(Catatan Redaksi: Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap Iran. Sejumlah target pemerintah dan militer Iran dihancurkan. Puluhan pejabat tinggi militer dan politik, termasuk penguasa otoriter Iran Ali Khamenei, dilaporkan tewas dalam serangan “pemenggalan kepala”. Pada 2 Maret, Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak menutup kemungkinan mengerahkan pasukan darat AS ke Iran, serta memperingatkan akan adanya serangan berskala besar. Artikel berikut merupakan laporan penilaian perang terbaru yang dirilis oleh Hudson Institute di platform X, disajikan untuk pembaca.)
72 jam ke depan sangat krusial!
Laporan terbaru Hudson Institute menilai situasi perang saat ini, menganalisis risiko utama serta memberikan sejumlah rekomendasi sebagai berikut :
1. Khamenei Sebenarnya Sudah Kehilangan Kekuasaan Nyata Sebelum TewasDalam dua dekade terakhir, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) telah berubah dari sekadar “pengawal rezim” menjadi pusat saraf kekuasaan Iran. Seiring menurunnya kendali Khamenei atas urusan militer, Garda Revolusi tidak lagi bergantung pada instruksi langsung dari kalangan ulama untuk menjalankan rencana darurat.
Proses pengambilan keputusan telah terintegrasi di dalam lembaga keamanan, sehingga tetap berfungsi di bawah tekanan dan kerugian besar. Pada praktiknya, Iran kini lebih menyerupai negara militer yang dibungkus simbol teokrasi. Karena itu, apakah Khamenei hidup atau tewas di bawah puing-puing bangunan, secara militer mungkin tidak membawa perbedaan besar. Kekuasaan nyata sudah lama berada di tangan Garda Revolusi.
2. Ukuran Keberhasilan Sesungguhnya: Seberapa Cepat AS dan Israel Melemahkan Kemampuan Kunci dan Rantai Serangan IranTewasnya Panglima IRGC Jenderal Mohammad Pakpour, Menteri Pertahanan Aziz Nasirzadeh, serta penasihat militer senior Ali Shamkhani, memang menghilangkan simpul-simpul berpengalaman dalam jaringan komando Iran.
Hal ini mengganggu koordinasi dan memperumit transisi kekuasaan. Namun, indikator penentu bukanlah siapa yang mengendalikan militer, melainkan apakah IRGC mampu mempertahankan kemampuan tempur dan rantai serangannya.
Pertanyaannya antara lain:
– Apakah AS dan Israel menghancurkan peluncur rudal Iran lebih cepat daripada Iran menyebarkannya?
– Bisakah jaringan terowongan ditutup melalui serangan udara?
– Mampukah fasilitas produksi dan penyimpanan drone Iran dilemahkan?
– Dapatkah intensitas, akurasi, atau sinkronisasi salvo rudal Iran diturunkan?
Bagi rezim otoriter, mengganti personel jauh lebih mudah daripada membangun ulang infrastruktur militer. Karena itu, keberhasilan strategis terletak pada penghancuran mekanisme yang menopang operasi militer Teheran.
Keberhasilan operasi gabungan AS–Israel mensyaratkan pelemahan kemampuan inti IRGC—terutama sistem rudal dan drone—yang sama pentingnya dengan menyingkirkan para pemimpinnya. Frekuensi dan jangkauan serangan Iran menunjukkan bahwa rantai serangan mereka masih utuh. Teheran terus melancarkan serangan jarak jauh terkoordinasi terhadap fasilitas AS di kawasan, negara-negara Teluk Arab, dan wilayah Israel.
Dalam dua hari pertempuran, sistem pertahanan udara Uni Emirat Arab dilaporkan mencegat 152 rudal balistik. Pada 28 Februari saja, Iran menembakkan sekitar 170 rudal balistik ke Israel. Keberlanjutan serangan ini menandakan kesinambungan sistem komando.
3. Sekutu Harus Segera Menghancurkan Rudal dan PeluncurnyaAS dan Israel harus melemahkan kemampuan rudal dan drone Iran sebelum persediaan pencegat mereka sendiri menipis. Sistem pertahanan udara tidaklah tak terbatas. Faktor seperti stok amunisi, siklus pengisian ulang, dan kapasitas industri akan membatasi daya tahan pertahanan.
AS telah mengerahkan sekitar 150 pencegat sistem THAAD dan sekitar 80 pencegat Standard-3 untuk menghadapi sebagian besar ancaman.
Sebelumnya, AS juga menggunakan sekitar 200 pencegat SM-2 dan SM-6 untuk menahan serangan rudal dan drone dari kelompok Houthi yang didukung IRGC. Selain itu, Washington menempatkan sistem Patriot dalam jumlah yang tidak diumumkan di Qatar untuk melindungi Pangkalan Udara Al Udeid.
Sejak dimulainya “Operasi Epic Rage”, sekutu mempercepat tempo operasi guna menghancurkan rudal dan peluncurnya sebelum digunakan Iran. Angkatan Udara Israel dilaporkan melancarkan salah satu serangan udara terbesar dalam sejarahnya, dengan sekitar 200 pesawat menyerang lebih dari 500 target, serta 700 sortie dalam 36 jam.
Stok kendaraan peluncur rudal balistik Iran dilaporkan berkurang hampir setengahnya. Namun, tantangan tetap besar karena Iran, dengan bantuan Korea Utara, telah membangun jaringan pertahanan bawah tanah selama puluhan tahun. Karena itu, selain peluncur, pintu masuk terowongan juga harus menjadi prioritas serangan.
4. Perdagangan Maritim Menghadapi Ancaman SeriusSelat Hormuz kembali menjadi pusat risiko geopolitik. Setelah serangan AS–Israel ke Iran, banyak kapal kargo menghentikan atau membalikkan rute melalui selat tersebut. Sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair dunia melewati Selat Hormuz. Iran tidak perlu menutup selat sepenuhnya; cukup dengan meningkatkan risikonya. Menjelang puncak konflik, premi asuransi melonjak dan gangguan pengiriman menjadi tak terhindarkan bila pasar meragukan keamanan jalur pelayaran.
5. Cara membaca rencana pasca perang sekutuAnalis perlu memperhatikan target yang tidak diserang. Pemilihan target—dan penahanan diri—merupakan bahasa strategi. AS dan Israel mungkin menyampaikan rencana masa depan mereka terhadap Iran dengan tidak menyerang tokoh atau lembaga tertentu.
Presiden Masoud Pezeshkian kemungkinan termasuk dalam perhitungan ini. Sebagai warga etnis Azerbaijan-Turki yang menjabat presiden Republik Islam Iran, posisinya sangat krusial. Tokoh penting lain adalah Ali Larijani dari kubu garis keras rezim.
Dalam konteks pascaperang, figur seperti Larijani mungkin dibutuhkan untuk mengelola jaringan global IRGC. Washington dan sekutunya kemungkinan memprioritaskan stabilitas daripada rekayasa ulang Iran, dengan tujuan mencegah terorisme dan mengendalikan eskalasi.
Selain itu, peran militer reguler Iran (Artesh) sangat penting. Struktur dan fungsi Artesh berbeda dari IRGC. Jika kemampuan dan rantai komandonya tetap utuh serta terpisah dari IRGC, Artesh berpotensi menjadi tulang punggung kekuatan keamanan nasional baru pada masa transisi pasca perang.
6. Hal-hal yang perlu dipantau dalam 72 jam ke depanTiga hari ke depan akan sangat menentukan. Analis perlu memantau secara khusus:
– Tempo salvo rudal dan drone IRGC;
– Pejabat politik dan militer senior yang “dimaafkan” oleh AS dan Israel;
– Kepadatan dan daya tahan peluncur rudal Iran, interval pengisian ulang, mobilitas, serta penggunaan fasilitas bawah tanah;
– Tanda-tanda perlawanan, perpecahan, atau pembangkangan dalam Artesh atau di antara para komandannya, serta friksi apa pun antara Artesh dan IRGC;
– Arus tanker minyak di Selat Hormuz, gangguan sistem identifikasi otomatis, dan lonjakan biaya asuransi;
– Mobilisasi besar-besaran Hizbullah, yang dapat menandakan niat Teheran membuka perang kedua dari Lebanon.
Sumber : NTDTV.com





