Bisnis.com, JAKARTA — Perusahaan minyak asal Arab Saudi, Aramco tengah menjajaki opsi pengalihan pengiriman minyak mentah ke Pelabuhan Yanbu di Laut Merah, di tengah tertutupnya Selat Hormuz yang menyebabkan puluhan kapal tertahan di kawasan Teluk Persia.
Melansir Bloomberg, Rabu (4/3/2026), selama ini, sebagian besar ekspor minyak mentah Aramco dikirim melalui pelabuhan-pelabuhan di Teluk. Namun, konflik yang meluas di Timur Tengah memicu kemacetan kapal tanker sehingga perusahaan minyak terbesar dunia tersebut mempertimbangkan jalur alternatif.
Aramco memiliki jaringan pipa East-West berkapasitas 5 juta barel per hari yang membentang dari ladang minyak di wilayah timur Arab Saudi menuju pesisir barat di Laut Merah. Infrastruktur tersebut memungkinkan pengalihan pasokan dari Teluk Persia ke Yanbu.
Adapun, perusahaan hingga kini belum memberikan tanggapan resmi atas kabar tersebut.
Menurut sumber yang mengetahui pembahasan tersebut, Aramco telah menanyakan kepada sejumlah pelanggan di Asia mengenai kesiapan mereka untuk mengangkat kargo dari Yanbu. Para pengirim (shipper) juga sedang dimintai pandangan apakah bersedia mengalihkan titik muat dari Teluk Persia ke Laut Merah.
Jenis minyak utama yang diminta untuk dimuat dari Yanbu adalah Arab Light, produk andalan Aramco, ujar sumber tersebut.
Baca Juga
- RI Cari Alternatif Impor LPG Usai Kilang Saudi Aramco Diserang
- Aramco Tutup Kilang Minyak Terbesar Imbas Perang Iran vs AS-Israel
- Selat Hormuz Memanas, Puluhan Kapal Tanker Minyak Terjebak di Teluk Persia
Meski menjadi alternatif, Laut Merah juga tidak sepenuhnya bebas risiko. Kelompok militan Houthi di Yaman yang didukung Iran sebelumnya mengancam akan kembali melancarkan serangan terhadap kapal-kapal yang melintas di jalur tersebut.
Kendati belum ada insiden terbaru yang dilaporkan, kekhawatiran keamanan cukup besar hingga membuat sejumlah perusahaan pelayaran global membatalkan rencana kembali beroperasi di rute tersebut.
Arab Saudi memproduksi sekitar 10 juta barel minyak per hari, dengan ekspor terpantau meningkat menjadi sekitar 7,2 juta barel per hari pada bulan lalu. Namun, kapasitas pipa East-West sepanjang 746 mil tersebut dinilai belum cukup untuk menopang seluruh penjualan luar negeri kerajaan.
Meski demikian, jalur tersebut tetap memberi alternatif strategis di tengah eskalasi konflik. Aramco sebelumnya telah terdampak perang yang meluas di Timur Tengah setelah perusahaan terpaksa menutup kilang terbesar di Ras Tanura, Teluk Persia, akibat serangan drone.
Perlambatan lalu lintas maritim juga memicu kekhawatiran tangki penyimpanan di kawasan tersebut akan penuh. Jika kondisi itu terjadi, produksi minyak berisiko harus dipangkas.




