WASHINGTON (Realita)- Pejabat pemerintahan Donald Trump mengatakan kepada staf Kongres dalam pengarahan tertutup bahwa intelijen Amerika Serikat tidak menemukan bukti bahwa Iran sedang bersiap untuk menyerang pasukan Amerika lebih dulu, menurut dua sumber yang mengetahui jalannya diskusi tersebut kepada Reuters, Rabu (4/3/26).
Pengarahan yang berlangsung lebih dari 90 menit itu diikuti oleh staf dari Partai Demokrat dan Partai Republik yang berasal dari komite-komite utama keamanan nasional di Senat dan DPR. Informasi mengenai pengarahan tersebut juga dikonfirmasi oleh juru bicara Gedung Putih, Dylan Johnson.
Baca juga: Trump Sebut Serangan AS ke Iran sebagai Misi Mulia
Meski demikian, para pejabat tetap menegaskan bahwa rudal balistik Iran serta pasukan proksi regionalnya masih menimbulkan apa yang mereka sebut sebagai ancaman yang segera (imminent) terhadap kepentingan Amerika Serikat.
Pengungkapan ini tampak bertentangan dengan pernyataan publik sebelumnya dari pejabat senior yang menyebut bahwa Presiden Trump memerintahkan serangan besar-besaran AS-Israel sebagian karena adanya indikasi Iran mungkin akan bertindak “mungkin secara preemptif.”
Trump sebelumnya menyatakan bahwa ia tidak akan membiarkan pasukan Amerika di Timur Tengah menjadi sasaran serangan.
Baca juga: Berdalih Lindungi Rakyat AS, Trump Resmi Umumkan Serang Iran
Sejumlah anggota Partai Demokrat mengkritik operasi tersebut sebagai “perang pilihan” (war of choice). Mereka juga mempertanyakan klaim Trump — yang disampaikan tanpa bukti — bahwa Iran hampir memiliki kemampuan untuk menyerang Amerika Serikat dengan rudal balistik.
Klaim tersebut, sebagaimana sebelumnya dilaporkan oleh Reuters, tidak didukung oleh penilaian intelijen Amerika Serikat.
Baca juga: AS Berkolaborasi dengan Israel, Serang Iran
Seiring meningkatnya konflik, United States Central Command mengonfirmasi bahwa tiga tentara Amerika tewas dan lima lainnya mengalami luka serius. Sementara itu, militer AS menyatakan telah menyerang lebih dari 1.000 target Iran, termasuk fasilitas rudal bawah tanah, dengan menggunakan pembom B-2.
Di tengah situasi tersebut, jajak pendapat Ipsos bersama Reuters menunjukkan bahwa 27% warga Amerika mendukung serangan tersebut, 43% menolaknya, dan 29% lainnya masih belum menentukan sikap.ese
Editor : Redaksi





