Pemerintah Rusia mengecam keras Amerika Serikat yang bersama sekutunya, Israel melancarkan serangan militer terhadap Iran. Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengatakan bahwa perang tersebut justru dapat menyebabkan munculnya kekuatan di Iran yang mendukung untuk memiliki bom nuklir.
Lavrov mengatakan dalam konferensi pers pada hari Selasa (3/3) waktu setempat, bahwa konsekuensi logis dari tindakan AS dan Israel adalah bahwa "kekuatan akan muncul di Iran... yang mendukung untuk melakukan persis apa yang ingin dihindari Amerika - memperoleh bom nuklir".
"Karena AS tidak menyerang mereka yang memiliki bom nuklir," kata Lavrov, dilansir media Al-Jazeera, Rabu (4/3/2026).
Lavrov juga mengatakan bahwa negara-negara Arab sekarang dapat bergabung dalam perlombaan untuk memperoleh senjata nuklir, mengingat pengalaman beberapa hari terakhir dan "masalah proliferasi nuklir akan mulai lepas kendali".
Israel secara luas dipandang sebagai satu-satunya negara bersenjata nuklir di kawasan Timur Tengah, yang tidak dikonfirmasi maupun disangkalnya.
Lavrov mengatakan bahwa tujuan memulai perang guna mencegah proliferasi senjata nuklir, justru dapat memicu tren yang sepenuhnya berlawanan.
Lavrov telah berbicara dengan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, pada hari Selasa (3/3), dan mengatakan bahwa Rusia siap membantu menemukan solusi diplomatik untuk konflik tersebut.
Saat AS dan Israel melancarkan serangan pertama mereka ke Iran pada hari Sabtu lalu, Kementerian Luar Negeri Rusia menuduh kedua negara itu melakukan "tindakan agresi bersenjata yang direncanakan dan tanpa provokasi terhadap negara anggota PBB yang berdaulat dan independen".
(ita/ita)





