Umat Islam membaca Al Quran di Masjid Luar Batang, Penjaringan, Jakarta Utara, Rabu (4/3). Masjid yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya ini dibangun pada 1739 oleh ulama keturunan Arab, Habib Husein bin Abubakar Alaydrus. Hingga kini, masjid tersebut menjadi salah satu destinasi wisata religi yang ramai dikunjungi warga Jakarta, maupun peziarah dari luar daerah.
Masjid Luar Batang dikenal luas, karena keberadaan makam Habib Husein yang berada di dalam area masjid. Menurut riwayat, Habib Husein hijrah dari Hadhramaut, Yaman, dan menetap di kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa.
Ia berdakwah di pesisir utara Jawa sebelum wafat pada akhir abad ke-18. Makamnya diyakini memiliki kisah tersendiri yang kemudian membuatnya dihormati dan diziarahi banyak orang.
Asal-usul nama “Luar Batang” memiliki beberapa versi. Kisah populer menyebut jenazah Habib Husein sempat raib dari keranda (kurung batang), sehingga akhirnya dimakamkan di rumahnya, yang kemudian dikenal sebagai Luar Batang.
Seiring waktu, Kampung Luar Batang berkembang menjadi salah satu permukiman tertua di Jakarta, bermula dari rawa-rawa yang kemudian dihuni para pekerja dan awak perahu di sekitar Pelabuhan Sunda Kelapa.
Meski pernah dikenal sebagai kawasan padat dan kumuh, Masjid Luar Batang tetap menjadi pusat aktivitas keagamaan dan ziarah, bahkan menarik perhatian peziarah dari berbagai daerah hingga mancanegara. Hingga kini, kawasan tersebut masih menjadi bagian penting dari jejak sejarah pesisir Jakarta.





