Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, Indonesia akan membangun fasilitas penyimpanan minyak yang mampu menjaga pasokan energi hingga tiga bulan.
Pemerintah menargetkan pembangunan fasilitas tersebut mulai dilakukan tahun ini di Pulau Sumatra.
Bahlil mengatakan, ketahanan hari operasi (HOP) hingga tiga bulan tersebut merupakan standar internasional.
Saat ini, kapasitas penyimpanan minyak dalam negeri baru mampu menampung pasokan maksimal 26 hari.
"Faktanya ketahanan energi kita, storage kita itu maksimal di angka 25 sampai 26 hari, enggak lebih dari itu."
"FS (feasibility study) lagi berjalan, dan di tahun ini pembangunannya sudah mulai dilakukan."
"Lokasinya di daerah Sumatra," ujar Bahlil di Jakarta, Selasa (3/3/2026).
Menurut Bahlil, keterbatasan kapasitas penyimpanan tersebut menjadi tantangan ketika Indonesia ingin memperkuat ketahanan energi nasional.
Kondisi ini semakin krusial di tengah ketegangan geopolitik global, khususnya konflik di Timur Tengah, yang berpotensi mengganggu suplai energi ke Indonesia.
Sebagai perbandingan, negara anggota International Energy Agency (IEA) memiliki standar cadangan HOP sekitar 90 hari.
Sedangkan negara-negara OECD rata-rata memiliki cadangan energi antara 90 hingga 120 hari.
"Kita sekarang mau bangun storage untuk minimal 3 bulan."
"Kalau kita impor sebanyak itu, kita mau taruh di mana?"
"Itu kira-kira problem kita."
"Dan ini terjadi bukan, kita tidak usah menyalahkan siapa-siapa, memang faktanya begitu negara kita, dan kita harus perbaiki, kan gitu," tuturnya.
Rencana pembangunan fasilitas penyimpanan minyak ini sebenarnya telah disampaikan Bahlil sejak awal 2025.
Pembangunan cadangan energi tersebut merupakan bagian dari implementasi Peraturan Presiden Nomor 96 Tahun 2024 tentang Cadangan Penyangga Energi (CPE).
"Kalau untuk storage, untuk penyimpanan, itu di Pulau Nipa," bebernya di Jakarta, Senin (3/2/2025).
Sementara, Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (Pushep) menilai, rencana pembangunan storage energi tersebut merupakan langkah yang positif, terutama dengan target ketahanan hingga tiga bulan.
Sebab, Indonesia saat ini belum memiliki cadangan strategis energi nasional.
"Saat ini sebenarnya kita enggak punya cadangan strategis untuk energi."
"Yang ada hanya cadangan BBM milik Pertamina yang sifatnya komersial, itu pun hanya mampu bertahan (berkisar) 22 hari," ucapnya kepada Warta Ekonomi, Rabu (4/3/2026).
Ia menjelaskan, Cadangan Penyangga Energi (CPE) merupakan cadangan strategis energi, yang disiapkan untuk menjaga ketersediaan pasokan ketika terjadi gangguan distribusi, krisis energi global, atau lonjakan permintaan domestik.
Baca Juga: Ketahanan Energi Terancam Geopolitik, Bahlil Targetkan RI Punya Stok Minyak 3 Bulan
Karena itu, kebutuhan fasilitas penyimpanan untuk cadangan strategis dinilai sangat mendesak, guna memperkuat ketahanan energi nasional.
"Upaya tersebut juga bisa menjadi bagian dari penguatan sistem ketahanan energi nasional, yang selama ini masih sangat rentan akibat ketergantungan pada impor minyak, termasuk juga LPG," imbuhnya. (*)





