Sultan HB X: Zakat Instrumen Strategis Ekonomi

tvrinews.com
6 jam lalu
Cover Berita

Penulis: Giri

TVRINews – Yogkarta

Gubernur DIY tekankan modernisasi pengelolaan zakat dan transparansi untuk pengentasan kemiskinan di Yogyakarta.

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, menegaskan bahwa zakat bukan sekadar kewajiban ritual keagamaan, melainkan pilar strategis dalam memperkuat struktur ekonomi masyarakat.

Dalam acara keteladanan pimpinan daerah bertajuk "Zakat Menguatkan Indonesia" di Bangsal Kepatihan, Rabu (3/3), Sultan menyoroti peran ganda zakat dalam dimensi spiritual sekaligus sosial-ekonomi. 

Menurutnya, zakat merupakan sistem distribusi kesejahteraan berbasis keimanan yang mampu menjawab tantangan ketimpangan pendapatan.

Modernisasi dan Tata Kelola

Menghadapi ketidakpastian ekonomi global dan fluktuasi harga, Sultan menekankan pentingnya evolusi dalam pengelolaan dana umat. Ia menyerukan adanya modernisasi sistem melalui adopsi teknologi digital agar penghimpunan zakat menjadi lebih efektif dan tepat sasaran.

“Daya ungkit zakat hanya akan mencapai titik maksimal jika dikelola dengan prinsip tata kelola yang baik (good governance), transparansi, serta akuntabilitas yang tinggi,” ujar Sultan dalam sambutannya.

Seruan bagi Pemimpin Instansi

Lebih lanjut, Sultan mengharapkan para pimpinan lembaga di Yogyakarta dapat menjadi figur teladan bagi jajarannya. 

Ia menekankan bahwa kehadiran para pemimpin dalam forum tersebut merupakan langkah awal untuk mengedukasi aparatur mengenai kewajiban zakat sebesar 2,5 persen.

“Harapan saya (pimpinan) bisa memberitahukan anak buahnya atau stafnya bagaimana melakukan zakat, kewajiban yang harus diselesaikan 2,5 persen. Ya saya berharap pimpinan yang hadir bisa say hello (mensosialisasikan) sama bawahannya,” tutur Sultan kepada awak media.

Relevansi Budaya dan Peradaban

Sebagai pengampu budaya di Yogyakarta, Sultan turut merefleksikan nilai-nilai zakat dalam konteks kearifan lokal. Ia merujuk pada ajaran luhur dalam Serat Piwulang Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono I dan Serat Wedhatama.

Bagi Raja Yogyakarta tersebut, berzakat adalah manifestasi dari "laku peradaban" yang bertujuan menciptakan harmoni sosial. 

Dengan mendistribusikan manfaat harta alih-alih menimbun kekayaan, zakat diharapkan mampu meringankan beban sesama dan menjadi solusi jangka panjang atas persoalan kemiskinan serta pengangguran.

Editor: Redaktur TVRINews

Komentar
1000 Karakter tersisa
Kirim
Komentar

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Trump Akan Putus Hubungan Dagang AS-Spanyol karena Tolak Bantu dalam Perang Iran
• 14 jam lalukatadata.co.id
thumb
Kopdes Merah Putih Dibangun Fleksibel, Hadapi Tantangan Lahan Desa
• 19 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Bahlil: Harga ICP Tembus 78 Dolar Per Barel, Subsidi Energi Terancam Bengkak
• 10 jam lalukompas.tv
thumb
Pemprov DKI Akan Bangun Museum Peranakan Tionghoa di Glodok
• 19 jam lalukumparan.com
thumb
Pasar SBN Tanah Air Berisiko Ditinggal Investor Asing Imbas Perang AS-Iran
• 20 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.