Di lorong-lorong Pasar Beringharjo, Yogyakarta, sekitar 197 buruh gendong perempuan lanjut usia setiap hari bekerja mengangkut barang belanjaan pengunjung dan pedagang. Rata-rata mereka memperoleh pendapatan harian antara Rp30.000 hingga Rp50.000.
Salah satu di antaranya adalah Giyah, 81 tahun, yang mulai bekerja sebagai buruh gendong sejak usia 30 tahun. Sejak muda, pilihan hidupnya tak banyak. Ia tak pernah merasakan bangku sekolah.
“Dari muda sampai tua, kan enggak boleh sekolah. Orang tua dulu enggak punya enggak boleh sekolah,” ujarnya kepada tim Pandangan Jogja, Selasa (16/2).
Selama puluhan tahun bekerja, kemampuan fisik Giyah berubah seiring usia. Pada masa muda, ia sanggup memikul beban hingga satu kuintal. Kini, beban yang mampu diangkatnya tak lagi sebanyak dulu.
“Kalau dulu-dulu awal-awal masih muda itu satu kuintal kuat. Tapi kalau sekarang paling enggak 25 itu sudah menggeh-menggeh. 25 naik kalau naik aku sudah enggak mau tapi kalau kalau turun masih mau,” kata Giyah.
Buruh gendong lain, Isah, menyebut berat beban yang dipikul bisa mencapai 60–70 kilogram. “60 kilo. 60 sampai 70” kata Isah, Selasa (16/2).
“Rata-rata itu Rp30.000–Rp40.000 per hari. Ongkos PP-nya Rp20.000. Berarti Rp30.000–Rp40.000 itu sudah bersih,” tambahnya
Pendapatan yang diperoleh dipakai untuk kebutuhan sehari-hari dan keluarga. Giyah masih menanggung dua cucu yang bersekolah.
“Kan saya di rumah masih ada cucu dua masih sekolah,” Giyah mengingat rincian pengeluarannya
“Cucu dua itu itu, jatahnya yang satu Rp5.000, Rp5.000. Jadi Rp10.000 untuk jatah. Yang Rp20.000 untuk PP, nganu apa pulang pergi toh. Ya untuk lain-lain lah, untuk makan, untuk kalau tetangga ada hajatan ya bisa untuk nyumbang-nyumbang gitu,” jelasnya.
Kondisi fisik menjadi tantangan tersendiri. Ia mengaku sering merasakan nyeri pada lututnya. “Iya capek-capek. Saya kalau sekarang kan sudah tua to, yang saya rasakan dengkul ini loh. Dengkul ini mesti linu-linu gitu,” ujarnya.
Meski merasakan lelah dan nyeri di lututnya, ia memilih tetap bekerja karena tidak ingin hanya berdiam di rumah; baginya, suasana pasar dan pertemuan dengan sesama buruh maupun pedagang menjadi bagian dari rutinitas yang dijalani setiap hari.
“Ya belum. Kalau berhenti nanti ndak malah stroke. Kan cuma di rumah enggak ada temannya kalau di pasar kan banyak teman. Dapat uang banyak enggak apa-apa,” ungkap Giyah
Cerita Mbah Giyah merupakan satu dari ratusan buruh gendong yang tetap bekerja di tengah keterbatasan ekonomi. Di tengah kondisi tersebut, menjelang Idulfitri, hadir ikhtiar kecil untuk meringankan beban mereka. Dompet Dhuafa membuka donasi program Parcel Pejuang Keluarga yang menyasar loper koran, porter stasiun, buruh gendong pasar, termasuk di Pasar Beringharjo
Donasi masih dibuka dan dapat disalurkan melalui rekening BSI 1888899995 dengan kode donasi 004 (contoh: 200.004). Informasi lebih lanjut dapat menghubungi +62 812-1573-9066.
Menjelang Lebaran, bantuan tersebut direncanakan disalurkan kepada buruh pasar, loper koran, hingga porter stasiun.
“Alhamdulillah kalau ada yang bantu-bantu si mbah suka sekali,” kata Giyah.





