EtIndonesia. Operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memasuki hari kedua pada (2 Maret 2026), dengan intensitas serangan yang semakin meluas. Dari total 31 provinsi di Iran, sedikitnya 24 provinsi dilaporkan menjadi sasaran serangan udara sejak gelombang pertama dimulai pada Jumat pagi, 28 Februari 2026.
Target utama serangan meliputi pangkalan rudal balistik, pusat komando militer, sistem pertahanan udara, serta markas pasukan elite Garda Revolusi Iran (IRGC). Sejumlah fasilitas strategis dilaporkan mengalami kerusakan berat akibat kombinasi serangan udara dan rudal presisi tinggi.
Strategi Serangan Jangka Panjang
Sumber-sumber di Washington menyebutkan bahwa operasi ini diperkirakan akan berlangsung selama empat hingga lima pekan. Pemerintahan Presiden Donald Trump dikabarkan telah mengirimkan sinyal kuat kepada komunitas internasional bahwa strategi yang dipilih bukanlah invasi darat berskala besar, melainkan kampanye udara intensif dan berkelanjutan.
Sejumlah analis militer menilai pendekatan ini bertujuan melemahkan secara sistematis kemampuan militer Iran sekaligus mengguncang struktur kekuasaan dari dalam. Model operasi ini dinilai berbeda dengan invasi darat seperti yang pernah dilakukan Amerika Serikat di Irak pada 2003.
Bagi Israel, opsi invasi darat ke Iran dinilai tidak realistis mengingat jarak geografis yang jauh, luasnya wilayah Iran, serta kompleksitas jalur logistik yang akan menimbulkan biaya politik dan militer sangat besar.
Netanyahu Tingkatkan Tekanan, 100.000 Cadangan Dipanggil
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada (2 Maret 2026) menyatakan bahwa serangan udara terhadap Teheran dan wilayah strategis lainnya akan ditingkatkan dalam beberapa hari mendatang.
Militer Israel juga mengumumkan pemanggilan sekitar 100.000 tentara cadangan untuk bersiaga menghadapi kemungkinan eskalasi regional, termasuk keterlibatan kelompok proksi Iran di berbagai front.
Iran Balas dengan Rudal dan Drone
Sebagai respons, Iran meluncurkan beberapa gelombang rudal balistik dan drone ke wilayah Israel serta pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah pada Sabtu malam hingga Minggu dini hari (1–2 Maret 2026).
Sebuah kota di Israel bagian tengah dilaporkan terkena serangan langsung, menyebabkan delapan hingga sembilan orang tewas serta puluhan lainnya luka-luka. Otoritas Israel menyebut insiden ini sebagai serangan paling mematikan di wilayahnya dalam rangkaian konflik terbaru.
Iran juga memperluas serangan balasan ke beberapa titik di kawasan Teluk Persia. Sejumlah negara Arab dilaporkan berhasil mencegat sebagian rudal dan drone tersebut sebelum mencapai sasaran.
Pemerintah Italia secara terbuka mengecam aksi balasan Iran, menyebutnya sebagai langkah yang tidak konstruktif dan hanya memperparah situasi keamanan regional.
Gedung Putih Intensifkan Koordinasi Regional
Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, melalui platform X pada (2 Maret 2026) menyatakan bahwa Presiden Trump telah melakukan komunikasi langsung dengan para pemimpin Israel, Bahrain, dan Uni Emirat Arab guna mengoordinasikan respons keamanan kawasan.
Di Lebanon, kelompok Hizbullah dilaporkan secara resmi menyatakan perang dan meluncurkan serangan roket besar-besaran ke wilayah Israel utara, membuka front baru dalam konflik yang kian meluas.
Dominasi Udara dan Tekanan di Wilayah Barat Iran
Berbagai rekaman video yang beredar sejak dini hari menunjukkan ledakan besar dan kepulan asap tebal di sejumlah kota Iran. Serangan gabungan AS–Israel disebut berlangsung cepat, terkoordinasi, dan presisi.
Beberapa pengamat militer menyebut kemungkinan penggunaan teknologi berdaya tinggi, termasuk sistem laser untuk mencegat rudal di udara atau menghancurkan instalasi artileri darat.
Militer Israel menyatakan telah mengendalikan sebagian besar wilayah udara Iran, terutama di bagian barat dan tengah. Sistem pertahanan udara Iran dilaporkan mengalami tekanan berat sehingga drone dan jet tempur Israel dapat beroperasi dalam durasi panjang untuk mengidentifikasi dan menyerang target tanpa gangguan signifikan.
Sejumlah analis menyebut dukungan penuh Washington terhadap Israel menjadi faktor krusial dalam tercapainya dominasi udara tersebut. Sistem pertahanan Iran yang selama ini disebut mendapat dukungan teknologi dari Rusia dan Tiongkok dinilai tidak mampu bertahan di bawah serangan intensif.
Sikap Eropa dan Isu Ukraina
Pada 2 Maret 2026, Inggris, Prancis, dan Jerman mengeluarkan pernyataan bersama usai pertemuan tingkat tinggi. Ketiga negara menyatakan kesiapan mengambil langkah-langkah defensif yang proporsional guna melindungi kepentingan keamanan mereka.
Langkah tersebut, menurut pernyataan resmi, dapat mencakup tindakan militer defensif untuk menghancurkan kemampuan peluncuran rudal dan drone Iran dari sumbernya, termasuk kemungkinan penargetan lokasi peluncuran di dalam wilayah Iran.
Mereka juga menyatakan kesiapan bekerja sama dengan Ukraina dalam menghadapi ancaman drone Iran yang beroperasi di kawasan.
Isu Ketidakpuasan Internal dan Potensi Kudeta
Di media sosial, seorang pengguna asal Kanada mengklaim adanya ketidakpuasan di dalam tubuh Garda Revolusi Iran terhadap kepemimpinan sementara. Disebutkan bahwa sejumlah faksi garis keras tengah mempertimbangkan opsi pemerintahan militer.
Bahkan beredar kabar bahwa sebagian perwira IRGC siap mengumumkan kudeta sewaktu-waktu, meski informasi tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Presiden Trump dalam video di platform Truth Social pada Minggu (2/3/2026) kembali menyerukan agar rakyat Iran bangkit dan mengambil alih masa depan mereka sendiri. Ia menyebut momentum saat ini sebagai kesempatan untuk perubahan besar.
Situasi Dalam Negeri Iran Memanas
Di dalam negeri Iran, laporan menyebut televisi dan jaringan internet mengalami gangguan serta dugaan peretasan. Tayangan yang beredar menampilkan ulang serangan gabungan dan pidato para pemimpin Amerika serta Israel.
Sebuah video dari Teheran memperlihatkan insiden antara polisi moralitas dan seorang perempuan yang tidak mengenakan hijab sesuai aturan. Penumpang lain dalam kendaraan tersebut dilaporkan membela perempuan itu hingga aparat tersebut akhirnya meninggalkan lokasi di tengah sorakan.
Kepemimpinan Sementara dan Nama Lama yang Muncul
Dalam situasi genting ini, pemerintahan sementara Iran disebut dijalankan oleh komite tiga orang yang terdiri dari Presiden Masoud Pezeshkian, Ketua Mahkamah Agung Gholam-Hossein Mohseni Ejei, serta seorang ulama senior.
Namun sejumlah analis menilai posisi mereka sangat rentan di tengah tekanan militer eksternal dan ketidakstabilan internal.
Nama Reza Pahlavi, putra mahkota dari dinasti sebelum Revolusi Iran 1979, kembali disebut-sebut sebagai opsi alternatif kepemimpinan. Meski demikian, para pengamat menilai Washington berhati-hati agar tidak terlihat secara langsung menentukan figur pengganti guna menghindari tudingan intervensi politik.
Reaksi di Tiongkok
Di Tiongkok, setelah media pemerintah melaporkan wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran pada 28 Februari 2026, kolom komentar media sosial dipenuhi reaksi beragam. Sebagian warganet menyuarakan dukungan terhadap perubahan di Iran, bahkan mengaitkannya dengan harapan akan perubahan politik di negara mereka sendiri.
Hingga, 2 Maret 2026 malam, operasi militer masih terus berlangsung. Ketegangan di Timur Tengah kini memasuki fase yang semakin kompleks, dengan keterlibatan aktor regional dan internasional yang kian luas. Dunia menanti apakah konflik ini akan mengarah pada perubahan politik besar di Iran atau justru berkembang menjadi konfrontasi regional yang lebih luas. (***)





