebagai Presiden Republik Indonesia. Kunjungan itu untuk menghadiri Konferensi D-8 sekaligus memperkuat hubungan persahabatan dan kerja sama antara kedua negara.

"Saya merasakan sambutan persahabatan yang hangat serta kharisma kepemimpinan yang terpancar dalam diri beliau," ucap Megawati.

Baca JugaDikunjungi Dubes Iran, Jusuf Kalla: Prabowo Siap Jadi Penengah Konflik
Perjuangan anti-kolonialisme

Ia pun ingat sempat mengundang langsung Ali Khamenei untuk datang ke Indonesia guna menghadiri Konferensi Ulama Islam Internasional di Jakarta pada Februari 2004. Selain itu juga mengundangnya di peringatan Konferensi Asia-Afrika ke-50 pada 2005, meski saat itu Ali Khamenei tidak sempat ke Indonesia, bahkan hingga akhir hayatnya.

Dalam berbagai kesempatan, Megawati juga merasakan sendiri keramahan, penghormatan, dan kedekatan para pemimpin Iran, yang selalu menyebut Indonesia sebagai sahabat lama di garis perjuangan antikolonialisme, imperialisme dan Gerakan Non-Blok.

Kenangan atas pertemuan-pertemuan tersebut kini semakin sarat makna ketika harus merelakan kepergian Ayatollah Aii Khamenei.

Saya perlu menegaskan kembali bahwa bangsa Indonesia berdiri bersama rakyat Iran dalam menolak dan mengecam keras segala bentuk agresi militer sepihak yang melanggar kedaulatan negara.

"Pada kesempatan ini, saya perlu menegaskan kembali bahwa bangsa Indonesia berdiri bersama rakyat Iran dalam menolak dan mengecam keras segala bentuk agresi militer sepihak yang melanggar kedaulatan negara dan membahayakan perdamaian kawasan maupun dunia," tegas Megawati.

"Kami meyakini prinsip yang kami pegang sejak era Bung Karno hingga hari ini, yakni bahwa penyelesaian konflik harus ditempuh melalui jalan dialog, perundingan yang adil, dan penghormatan terhadap hukum internasional, bukan melalui kekerasan dan penggunaan kekuatan bersenjata," lanjutnya.

Megawati pun mendoakan keluarga besar Ali Khamenei, para pemimpin dan ulama Iran, serta seluruh rakyat Iran, agar dikaruniai kekuatan, persatuan, dan kebijaksanaan untuk melewati masa-masa sulit di tengah serangan AS-Israel. Juga kemampuan menjaga kemerdekaan, kehormatan, martabat dan kedaulatan Iran.

"Dalam duka yang mendalam ini, kiranya kita dapat terus merawat warisan terbaik dari para pendahulu kita, baik Bung Karno di Indonesia maupun para pemimpin revolusi di Iran. Yakni tekad untuk membangun dunia yang damai, bebas dari imperialisme dan hegemoni, serta berpihak kepada mereka yang tertindas," ujarnya.

Megawati pun mengharapkan persahabatan antara bangsa Indonesia dan Iran tetap terpelihara dan bahkan semakin dipererat di masa yang akan datang.

Hasto Kristiyanto mengatakan surat duka cita dari Megawati sekaligus menunjukkan bagaimana PDI-P berpikir, bersikap dan bertindak dengan menjalankan Ideologi Pancasila, baik bagi rakyat Indonesia maupun dunia.

Baca JugaSerangan AS-Israel ke Iran, Akankah Membuka Pintu Resesi Global?

"Pembukaan UUD 1945 menegaskan bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Sikap itulah yang menjadi doktrin politik luar negeri bebas aktif," ujar Hasto.

Keluar dari Dewan Perdamaian

Sebelumnya, anggota Komisi I DPR dari Fraksi PDI-P Tubagus Hasanuddin sempat mengeluarkan pernyataan desakan agar Indonesia keluar dari Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP) bentukan Presiden AS Donald Trump, terutama setelah serangan AS-Israel ke Iran. Jika tidak, ada lima risiko yang bisa ditanggung Indonesia.

Pembukaan UUD 1945 menegaskan bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa

Pertama, keputusan tetap berada di BoP berpotensi membahayakan integritas politik luar negeri Indonesia di mata dunia serta menyimpang dari prinsip konstitusional politik luar negeri bebas aktif.

Pasalnya, BoP yang diinisiasi oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan di dalamnya ada Israel menjadi organisasi yang membiarkan terjadinya agresi militer terhadap bangsa lain. Agresi dimaksud, serangan AS dan Israel terhadap Iran sejak akhir pekan lalu.

Selain itu, Indonesia perlu keluar dari BoP karena pemerintah tidak menunjukkan sikap tegas dalam mengutuk invasi AS-Israel ke Iran. ”Hal ini memperkuat persepsi adanya keberpihakan Indonesia terhadap agresi tersebut dan menimbulkan kesan lemahnya komitmen terhadap penghormatan kedaulatan negara lain,” katanya.

Ketiga, posisi yang dinilai tidak netral dan tidak konsisten dalam membela kedaulatan bangsa lain dapat memperburuk persepsi rakyat Palestina terhadap Indonesia. TB Hasanuddin mengingatkan bahwa mobilisasi pasukan TNI sebagai bagian dari Pasukan Stabilisasi Internasional (International Security Force/ISF) BoP berpotensi mendapat penolakan.

Baca JugaTrump Ralat Perkiraan Lama Perang Lawan Iran

Keempat, alokasi anggaran untuk partisipasi TNI dalam pasukan ISF berpotensi menekan kapasitas fiskal negara untuk tujuan yang masih bersifat spekulatif.

Kelima, Indonesia dinilai berisiko terjebak dalam pusaran geopolitik Timur Tengah yang tidak menguntungkan dan berpotensi membahayakan.

”Kita sudah dianggap sebagai pendukung kepentingan AS dan Israel yang menggunakan cara-cara kekerasan dalam menyelesaikan masalah,” tambahnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Hadiri Exit Meeting Pemeriksaan Interim LKPD TA 2025 bersama BPK Sulsel, Bupati Jeneponto Tegaskan ini
• 11 jam laluterkini.id
thumb
Truk Sumbu 3 Dilarang saat Momen Lebaran, Istri Para Sopir Bingung Suami tak Bisa Kerja
• 8 jam lalumediaindonesia.com
thumb
KAI Jakarta: 476.923 Tiket Kereta Masih Tersedia untuk Mudik Lebaran 2026
• 17 jam laluliputan6.com
thumb
Dasco Soal Prabowo Undang Presiden-Wapres Terdahulu ke Istana: Bahas Geopolitik
• 14 jam lalukumparan.com
thumb
Total Pinjaman Pinjol Warga RI Capai Rp98,54 Triliun, Naik 25% per Januari 2026
• 14 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.