Indeks saham utama Korea Selatan (Korsel), Kospi, anjlok total sekitar 18 persen dalam dua hari perdagangan, menandai kejatuhan terdalam sejak krisis keuangan global 2008. Pada Rabu (4/3) indeks kembali merosot 11 persen setelah sehari sebelumnya jatuh 7,2 persen.
Mengutip Bloomberg pada Rabu (4/3), perdagangan saham di Kospi dan Kosdaq sempat dihentikan selama 20 menit setelah indeks menyentuh ambang batas penurunan 8 persen. Aksi jual tajam dipimpin saham-saham berkapitalisasi besar yang sebelumnya menjadi motor reli, seperti Samsung Electronics, SK Hynix, dan Hyundai Motor.
Koreksi drastis ini terjadi setelah reli panjang yang didorong euforia kecerdasan buatan (AI) dan lonjakan permintaan chip memori global. Pada puncaknya tahun ini, Kospi sempat melonjak hampir 50 persen, menjadikannya salah satu pasar saham dengan kinerja terbaik di dunia.
Namun, lonjakan harga minyak akibat perang Iran dan meningkatnya volatilitas global memicu perubahan drastis sentimen. Sebagai konsumen minyak mentah terbesar kedelapan di dunia, Korea Selatan dinilai rentan terhadap tekanan biaya energi dan pelemahan nilai tukar, yang pada akhirnya membebani prospek korporasi.
"Pergerakan harga terlalu ekstrem sehingga peramalan terasa hampir mustahil, analisis pun tidak banyak membantu," kata Chief Executive Officer Billionfold Asset Management Inc, An Hyungjin.
"Investor ritel tampaknya juga ragu-ragu, penawaran mulai melemah sejak kemarin. Meskipun kami memilih saham-saham berkualitas dan melakukan hedging, ini bukanlah peluang yang jelas," sambungnya.
Tekanan diperparah oleh tingginya transaksi margin. Data menunjukkan utang margin sempat melonjak ke rekor tertinggi sebelum aksi jual terjadi, mencerminkan agresivitas investor ritel dalam memanfaatkan reli pasar.
"Terjadi banyak pembelian secara kredit, terutama saham-saham berkapitalisasi besar, dengan investor hanya menyetor 30%-40% sebagai deposit margin," kata Chief Executive dan Chief Investment Officer Zian Investment Management, Kim Dojoon.
Investor asing tercatat melakukan jual bersih lebih dari 1 triliun won saham Kospi pada perdagangan pagi. Indeks Volatilitas Kospi 200 melonjak ke level tertinggi sejak Maret 2020, menandakan lonjakan kecemasan pelaku pasar.
"Ini lebih terlihat seperti pelonggaran posisi daripada terobosan fundamental khusus Korea," ujar Chief Executive Officer Roundhill Investments, Dave Mazza.
Lebih lanjut, otoritas keuangan Korea Selatan menyatakan kesiapan untuk mengaktifkan dana stabilisasi pasar lebih dari 100 triliun won jika volatilitas berlanjut. Langkah ini pernah digunakan saat krisis kredit Legoland.
Meski mayoritas saham melemah, beberapa sektor justru mencatat penguatan. Saham pertahanan LIG Nex1 naik seiring ekspektasi meningkatnya permintaan di tengah ketidakstabilan global. Saham kilang S-Oil bahkan sempat melonjak hingga 25 persen mengikuti kenaikan harga energi.
"Hal ini dapat menciptakan peluang terpilih untuk membangun posisi di perusahaan dan industri yang saat ini diperdagangkan dengan harga menarik," kata Portfolio manager di Matthews Asia, Park Sojung.




