Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menilai maraknya hoaks dan disinformasi di media sosial menjadi penyebab utama masih rendahnya kesadaran terhadap bahaya campak dan pentingnya vaksinasi.
“Banyak hoaks dan DFK (Disinformasi, Fitnah, dan Kebencian) di sosmed,” ujar Budi saat dihubungi kumparan, Rabu (4/3).
Ia menegaskan, dampak hoaks tersebut membuat sebagian orang ragu bahkan menolak vaksin, meski campak merupakan penyakit berbahaya yang dapat dicegah.
“Masih cukup banyak ibu dan ayah yang belum paham bahwa campak bisa mematikan. Dan bisa dicegah dengan vaksin,” kata Budi.
Karena itu, pemerintah menilai upaya penyampaian informasi yang benar kepada masyarakat harus diperkuat dan dilakukan secara luas.
“Edukasi orang tua harus lebih masif,” tegasnya.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan periode 2025–2026, sebanyak 72 anak Indonesia meninggal dunia akibat campak. Penyakit ini disebabkan oleh virus yang sangat mudah menular melalui udara, seperti percikan batuk atau bersin.
Campak tergolong mematikan karena dapat menimbulkan komplikasi berat, seperti gagal napas akibat radang paru-paru, kejang akibat radang otak, serta dehidrasi.
Campak berbahaya karena dapat memicu komplikasi serius, mulai dari gagal napas akibat radang paru-paru, kejang akibat radang otak, hingga dehidrasi berat yang berujung pada kematian.
Campak ini merupakan penyakit infeksi saluran napas yang disebabkan oleh morbillivirus. Satu orang yang sakit bisa menularkan hingga 18 orang.
Penyakit campak bisa jadi sakit berat seperti sesak napas akibat radang, kejang akibat radang otak, dehidrasi akibat diare, kerusakan otak progresif seperti panensefalitis sklerosis subakut hingga kematian. Penyakit campak ini dapat dicegah dengan imunisasi atau vaksin MR.





