Selat Hormuz Ditutup, Berapa Lama Cadangan Minyak Sejumlah Negara Bertahan?

kumparan.com
6 jam lalu
Cover Berita

Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis bagi perdagangan minyak dunia yang berada di selatan Iran, dilaporkan resmi ditutup menyusul serangan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/2).

Penutupan tersebut dilakukan oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. “Saat ini dilakukan penutupan Selat Hormuz oleh pasukan IRGC menyusul agresi terhadap Iran,” kata Jabari, dikutip dari Antara.

Berdasarkan data Badan Informasi Energi Amerika Serikat (EIA), lebih dari 20 persen konsumsi minyak harian global, sekitar 18 hingga 20 juta barel per hari, melewati Selat Hormuz. Jalur ini menjadi rute utama ekspor minyak mentah negara-negara anggota OPEC seperti Arab Saudi dan Iran. Selain itu, sebagian besar ekspor gas alam cair (LNG) dari Qatar juga melintasi perairan tersebut.

Penutupan Selat Hormuz berpotensi menekan pasokan energi global dan memicu lonjakan harga minyak dunia. Lantas, berapa lama cadangan minyak yang dimiliki sejumlah negara mampu bertahan?

Jepang Punya Cadangan Minyak untuk 254 Hari

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menyampaikan, Jepang saat ini memiliki cadangan minyak yang mencukupi untuk 254 hari atau sekitar 8,5 bulan. Ia menegaskan pemerintah akan berupaya menjaga stabilitas pasokan energi nasional setelah penutupan Selat Hormuz.

Takaichi juga menjelaskan, sejumlah kapal tanker minyak yang tengah menuju Jepang dalam posisi siaga di Teluk Persia, seraya memastikan keselamatan para awak kapal di perairan sekitar tetap terjaga.

“Kami akan memastikan pasokan energi yang stabil ke negara kita. Langkah-langkah yang diperlukan akan segera diambil,” kata Takaichi saat menjawab pertanyaan dari anggota Partai Demokrat untuk Rakyat, Satoshi Asano, dikutip dari The Mainichi.

Jepang diketahui memiliki ketergantungan tinggi terhadap pasokan minyak mentah dari kawasan Timur Tengah, terutama Iran. Hubungan diplomatik yang terjalin baik antara Jepang dan Iran juga membuat Tokyo memiliki kepentingan besar terhadap stabilitas kawasan tersebut.

Cadangan BBM Australia Cukup untuk 36 Hari

Menteri Energi Australia Chris Bowen mengatakan warga tidak perlu panik soal potensi kekurangan bahan bakar minyak (BBM) di tengah konflik AS-Israel dan Iran, karena cadangan saat ini cukup untuk kebutuhan negara selama beberapa pekan ke depan.

Bowen menyebut, Australia memiliki cadangan bensin untuk sekitar 36 hari, diesel untuk 34 hari, dan bahan bakar jet untuk 32 hari, jumlah yang paling tinggi dalam lebih dari satu dekade.

“Tidak perlu terburu-buru ke SPBU dan isi bensin,” katanya kepada wartawan, dikutip dari Reuters.

“Saya memahami kekhawatiran masyarakat, tapi penting bagi masyarakat bahwa kita memiliki persediaan bensin yang cukup di Australia. Tidak ada ancaman langsung terhadap pasukan bensin di Australia,” lanjutnya.

Bowen mengatakan, meski harga BBM dapat tertekan oleh lonjakan harga minyak, regulator akan mengambil tindakan terhadap praktik penetapan harga yang tak wajar.

India Punya Cadangan hingga 45 Hari

Mengutip The Hindu, India memiliki sekitar 100 juta barel cadangan minyak mentah komersial, yang tersimpan di tangki penyimpanan, cadangan strategis bawah tanah, serta di kapal-kapal yang tengah berlayar menuju negara tersebut.

Menurut perusahaan analitik Kpler, jumlah tersebut diperkirakan dapat memenuhi kebutuhan selama sekitar 40 hingga 45 hari apabila arus pasokan melalui Selat Hormuz terganggu.

Adapun India mengimpor sekitar 88 persen kebutuhan minyak mentahnya, bahan baku untuk produksi bahan bakar seperti bensin dan solar, dengan lebih dari 50 persen pasokan berasal dari negara-negara Timur Tengah dan melewati jalur sempit Selat Hormuz, yang arusnya kini terganggu di tengah krisis Iran.

Cadangan Indonesia Cukup untuk 20 Hari

Adapun Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan cadangan BBM nasional saat ini diperkirakan mencukupi untuk kebutuhan selama 20 hari.

Pernyataan tersebut disampaikannya saat hendak menghadiri rapat membahas perkembangan situasi geopolitik terkini di Istana Negara, Jakarta, pada Senin (2/3).

“(Cadangan BBM) masih cukup, 20 hari,” kata Bahlil di Istana Negara, Senin (2/3).

Bahlil memastikan, konflik tersebut sejauh ini belum memengaruhi ketersediaan maupun distribusi BBM bersubsidi di dalam negeri. Namun demikian, ia mengakui eskalasi konflik berpotensi memberikan dampak terhadap harga minyak dunia ke depan.

“Sampai hari ini gak ada masalah (BBM subsidi), tapi kan harga dunia pasti akan terjadi koreksi ketika kondisi geopolitik yang terus memanas di Timur Tengah,” sebutnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Korban Tewas Serangan Iran Capai 787 Orang
• 6 jam lalutvrinews.com
thumb
Muncul Usulan dari DPD RI agar Gaji PPPK Paruh Waktu Tidak Bikin Pilu
• 10 jam lalujpnn.com
thumb
Cegah Kemacetan, Pramono Bakal Tertibkan Terminal Bayangan di Jakarta saat Arus Mudik
• 15 jam laluidxchannel.com
thumb
Detik-Detik Gerhana Bulan Total "Blood Moon" Hiasi Langit Indonesia
• 5 jam lalukompas.tv
thumb
BRI Super League: M. Riyandi Jadi Kartu Turf Milomir Seslija Saat Persis Memukul Persik
• 16 jam lalubola.com
Berhasil disimpan.