Cerita Turis Terjebak di Bali Akibat Perang Timteng: 5 Kali Bolak-balik Bandara

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai mencatat sebanyak 5.905 calon penumpang batal terbang sejak 28 Februari hingga 4 Maret 2026 akibat penutupan sejumlah bandara di Timur Tengah (Timteng).

Sejumlah bandara di Timur Tengah ditutup imbas perang AS–Israel ke Iran. Selain itu, sebanyak 35 penerbangan batal terbang dari Doha, Dubai, dan Abu Dhabi menuju Denpasar, serta sebaliknya akibat konflik ini.

Pantauan kumparan di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, pada Rabu (4/3), sejak pukul 16.00 WITA hingga pukul 19.00 WITA, tidak terlihat tumpukan penumpang akibat pembatalan penerbangan.

Namun, puluhan penumpang, sebagian WNA atau turis asing, tampak antre di meja bantuan informasi maskapai Qatar Airways, Etihad Airways, dan Emirates mencari informasi penerbangan kembali ke negara asal atau melanjutkan perjalanan wisata. Wajah mereka tampak lelah dan bingung dalam garis antrean.

Salah satu di antaranya adalah turis asing asal Prancis bernama Jordan (laki-laki, 28 tahun). Dia sudah antre lebih dari dua jam di layanan bantuan maskapai Emirates namun belum berhasil mendapatkan informasi.

"Ini sangat sulit. Saya sudah empat kali bolak-balik bandara mencari kapan saya bisa kembali ke negara saya," katanya kepada kumparan.

Jordan seharusnya terbang dari Denpasar, transit di Dubai, kemudian ke Prancis pada Sabtu (28/2) lalu. Namun, dia terpaksa memperpanjang masa liburan karena pembatalan penerbangan.

Jordan berharap apabila penerbangan tak kunjung dibuka, pihak maskapai bisa membantunya mencari penerbangan alternatif melalui rute lain. Jordan berharap paling lama bisa kembali ke Prancis pekan depan.

"Awalnya saya liburan hanya tiga minggu, sekarang harus lebih dari tiga minggu dan saya belum tahu kapan bisa terbang dan bertanya apakah ada alternatif penerbangan yang lebih mahal untuk kembali," katanya.

Terkait masalah izin tinggal dan biaya hidup, Jordan mengaku masih bisa diatasi. Dia sudah mengetahui Imigrasi memperpanjang masa tinggal darurat selama 30 hari dengan biaya gratis bagi penumpang terdampak.

"Katanya kalau menunjukkan tiket pembatalan bisa diperpanjang Imigrasi gratis karena dampak perang selama sebulan. Sangat sulit karena kita harus datang ke sini (bandara) mencari informasi," katanya.

5 Kali Bolak-balik Bandara

Senada dengan Jordan, turis lansia asal Belanda bernama Marion Wessel (perempuan, 70 tahun), sudah lima kali bersama suaminya bolak-balik ke Bandara Ngurah Rai dari tempatnya menginap untuk mencari informasi penerbangan pulang ke kampung halamannya.

"Lima kali (sudah bolak-balik). Kami kesal (begitu mendapatkan informasi penerbangan batal), karena kami ingin pulang," katanya.

Marion semakin kesal karena tidak ada informasi pasti, baik dari maskapai, asuransi, maupun pemerintah, tentang kapan penerbangan ke Timur Tengah akan kembali dibuka. Dia harus mengecek secara mandiri ke bandara dan memperpanjang visa secara mandiri ke Imigrasi.

"Kami tidak tahu kapan bisa pulang. Karena Emirates tidak memberi tahu kami dan dari Belanda kami bahkan tidak mendapat berita sama sekali. Kami harus menelepon, mengeluarkan banyak biaya untuk menelepon ke rumah, tapi kami tidak tahu. Tidak ada yang mengatakan apa pun," katanya.

"Saya berharap bisa terbang malam ini untuk pulang. Karena liburan sudah selesai, jadi kami ingin pulang. Kami sudah membayar banyak uang untuk tiketnya dan tidak ada yang memberi tahu kami apa pun, jadi itu tidak baik," sambungnya.

Marion seharusnya berangkat dari Denpasar menuju Belanda dengan transit di Dubai pada Sabtu (28/2) lalu. Akibat pembatalan ini, Marion mengalami kerugian hingga ribuan Euro. Dia berharap perang segera berakhir demi keamanan, keselamatan, dan hak hidup manusia.

"Jadi, tentu saja, itu harus dihentikan. Sangat menyedihkan bagi orang-orang di sana. Tapi itu pertanyaan lain ya. Jadi, ya, tentu saja, itu harus dihentikan. Ya, itu tidak baik di sana. Tidak sama sekali," katanya.

Ratusan Turis Ajukan Izin Tinggal Keadaan Terpaksa

Merespons pembatalan penerbangan ini, Imigrasi memberikan layanan Izin Tinggal Keadaan Terpaksa (ITKT) serta kebijakan tarif Rp 0 untuk overstay bagi WNA yang terdampak.

Penerbitan ITKT ini berdasarkan pada Surat Edaran Direktorat Jenderal Imigrasi nomor IMI-590.GR.01.01 tahun 2025.

Adapun persyaratan yang wajib dibawa oleh WNA saat mengajukan layanan ITKT adalah paspor asli, surat keterangan pembatalan penerbangan dari pihak maskapai, dan bukti tiket penerbangan yang telah dibatalkan.

Berdasarkan catatan Imigrasi, sejak 2 Maret hingga 4 Maret 2026 ada sebanyak 180 WNA yang mengajukan ITKT. Sebagian besar berasal dari Jerman, Inggris, dan Rusia.

"Kami menjamin proses penerbitan ITKT ini akan selesai pada hari yang sama (same-day service). Petugas kami sudah disiagakan untuk melayani kondisi darurat ini agar WNA tidak perlu khawatir dengan status keimigrasian mereka selama menunggu jadwal penerbangan baru," kata Kepala Kantor Imigrasi Ngurah Rai, Bugie Kurniawan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Undangan Istimewa Prabowo untuk Eks Presiden, Wapres hingga Ketum Parpol
• 13 jam laludetik.com
thumb
Marak Penagihan Intimidatif, OJK: Tindakan Debt Collector jadi Tanggung Jawab Leasing
• 7 jam lalubisnis.com
thumb
Iseng Bikin Lomba Ngaji Hadiah Umrah, Dinar Candy Syok Pesertanya Sampai Ribuan
• 20 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Mojtaba Khamenei Terpilih Jadi Pemimpin Tertinggi Baru Iran?
• 16 jam laluokezone.com
thumb
KPK Bongkar Modus Kasus Korupsi Bupati Pekalongan
• 4 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.