Dua Kapal Feri Terdampar,  Pengelolaan Aset Pemprov NTT Jadi Sorotan

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

KUPANG, KOMPAS - Kejadian terseretnya dua kapal, yakni KMP Pulau Sabu dan KMP Sirung, membuat pengelolaan aset daerah di Nusa Tenggara Timur mendapat sorotan. Pada saat kejadian itu, dua kapal tersebut dalam keadaan rusak sehingga tidak bisa dikendalikan.

Kepala Dinas Perhubungan NTT Mahidin Sibarani, Selasa (4/3/2026), menuturkan, dua kapal tersebut terseret lantaran cuaca buruk. "Ini faktor alam. Angin kencang sekali sehingga tali kapal putus," katanya.

Peristiwa terseretnya dua kapal yang masing-masing memiliki bobot mati lebih dari 1.000 gross tonnage itu terjadi pada Senin (2/3). KMP Pulau Sabu dan KMP Sirung terseret dari Pulau Semau di Kabupaten Kupang ke pesisir Kota Kupang yang terpaut jarak 3 mil laut atau 5,5 kilometer.

Menurut Mahidin, dua kapal itu tidak bisa dikendalikan karena dalam keadaan rusak berat. Ketika kapal terseret, ada nakhoda di atas kapal, tetapi mereka tidak bisa berbuat banyak. "Karena kondisi kapal memang sedang rusak," ujarnya.

Setelah terseret, dua kapal angkut penumpang, barang, serta kendaraan tersebut terdampar di pesisir Kelurahan Alak, Kota Kupang. Kapal kandas di atas pasir dengan dindingnya menghantam batu karang di pesisir pantai.

Dua kapal itu sebelumnya lego jangkar di Pelabuhan Hansisi, Pulau Semau, Kabupaten Kupang. Ketika terjadi angin kencang pada Senin lalu, tali jangkar terlepas sehingga membuat kapal hilang kendali. "Padahal, Pelabuhan Hansisi berada di teluk yang relatif aman dari angin," kata Naldo (40), warga yang menjadi saksi mata kejadian itu.

Baca JugaCuaca Ekstrem, Dua Kapal Feri Terseret Arus hingga Terdampar di Kupang 

Setelah tali jangkar terlepas, dua kapal itu terseret angin dan arus dari arah barat menuju sisi timur laut. Penjaga yang berada di kapal tidak berdaya. Di kapal, tidak ada petugas mesin maupun juru mudi yang bisa mengarahkan kapal.

Kapal terus bergerak hingga kandas di pesisir Kota Kupang yang berjarak lebih kurang 3 mil laut atau 5,5 kilometer dari Pelabuhan Hansisi. Dua kapal itu kemudian menghantam batu karang dan tertanam di pesisir pantai. Beberapa sisi lambung kapal bocor.

Dua kapal tersebut milik Pemerintahan Provinsi NTT. Dalam beberapa bulan terakhir, dua kapal itu tidak berlayar karena alasan operasional. PT Flobamora, perusahaan daerah di bawah Pemprov NTT yang mengelola dua kapal itu, belum memberikan pernyataan resmi.

Sementara itu, sejumlah warga menyoroti kerusakan pada pada dua kapal tersebut. "Harga kapal puluhan miliar dan dibiarkan rusak. Kasihan, buang-buang uang, padahal di mana-mana pemerintah kekurangan anggaran," kata salah seorang warga NTT, Kristo Ndun (40).

Menurut dia, kejadian tersebut menguak buruknya pengelolaan aset daerah. Oleh karena itu, pemerintah daerah pun didorong untuk menata semua aset daerah agar dapat dimanfaatkan untuk kemajuan daerah. Apalagi, kapal sangat dibutuhkan masyarakat NTT yang tinggal di pulau-pulau.

Baca JugaDua Feri Terseret dari Pulau Semau hingga Kota Kupang 
Kapal ASDP tidak beroperasi 

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Stasiun Meteorologi El Tari Kupang mengeluarkan peringatan dini mengenai cuaca buruk. Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat berpotensi terjadi di sepanjang wilayah Pulau Timor dan dapat meluas ke sejumlah wilayah lain. Peringatan dini berlaku hingga dua hari ke depan.

Kepala Stasiun Meteorologi El Tari Kupang Sti Nenot'ek dalam keterangan tertulis menyampaikan, terjadi dinamika atmosfer skala regional yang memengaruhi kondisi cuaca di wilayah NTT. Selain itu, terbentuk dua sistem tekanan rendah di utara Australia yang membentuk bibit Siklon Tropis 93S dan bibit Siklon Tropis 27P.

Akibatnya, kata Sti, terjadi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang dalam durasi singkat di sejumlah wilayah NTT. Kondisi ini dapat menyebabkan bencana hidrometeorologi. Masyarakat diminta waspada.

Harga kapal puluhan miliar dan dibiarkan rusak. Kasihan, buang-buang uang, padahal di mana-mana pemerintah kekurangan anggaran

Serial Artikel

Siasat Bertahan Kala Iklim Berubah

Berbagai siasat dilakukan untuk bertahan di tengah iklim yang berubah. Masyarakat diingatkan agar bergerak lewat berbagai aksi.

Baca Artikel

Stasiun Maritim Tenau Kupang juga mengeluarkan peringatan dini mengenai tinggi gelombang. Tinggi gelombang laut mencapai 4 meter berpeluang terjadi di Laut Sawu, sisi utara Timor, serta selat antara Kupang dan Pulau Rote. Jalur perairan itu merupakan rute pelayaran cukup ramai di NTT.

Selain itu, diperingatkan juga mengenai potensi banjir rob di sejumlah kawasan pesisir. Ini dipicu oleh fenomena fase bulan purnama yang menyebabkan pasang maksimum. Hampir seluruh pesisir di NTT terdampak gelombang pasang tersebut.

Fuad Harman, penanggung jawab operasional PT Angkutan Sungai Danau dan Penyebarangan Cabang Kupang, mengatakan, semua kapal ASDP tidak beroperasi karena cuaca buruk. "Sejak pekan lalu tidak beroperasi," kata Fuad.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sisa-sisa Jaringan Pengedar Sabu Ko Erwin yang Masih Diburu
• 15 jam laludetik.com
thumb
Momen Penuh Emosional dalam Pemakaman Massal 165 Siswi Iran yang Tewas dalam Serangan Israel-AS
• 21 jam laluviva.co.id
thumb
OTT Bupati Pekalongan Fadia Arafiq, KPK Bawa 11 Orang Termasuk Sekda ke Jakarta!
• 20 jam lalusuara.com
thumb
Peredaran Uang Palsu Lintas Provinsi Terdeteksi di Klaten
• 20 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Perindo Ingatkan jika Putusan MK soal Parliamentary Threshol Tak Diakomodir Bisa Buat Produk Hukum Cacat
• 19 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.