Fahmy Radhi pengamat ekonomi energi Universitas Gajah Mada (UGM) menyebut, Pemerintah tengah dilanda dilema antara menaikkan atau menahan harga minyak, imbas konflik Iran dan Amerika Serikat-Israel yang memicu lonjakan harga minyak dunia.
Menurutnya, kedua pilihan tersebut memiliki dampak terhadap ekonomi. Mulai dari peningkatan beban fiskal hingga risiko inflasi.
“Kalau tidak dinaikkan BBM, tetap seperti sekarang Rp10.000 untuk Pertalite itu akan menjadi beban bagi APBN. Fiskal kita barangkali rasanya tidak kuat. Tapi, kalau pilihannya menaikkanz ini juga akan menimbulkan masalah. Pasti akan memicu inflasi,” kata Fahmy kepada suarasurabaya.net, Rabu (4/3/2026).
Menaikkan harga BBM, lanjutnya, bakal menaikkan harga-harga kebutuhan pokok, dan yang paling terdampak adalah masyarakat miskin. Sedangkan kalau Pemerintah tidak menaikkan harga BBM, akan menambah beban fiskal.
Fahmy menyarankan Pemerintah mengalihkan anggaran program strategis seperti MBG untuk mensubsidi BBM dan menjaga stabilitas kondisi ekonomi, jika Pemerintah memilih tidak menaikkan harga minyak.
“Misalnya solar dinaikkan, solar itu digunakan untuk truk pengangkut kebutuhan pokok. Kalau solarnya mahal, maka harga-harga kebutuhan pokok akan jadi mahal dan yang harus berkorban lebih dulu adalah rakyat miskin, yang bahkan dia tidak punya kendaraan bermotor,” paparnya.
Lebih lanjut, Fahmy menyebut ada dua skema menaikkan harga BBM untuk meringankan beban fiskal.
“Pilihannya secara teoritis, ada kenaikan proposional. Misalnya kenaikan harga minyak dunia 20 persen, maka kenaikannya 20 persen. Tapiz bisa juga pilihan yang kedua, tujuannya mengurangi beban fiskal. Jadi menaikkannya itu tidak proporsional, tetapi seperlunya. Misalnya tadi harga minyak naik 20 persen. Tapi menaikkan 10 persen. Sehingga, harganya tidak terlalu mahal, tapi beban APBN juga tidak terlalu tinggi,” kata Fahmy.
Sebelumnya, PT Pertamina (Persero) menyatakan belum ada rencana menaikkan harga BBM, di tengah meningkatnya harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Bloomberg mencatat harga minyak acuan Amerika Serikat West Texas Intermediate (WTI) berada di atas US$ 71 per barel, setelah melonjak lebih dari 6 persen pada perdagangan sebelumnya. Sementara harga minyak Brent ditutup mendekati 78 Dollar AS per barel.(lea/rid)




