Jakarta, tvOnenews.com - Mantan Wakil Menteri Luar Negeri RI, Dino Patti Djalal, mengkritik belum adanya pernyataan resmi duka cita dari pemerintah Indonesia atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Seperti diketahui, Ayatollah Ali Khamenei meninggal dunia pada usia 86 tahun setelah rangkaian serangan udara yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel menghantam sejumlah target strategis di Iran pada akhir Februari 2026.
Kabar gugurnya Khamenei pertama kali dikonfirmasi media Iran, Fars News Agency.
"Ali Khamenei telah syahid," ujar media tersebut sambil menjelaskan kematiannya dalam serangan yang mengenai kompleks kediamannya di Teheran saat ia sedang menjalankan tugas.
Pemerintah RI Belum Sampaikan Pernyataan Terbuka
Hingga beberapa hari setelah kabar wafatnya pemimpin tertinggi Iran tersebut beredar, belum terlihat adanya pernyataan belasungkawa secara publik dari Presiden Prabowo Subianto.
Penelusuran pada akun media sosial resmi Presiden, termasuk Instagram dan X, serta kanal YouTube pribadinya, belum menunjukkan unggahan ucapan duka. Hal serupa juga tidak ditemukan pada akun resmi Kementerian Luar Negeri (Kemlu) maupun Kedutaan Besar RI di Teheran.
Sejauh ini, Kemlu RI hanya menyampaikan imbauan kewaspadaan bagi warga negara Indonesia di Iran serta pernyataan keprihatinan atas meningkatnya ketegangan di kawasan Asia Barat. Pemerintah Indonesia juga menyatakan kesiapan untuk mendorong dialog dan membuka ruang mediasi.
Dino Patti Djalal Pertanyakan Sikap PemerintahMelalui akun X miliknya, mantan Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal menyayangkan absennya ungkapan belasungkawa dari pemerintah. Menurutnya, dalam praktik diplomasi internasional, penyampaian belasungkawa atas wafatnya pemimpin negara sahabat merupakan hal yang lazim.
Ia mempertanyakan apakah keputusan tidak menyampaikan pernyataan itu merupakan sikap yang disengaja. Jika memang demikian, Dino menilai perlu ada kejelasan mengenai pertimbangan di balik langkah tersebut.
Diplomat senior yang pernah menjabat sebagai Duta Besar RI untuk Amerika Serikat periode 2010–2013 itu mengingatkan bahwa Indonesia dan Iran memiliki hubungan bilateral yang terjalin baik selama puluhan tahun. Kedua negara juga aktif dalam berbagai forum multilateral.
Dino Patti Djalal menekankan bahwa meskipun Iran memiliki dinamika geopolitik yang kompleks, selama ini hubungan Indonesia–Teheran tetap berjalan tanpa tekanan agar Indonesia ikut dalam konflik pihak tertentu.




