JAKARTA (Realita)– Presiden Prabowo Subianto mengundang para mantan presiden dan wakil presiden dalam sebuah pertemuan di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa malam, 3 Maret 2026. Pertemuan itu digelar di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global menyusul eskalasi konflik Amerika Serikat–Israel dan Iran pada akhir Februari lalu.
Sejumlah tokoh hadir dalam pertemuan tersebut, antara lain Presiden ke-7 Joko Widodo, Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla, serta Wakil Presiden ke-11 Boediono dan Wakil Presiden ke-13 Ma’ruf Amin.
Baca juga: Ketua BEM UGM Ajak Debat Prabowo, Pengamat: Cari Sensasi Politik
Turut hadir para mantan Menteri Luar Negeri, ketua umum partai politik, dan jajaran Kabinet Merah Putih.
Ketua Umum Relawan Jokowi (ReJO) for Prabowo-Gibran, Darmizal, menilai langkah Prabowo mengumpulkan para pendahulunya sebagai respons atas situasi global yang dinilai kian tidak menentu.
“Dunia sedang memanas. Eskalasi konflik Amerika Serikat–Israel dan Iran mengguncang tatanan geopolitik global. Harga energi bergejolak, stabilitas kawasan terancam. Indonesia sebagai negara besar tidak bisa tinggal diam,” kata Darmizal dalam keterangan tertulisnya, Rabu, 4 Maret 2026.
Menurut dia, pertemuan tersebut penting untuk merumuskan langkah mitigasi yang tepat bagi Indonesia. Ia menyebut Prabowo, yang baru kembali dari kunjungan kenegaraan selama sebelas hari ke Amerika Serikat dan Timur Tengah, memilih untuk mendengar masukan dari para pemimpin terdahulu.
Baca juga: Pertanyakan Rasa Kemanusiaan, Keputusan Bergabung Board of Peace oleh Prabowo Disorot
“Beliau tidak memilih jalan sendiri. Beliau memilih mendengar, menimba pengalaman para pendahulu, dan menyerap kebijaksanaan lintas generasi untuk merumuskan langkah terbaik,” ujar Darmizal.
Darmizal juga menyoroti simbol kebersamaan dalam pertemuan itu, termasuk posisi duduk Prabowo yang diapit Jokowi dan SBY. Ia menyebut pertemuan tersebut sebagai bentuk konsolidasi nasional di tengah tekanan eksternal.
Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri tidak hadir karena agenda internal partai di Bali. Namun, Ketua DPR RI Puan Maharani disebut mewakili kehadirannya. “Pesan persatuan tetap tersampaikan. Semua elemen bangsa hadir, baik secara langsung maupun melalui representasi,” kata Darmizal.
Baca juga: Prabowo Temui Susno Duaji dan Siti Zuhro, Bahas Apa?
Ia menilai pertemuan di Istana Merdeka itu mencerminkan kesinambungan kepemimpinan nasional yang tidak terputus oleh periode jabatan. “Di saat dunia bergejolak, Indonesia justru menunjukkan kematangan, di mana pemimpin masa kini dan masa lalu duduk bersama untuk saling menguatkan,” ujarnya.
Darmizal berharap semangat persatuan dan dialog lintas kepemimpinan tersebut terus dijaga dalam menghadapi dinamika global yang berkembang.yudhi
Editor : Redaksi





