Bisnis.com, JAKARTA – Pasar Surat Berharga Negara (SBN) berpotensi mengalami net sell asing seiring memuncaknya ketegangan antara AS—Israel dengan Iran. Kalangan analis memprediksi, investor asing bakal mengalokasikan dananya ke instrumen investasi rendah risiko, seperti obligasi AS atau emas.
Ekonom KB Valbury Sekuritas Fikri C. Permana, mengemukakan bahwa selama tiga bulan ke depan, investor masih akan cenderung wait and see terhadap pasar SBN RI. Seiring dengan itu, tren capital flight dari pasar Indonesia juga diprediksi bakal terjadi.
”Masih ada tren capital flight to quality ya. Artinya, kecenderungannya malah ada sell off di pasar Indonesia dan balik ke negara mereka,” katanya saat dihubungi, Selasa (3/3/2026).
Data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan per 25 Februari juga mencatat aksi net sell asing di pasar SBN sebesar Rp3,25 triliun sepanjang tahun berjalan 2026.
Fikri menilai, perang yang terjadi berpotensi mendorong sentimen sebesar 5—10% terhadap kondisi pasar obligasi dalam negeri. Artinya, yield acuan berpotensi kembali melemah hingga maksimal 10% atas kondisi yang terjadi.
Dalam riset terbarunya yang bertajuk ”The Impact of the US–Israel vs. Iran War on Indonesia’s Financial Markets”, Fikri memprediksi setidaknya terdapat tiga skenario yang dapat terjadi terhadap pasar keuangan Tanah Air akibat perang.
Baca Juga
- Great Eastern (GEGI) Tetap Masuk SBN Walau Rating Utang RI Turun
- Porsi Kepemilikan BI di SBN Kian Besar, Asing Catat Rekor Terendah
- Kemenkeu: Debt Switch 2026 Tekan Penawaran SBN, Yield Lebih Stabil
Pertama, dalam jangka pendek, pasar keuangan Tanah Air diprediksi akan mengalami peningkatan volatilitas. Kondisi ini diprediksi bakal mendorong yield acuan kian melemah ke level 6,7%.
Fikri menilai, investor global cenderung mengalihkan modal dari pasar negara berkembang ke aset aman saat volatilitas meningkat. Hal itu yang membuat yield obligasi acuan akan turut melemah lantaran dana asing pergi dari emerging market.
Kedua, jika perang tidak tereskalasi lebih lanjut, yield acuan akan kembali bergerak moderat ke level 6,5% dan rupiah akan bergerak menguat pada rentang Rp16.700—Rp17.000. Terakhir, jika perang justru meluas dan meningkatkan ancaman keamanan di seluruh kawasan, yield acuan akan bergerak kian melemah ke level 7,00%.
Hanya saja, Fikri tidak dapat memprediksi seberapa parah aksi net sell asing akan terjadi. Namun, kian parah kondisi geopolitik dinilai bakal semakin mendorong larinya dana asing dari pasar RI.
”Tapi yang perlu juga dilihat adalah jumlah investor asing di Indonesia bisa dikatakan cukup kecil. Jadi mungkin sell off-nya sementara dan mungkin nanti akan ada ruang untuk masuk kembali, sementara menunggu kupon,” katanya.
Imbas Perang AS-IranSenada, Chief Dealer Fixed Income & Derivatives PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) Fudji Rahardjo, menilai eskalasi perang di Iran akan turut memicu larinya dana asing dari pasar Indonesia. Investor, disebut bakal beralih ke aset-aset seperti US Treasury dan emas.
“Penguatan dolar AS yang mengikuti tren ini membuat biaya carry trade aset rupiah menjadi tidak menarik bagi investor asing. Jika deeskalasi konflik tidak segera terjadi, pasar SBN Indonesia berpotensi menghadapi tekanan,” katanya, Selasa (3/3/2026).
Meskipun begitu, dia menilai dampak geopolitik di Iran terhadap pasar obligasi Indonesia akan sangat ditentukan oleh durasi konflik. Jika singkat, sambungnya, transmisi ke inflasi, CDS, dan rupiah masih terkendali, maka Bank Indonesia dinilai tidak perlu menaikkan suku bunga.
Dengan begitu, likuiditas reinvestasi pada semester II/2026 dinilai akan tetap menjadi penyangga dan yield SUN 10 tahun dapat terparkir di level 5,8—6,7%.
Hal serupa terjadi pada obligasi korporasi. Jika konflik berkepanjangan, maka skenario untuk menutupi surat utang jatuh tempo senilai Rp153 triliun pada tahun ini dinilai akan cukup berat.
”Penerbitan dapat turun ke Rp120—Rp150 triliun, di bawah nilai jatuh tempo yang artinya pasar obligasi korporasi diproyeksikan mengalami kontraksi neto,” tambahnya.





